Manusia Lockdown, Satwa Liar Terancam Perdagangan Ilegal

Kompas.com - 24/05/2020, 10:03 WIB
Trenggiling yang akan dilepaskan kembali ke alam liar di China Selatan setelah diselamatkan di kota Qingdao, provinsi Shandong China Timur, 14 September 2017.

Trenggiling yang akan dilepaskan kembali ke alam liar di China Selatan terlihat di Qingdao, provinsi Shandong di China Timur, Kamis (14 September 2017). Trenggiling wanita sepanjang satu meter diselamatkan oleh warga setempat dan diserahkan ke asosiasi penyelamatan satwa liar di Qingdao. Hewan ini dalam keadaan sehat dan akan dikirim kembali ke rumahnya di alam sesegera mungkin. REUTERS/Xue hunTrenggiling yang akan dilepaskan kembali ke alam liar di China Selatan setelah diselamatkan di kota Qingdao, provinsi Shandong China Timur, 14 September 2017. Trenggiling yang akan dilepaskan kembali ke alam liar di China Selatan terlihat di Qingdao, provinsi Shandong di China Timur, Kamis (14 September 2017). Trenggiling wanita sepanjang satu meter diselamatkan oleh warga setempat dan diserahkan ke asosiasi penyelamatan satwa liar di Qingdao. Hewan ini dalam keadaan sehat dan akan dikirim kembali ke rumahnya di alam sesegera mungkin.

Perlunya Intervensi Ekonomi

Saat ini penyebaran grone dengan teknologi pencitraan termal adalah salah satu solusi yang diusulkan untuk memantau ekosistem dari tanda-tanda perburuan liar atau pembalakan liar.

Selain itu dilakukan juga peningkatan penggunaan teknologi lain, seperti Postcode Meerkat, yang menggunakan radar dan kamera siang-malam untuk melacak aktivitas ilegal dari manusia di Taman Nasional Kruger Afrika Selatan.

Semua teknologi itu memang dapat membantu melakukan pemantauan, tapi tidak sepenuhnya dapat mencegah terjadinya eksploitasi alam terutama di tengah kondisi banyaknya orang yang menganggur dan kelaparan.

Baca juga: Bukti Pertama Kemampuan Hewan Liar Berkomunikasi dengan Manusia Ditemukan

Wakil Presiden Senior Conservation International’s Africa Field Division, Michael O'Brien-Onyeka bilang, untuk menghindari perusakan besar-besaran terhadap satwa liar, diperlukan intervensi langsung dalam hal ekonomi sebagai langkah jangka pendek. Seperti bantuan langsung tunai atau pemberian paket-paket sembako ke daerah perdesaan.

Dalam jangka panjang, penting untuk melakukan diversifikasi mata pencaharian para penduduk perdesaan, terlebih pada daerah yang mengandalkan pemasukan dari ekowisata.

Meski demikian, intervensi ekonomi perlu dilakukan dengan hati-hari dan cermat. Jangan sampai anggaran yang seharusnya untuk kebutuhan lingkungan malah dialihkan untuk kebutuhan sosial. Ini akan buruk dampaknya pada lingkungan kedepan.

Contoh yang baik dari penyelesaian persoalan sosial dan lingkungan secara bersamaan adalah proyek karbon REDD+ Bukit Chyulu di Kenya. Pendapatan dari hasil penjualan kredit karbon menjadi tumpuan bagi masyarakat setempat saat kegiatan ekowisata, yang menjadi mata pencaharian mereka, ditutup sementara.

Baca juga: Madagaskar Penuh Hewan Aneh Sejak 66 Juta Tahun Lalu, Fosil Ini Buktinya

Sekedar diketahui, karbon kredit dijual kepada pihak pebisnis di dunia yang selama ini melepaskan karbon dalam jumlah besar sebagai bagian dari tanggung jawab sosial mereka.

Pendapatan proyek saat ini menyediakan lapangan kerja, di antaranya pada 24 penjaga hutan yang melindungi area 4.000 kilometer persegi. Selain itu, juga mendorong pengadaan infrastruktur desa.

Lalu ada hutan Alto Mayo di Peru, di mana sejak 2010 proyek karbon telah mengurangi 75 persen penebangan hutan secara ilegal. Selama periode yang sama, Conservation International bekerja dengan masyarakat setempat untuk meningkatkan produksi pohon kopi dan membantu memperoleh perdagangan yang adil, serta sertifikasi organik.

Ketika Covid-19 menahan ekspor kopi mereka, pendapatan dari kredit karbon dapat memastikan masyarakat sekitar bisa tetap bekerja dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Baca juga: Alasan Mendasar Kenapa Virus Corona Covid-19 Bukan Buatan Manusia

Solusi jangka panjang lainnya untuk melindungi satwa liar adalah membantu masyarakat pedesaan untuk mampu meningkatkan teknik pertaniannya, sehingga memastikan bahwa mereka bisa menghadapi guncangan ekonomi, seperti yang disebabkan oleh pandemi.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber BBC
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X