5 Strategi agar Pasien Non-Covid-19 Tak Tertular Corona Saat ke Rumah Sakit

Kompas.com - 22/05/2020, 16:33 WIB
Ilustrasi rumah sakit, layanan kesehatan dasar disarankan dipisahkan dengan penanganan pasien Covid-19, baik yang ODP maupun PDP. SHUTTERSTOCKIlustrasi rumah sakit, layanan kesehatan dasar disarankan dipisahkan dengan penanganan pasien Covid-19, baik yang ODP maupun PDP.

Oleh: Anthony Paulo Sunjaya

DI tengah serangan Covid-19 di Indonesia yang makin meningkat kasusnya, perjalanan penyakit-penyakit lain yang menular seperti tuberkulosis dan tidak menular seperti jantung, diabetes, ginjal dan stroke yang sudah diidap oleh penduduk tidak berhenti.

Penanganan kegawatan lain seperti patah tulang, luka tusuk, keguguran dan kecelakaan lalu lintas yang bersifat mendadak dan mengancam jiwa juga sangat dibutuhkan.

Tidak melakukan kontrol bagi pasien-pasien seperti ini secara berkepanjangan dapat meningkatkan risiko lebih berat ke depan. Bahkan dapat menimbulkan kematian tanpa perlu terinfeksi Covid-19. Penghentian perawatan pasien penyakit kronis ini tidak beda bahayanya dengan terkena Covid-19 sendiri.

Mereka tetap butuh pemeriksaan setiap bulan ke dokter atau bahkan bisa lebih sering jika keadaan memburuk. Masalahnya, beberapa laporan menunjukkan terjadinya penurunan signifikan kunjungan gawat darurat untuk penyakit jantung di Amerika Serikat dan Inggris karena masyarakat takut akan tertular Covid-19 di rumah sakit.

Berbagai perhimpunan dokter juga menyarankan agar pasien menunda konsultasi tatap muka yang tidak urgen sejalan dengan laporan seperti di Korea Selatan yang menceritakan seseorang dengan Covid-19 dapat menularkan ke seluruh orang di RS.

Oleh karena itu, diperlukan inovasi untuk menghadapi perubahan ini untuk melindungi pasien dan tenaga medis di Indonesia. Dukungan pemerintah, rumah sakit dan BPJS Kesehatan penting untuk menghadapi tantangan ini. Berikut 5 solusi yang diajukan.

1. Pisahkan rumah sakit khusus Covid-19 dan non-Covid-19

Salah satu yang dapat dilakukan untuk tetap mempertahankan layanan pada pasien non-Covid-19 ini adalah semaksimal mungkin membagi rumah sakit menjadi yang dapat dan tidak dapat menangani Covid-19.

Rumah sakit yang khusus menangani Covid-19 mungkin harus dibuat eksklusif hanya mengurus pasien bergejala penyakit paru, orang dalam pengawasan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) dan pasien positif Covid-19.

Saat ini di lapangan, walau sudah ada imbauan dari Kementerian Kesehatan perihal ini, masih ada campuran antara RS rujukan Covid-19 yang hanya menerima pasien Covid-19 seperti RSUD Tangerang dan RS rujukan yang juga masih menerima pasien non-Covid-19.

Pemisahan layanan ini mungkin sulit dilaksanakan terutama bagi RS rujukan Covid-19 di daerah yang juga pemberi layanan kesehatan utama.

Pada kondisi tersebut, setidaknya ada klaster khusus dalam RS tersebut untuk Covid-19 atau bila tidak memungkinkan bangsal tenda khusus Covid-19 atau untuk poliklinik dibuat di pelataran RS. Ini berarti tidak boleh ada perpindahan petugas dan pasien antar kedua klaster tersebut untuk mencegah penyebaran penyakit lintas klaster.

Langkah ini juga dapat membantu mengurangi kebutuhan APD harian karena hanya akan diperlukan bagi klaster Covid-19. Contoh rumah sakit yang menjalankan sistem ini adalah RSCM Jakarta yang menggunakan gedung Kiara khusus untuk pasien Covid-19.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X