Psikologi Jelaskan Penyebab Masyarakat Tak Patuh Protokol Corona Covid-19

Kompas.com - 03/06/2020, 13:04 WIB
Sejumlah wisatawan memadati kawasan wisata Pantai Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (26/5/2020). Tempat wisata tersebut terlihat dipadati wisatawan meski penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Tangerang Raya masih berlangsung. ANTARA FOTO/FAUZANSejumlah wisatawan memadati kawasan wisata Pantai Tanjung Pasir, Kabupaten Tangerang, Banten, Selasa (26/5/2020). Tempat wisata tersebut terlihat dipadati wisatawan meski penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Tangerang Raya masih berlangsung.

Oleh: Anastasia Heni

TAGAR #IndonesiaTerserah belakangan sering muncul dalam perbincangan publik di media sosial sebagai sarana penyaluran rasa frustrasi dan kekecewaan masyarakat terhadap penanganan wabah COVID-19 di Indonesia.

Pengguna sosial menyertakan tagar ini dalam menggambarkan ketidakpedulian masyarakat terhadap upaya pembatasan jarak dan kebijakan dari pemerintah yang tidak konsisten dalam penanganan pandemi.

Berbagai bentuk tindakan berisiko masyarakat banyak diberitakan seperti kumpul-kumpul di penutupan gerai McDonald’s di Jakarta, penumpang pesawat membludak hingga pasien COVID-19 yang menolak dirawat bahkan berusaha kabur dari rumah sakit.

Sementara laju jumlah kasus positif terus meningkat dan kematian tenaga medis yang tinggi.

Ini terjadi di atas kebijakan-kebijakan pemerintah yang meragukan, bahkan tidak konsisten.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ilmu psikologi sosial kesehatan menjelaskan bahwa ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan sebagian besar terjadi karena kurangnya pemahaman mereka terhadap bahaya penyakit dan manfaat penanganan dan besarnya hambatan dalam akses kesehatan. Pemerintah punya andil besar di sini.

Landasan perilaku

Ahli-ahli psikologi sosial telah mengembangkan bermacam model untuk menjelaskan dan memperkirakan perilaku-perilaku terkait kesehatan, terutama dalam menggunakan sarana kesehatan.

Pada 1950-an, beberapa psikolog sosial di Amerika Serikat (AS) mulai mengembangkan Health Belief Model (HBM) yang masih digunakan secara luas dalam riset perilaku kesehatan hingga kini.

HBM dapat dilihat sebagai perpaduan pendekatan filosofis, medis, dan psikologis untuk menjelaskan kepatuhan atau ketidakpatuhan masyarakat dalam melakukan upaya kesehatan.

Model ini dikembangkan untuk mengeksplorasi berbagai perilaku kesehatan baik jangka panjang maupun jangka pendek.

HBM terdiri atas enam komponen:

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X