Heboh Fenomena Muncul Banyak Pelangi di Hari Raya, Ini Kata BMKG

Kompas.com - 26/05/2020, 10:01 WIB
Ilustrasi pelangi SHUTTERSTOCK/MIKE MAREENIlustrasi pelangi

KOMPAS.com - Belakangan masyarakat dihebohkan dengan kemunculan pelangi di beberapa tempat dan bertepatan dengan Hari Raya Idul Fitri.

Sebagian besar kemunculan pelangi ini terjadi di daerah Jawa Barat, yakni Bogor dan Bekasi.

Masyarakat pun berlomba-lomba mengabadikan fenomena alam tersebut dan membagikannya ke sosial media. Tak terkecuali oleh keluarga Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Melalui akun instagramnya, Siti Ruby Aliya Rajasa, istri Edhie Bhaskoro Yudhyono (Ibas) membagikan foto momen Lebaran keluarga SBY dengan latar belakang pelangi.

Lalu apa kata Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) soal fenomena kemunculan pelangi ini?

Baca juga: BMKG Deteksi Siklon Tropis Mangga, Waspada Dampak Cuaca Ekstrem

Kepala Sub Bidang Produksi Informasi Iklim dan Kualitas Udara BMKG Siswanto mengatakan, kemunculan pelangi tersebut merupakan hal yang wajar secara meteorologis. Kemunculannya juga umum terjadi di banyak tempat.

Menurutnya, asalkan ada hujan atau sehabis hujan, dan ada sinar matahari yang tidak tertutup awan atau bisa menembus celah-celah awan, maka pelangi dapat muncul.

"Ini bisa terjadi di musim hujan, musim kemarau, ataupun peralihan musim antar keduanya," ujarnya ketika dihubungi Kompas.com, Senin (25/5/2020).

Siswanto menjelaskan, pelangi terbentuk apabila sinar matahari mengalami pembelokkan cahaya atau pembiasan ketika melewati perbedaan medium rambat yaitu udara dan titik-titik air hujan yang ada di atmosfer.

"Ketika sinar matahari mengenai titik-titik air hujan, cahaya dibelokkan sedemikian rupa sehingga memancarkan sprektrum warna-warna yang terpisah daripada cahaya," jelasnya.

Baca juga: Punya Daya Pikat Tubuh Berwarna Pelangi, Ini Rahasia Laba-laba Merak

Pelangi hanya dapat dilihat pada saat hujan dan disertai cahaya matahari, bahkan posisi orang yang melihat atau pengamat, juga menentukan.

Di mana antara hujan dan sinar matahari, lalu sinar matahari ada dibelakang pengamat sehingga akan terjadi garis lurus antara matahari, pengamat, dan busur pelangi. Maka akan terbentuklah menjadi pelangi dari hasil proses pembiasan tadi.

Kemunculan cahaya berwarna-warni di langit tentu pemandangan yang indah dan menyita perhatian orang yang melihatnya. Tak jarang ada yang beranggapan pelangi sebagai pertanda hal yang baik.

"(Pelangi) tidak ada kaitannya dengan mitos hari baik. Tetapi memang hari menjadi lebih indah karena kondisi langit yang berbeda dari biasanya. Dan ini biasanya dikaitkan dengan suasana hati romantis," tutup dia.


25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
Kisah Viral Gadis 20 Tahun Lumpuh akibat Minum Boba, Ini Kata Dokter

Kisah Viral Gadis 20 Tahun Lumpuh akibat Minum Boba, Ini Kata Dokter

Oh Begitu
Ilmuwan Ungkap Sepatu yang Terlalu Nyaman Justru Berisiko Sebabkan Cedera

Ilmuwan Ungkap Sepatu yang Terlalu Nyaman Justru Berisiko Sebabkan Cedera

Oh Begitu
Sewindu Riset Pesisir, Data Karbon Biru Padang Lamun Indonesia Tercapai

Sewindu Riset Pesisir, Data Karbon Biru Padang Lamun Indonesia Tercapai

Fenomena
komentar
Close Ads X