Ahli Sebut Virus Corona Lakukan Silaturahim Genetik, Apa Maksudnya?

Kompas.com - 22/05/2020, 19:32 WIB
Petugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (21/5/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGPetugas pemakaman membawa peti jenazah pasien suspect virus corona atau Covid-19 di TPU Pondok Rangon, Jakarta Timur, Kamis (21/5/2020). Pemprov DKI Jakarta telah menyiapkan dua tempat pemakaman umum (TPU) untuk memakamkan pasien terjangkit virus corona (Covid-19) yang meninggal dunia, yakni di TPU Tegal Alur di Jakarta Barat dan TPU Pondok Ranggon di Jakarta Timur. Jenazah yang dapat dimakamkan di sana, yakni yang berstatus pasien dalam pengawasan (PDP) dan berstatus positif terjangkit virus corona.

KOMPAS.com - Virus corona 100 persen secara alami berasal dari alam.

Virus corona SARS-CoV-2 awalnya merupakan penyakit zoonotik, penularan dari hewan ke manusia. Pada perkembangannya, virus ini bermutasi bisa menular antar-manusia.

Terkait dengan penularan virus corona ini, ahli biologi molekuler Indonesia Ahmad Rusdan Handoyo Utomo mengatakan bahwa virus corona melakukan silaturahim genetik. Apa itu?

"Penjelasan yang lebih mudah dan lebih visible, kalau menurut bahasa saya ya, ada silaturahim genetik pada virus corona," kata Ahmad dihubungi Kompas.com, Rabu (20/5/2020).

Baca juga: Alasan Mendasar Kenapa Virus Corona Covid-19 Bukan Buatan Manusia

Silaturahim genetik terjadi karena satwa liar saling berinteraksi.

Sebagai contoh, kelelawar mengeluarkan sekresi dan ekskresinya di tanah.

Sekresi adalah proses pengeluaran zat yang dilakukan kelenjar yang masih digunakan oleh tubuh, zat yang dikeluarkan biasanya berupa enzim hormon.

Ekskresi adalah proses pembuangan sisa metabolisme dan zat sisa tidak berguna pada makhluk hidup. Hal ini meliputi pembuangan karbon dioksida, urea, dan racun.

Saat kelelawar mengeluarkan sekresi dan ekskresinya di tanah, kemudian trenggiling lewat.

Karena trenggiling tidak dapat mencuci tangan dan kaki, sekresi dan ekskresi kelelawar yang mengandung virus bisa masuk tubuh trenggiling melalui hidung.

" Trenggiling kan punya virus (corona) sendiri, nah kemudian ada virus (corona) asing dari kelelawar masuk (ke tubuh trenggiling). Berarti, di inang ini dapat mempertemukan dua macam virus," kata Ahmad.

"Jadi, virus corona trenggiling yang memliki gen spike unik bertemu dengan virus corona kelelawar yang nantinya bisa menginfeksi manusia. Ada swabing dan terjadi genetik rekombinasi," jelasnya.

Dari sinilah kemudian muncul pertanyaan besar, sebenarnya inang siapa yang mempertemukan virus dari kelelawar dan trenggiling.

"Kalau inang trenggiling enggak mungkin, karena kemiripan dengan SARS-CoV-2 hanya dari sisi spikenya saja (bentuk yang mirip paku pada virus corona)," kata Ahmad.

Halaman:
Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X