Tembok Besar China Tak Seluruhnya Dibangun untuk Alasan Militer

Kompas.com - 11/06/2020, 10:03 WIB
Tembok Besar China shutterstock.comTembok Besar China


KOMPAS.com- Selama ini lebih banyak orang yang mengetahui jika Tembok Besar China dibangun untuk sebagai benteng pertahanan semata saja.

Namun sebuah studi baru berhasil mengungkapkan jika bagian dari bangunan cagar budaya dunia ini juga diperuntukkan untuk tujuan lain.

Melansir Phys, Rabu (10/6/2020), bagian utara Tembok Besar China (Northen Line) ternyata berfungsi untuk memantau pergerakan orang-orang.

Hal ini terkuak setelah arkeolog dari Hebrew University, Yerusalem melakukan pemetaan bagian utara tembok sepanjang 740 kilometer untuk pertama kalinya.

Baca juga: Robot Penjelajah China tampilkan Pemandangan dari Sisi Jauh Bulan

Sebelum penelitian ini, kata Gideon Shelach-Lavi, salah satu peneliti yang terlibat dalam studi ini, kebanyakan orang mengira fungsi tembok itu adalah untuk menghentikan pasukan Jenghis Khan. 

"Tak banyak pula ilmuwan yang tertarik pada Northen Line ini," kata dia.

Tembok Besar ChinaShutterstock Tembok Besar China

Sisi utara tembok yang sebagian besar terletak di Mongolia ini berkelok-kelok melalui lembah, tingginya relatif rendah dan dekat dengan jalan setapak.

Baca juga: Ahli Virus China: Evolusi Corona SARS Telah Beradaptasi dengan Inang Manusia

Dalam studi ini para arkeolog menggunakan drone, gambar satelit resolusi tinggi, serta alat arkeologi tradisional untuk memetakan dinding tersebut.

Selain itu, melalui pemetaan tersebut peneliti dapat menemukan artefak yang membantu dalam menentukan penanggalan.

Selanjutnya, peneliti melakukan serangkaian pengamatan dan menemukan jika tembok tersebut menunjuk pada fungsi-fungsi non militer.

Pengunjung mengenakan masker untuk menghindari tertular Covid-19, saat mengunjungi Tembok Besar China, di Beijing, 18 April 2020. Setelah sempat menjalani masa karantina akibat penyebaran Covid-19, jutaan orang di China kembali turun ke jalan dan mengunjungi kawasan wisata yang kembali dibuka.AFP/WANG ZHAO Pengunjung mengenakan masker untuk menghindari tertular Covid-19, saat mengunjungi Tembok Besar China, di Beijing, 18 April 2020. Setelah sempat menjalani masa karantina akibat penyebaran Covid-19, jutaan orang di China kembali turun ke jalan dan mengunjungi kawasan wisata yang kembali dibuka.

"Kesimpulan kami, tembok lebih berperan sebagai tempat pemantauan atau memblokir pergerakan orang dan ternak, seperti misalnya mengenakan pajak pada mereka," terang Shelach-Lavi.

Tembok Besar China terbagi menjadi beberapa bagian yang secara total membentang sejauh ribuan kilometer.

Studi ini dilakukan selama dua tahun dan telah dipublikasikan di jurnal Antiquity.

Baca juga: Berukuran 500 Meter, Teleskop Raksasa Pemburu Alien China Resmi Beroperasi

Adapun tembok mulai dibangun pada abad ketiga sebelum Masehi dan berlanjut selama berabad-abad.

Selain Tembok Besar China, tembok bagian utara terdapat Tembok Jenghis Khan yang dibangun antara abad ke-11 dan ke-13 dengan menggunakan tanah yang ditumbuh serta dihiasi dengan 72 struktur pada setiap bagian.



Sumber PHYSORG
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X