Kepunahan Massal Satwa Liar di Bumi Semakin Cepat, Kok Bisa?

Kompas.com - 02/06/2020, 18:31 WIB
Badak putih menjadi salah satu spesies yang terancam punah. Ilmuwan gunakan teknologi bayi tabung untuk menyelamatkan spesies ini dari kepunahan di masa depan. WIKIMEDIA COMMONS/Derek KeatsBadak putih menjadi salah satu spesies yang terancam punah. Ilmuwan gunakan teknologi bayi tabung untuk menyelamatkan spesies ini dari kepunahan di masa depan.


KOMPAS.com - Sebuah analisis dari studi baru menunjukkan kepunahan massal satwa liar di Bumi berlangsung semakin cepat.

Ilmuwan memperingatkan ini kemungkinan menjadi sinyal titik kritis bagi runtuhnya peradaban.

Melansirs The Guardian, Selasa (2/6/2020), lebih dari 500 spesies hewan darat ditemukan berada di ambang kepunahan dan kemungkinan akan hilang dalam 20 tahun mendatang.

Sebagai perbandingan, jumlah spesies yang sama telah hilang selama sepanjang abad terakhir. Hilangnya spesies tersebut tanpa adanya perusakan alam oleh manusia.

Bahkan, menurut ilmuwan, tingkat kepunahan ini akan memakan waktu selama ribuan tahun.

Baca juga: Setelah 150 Tahun, Kupu-kupu Inggris ini Kembali dari Kepunahan

Hewan vertebrata di darat di ambang kepunahan dengan kurang dari 1.000 orang tersisa, termasuk di antaranya badak Sumatera, rusa Clarion, kura-kura raksasa Espanola dan katak harleguin.

Data historis yang tersedia untuk 77 spesies dan para ilmuwan menemukan spesies ini telah kehilangan 94 persen populasi mereka.

Para peneliti juga memperingatkan efek domino dari hilangnya satu spesies lain. Mereka mengatakan kepunahan menimbulkan masalah pada lingkungan dan itu tidak dapat dipulihkan.

Harapan, Badak sumatera jantan saat berada di sekitar kandangnya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Provinsi Lampung, Senin (20/3/2017). Kepulangan badak Harapan dari Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati, Amerika Serikat tahun 2015, ke habitat aslinya di Sumatera, Indonesia, ini diharapkan dapat memberikan kelestarian dan upaya sukses konservasi badak sumatera.KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNG Harapan, Badak sumatera jantan saat berada di sekitar kandangnya di Taman Nasional Way Kambas (TNWK), Lampung Timur, Provinsi Lampung, Senin (20/3/2017). Kepulangan badak Harapan dari Kebun Binatang dan Taman Botani Cincinnati, Amerika Serikat tahun 2015, ke habitat aslinya di Sumatera, Indonesia, ini diharapkan dapat memberikan kelestarian dan upaya sukses konservasi badak sumatera.

Baca juga: Badak Sumatera Terancam Punah, Ini Faktor Penyebabnya

Di sisi lain, kata para ilmuwan, umat manusia bergantung pada keanekaragaman hayati untuk kesehatan dan kesejahteraan.

Pandemi virus corona yang kini mewabah di seluruh dunia adalah contoh ekstrem dari bahaya merusak alam.

Populasi manusia yang meningkat, perusakan habitat, perdagangan satwa liar, polusi dan krisis iklim harus segera ditangani.

"Ketika umat manusia memusnahkan mahluk lain, ia menggerogoti anggota badannya, menghancurkan bagian kerja dari sistem pendukung kehidupan kita sendiri," kata Prof Paul Ehrlich, dari Universitas Stanford di AS, dan salah satu tim peneliti.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X