Infeksi Corona Naik, Pelonggaran Aturan Pembatasan Sosial, Ahli Sarankan ini

Kompas.com - 22/05/2020, 13:03 WIB
Ilustrasi penyebaran virus corona ShutterstockIlustrasi penyebaran virus corona


KOMPAS.com- Pandemi virus corona belum berakhir, namun beberapa negara mulai mewacanakan untuk melonggarkan pembatasan sosial di wilayahnya.

Wacana ini masih menjadi pro kontra. Pasalnya, pertumbuhan pasien positif Covid-19 masih terus bergerak naik.

Sementara di sisi lain, jika pembatasan wilayah berlangsung selama berbulan-bulan akan menyebabkan kehancuran ekonomi.

Sebuah studi baru yang dilakukan oleh Global Dynamic Interventions Strategies for Covid-19 Collaborative Group, memberikan alternatif strategi untuk memerangi virus corona, sekaligus menyelamatkan perekonomian yang mandek akibat pembatasan sosial.

Baca juga: Nekat Berkerumun saat PSBB, Ingat Risiko Penularan Virus Corona Tinggi

Dalam analisisnya, peneliti menyarankan untuk mengkombinasikan waktu antara pembatasan sosial selama 50 hari dengan relaksasi atau pelonggaran selama 30 hari.

Seperti dilansir dari Live Science, Rabu (20/5/2020), dengan menerapkan waktu yang bergantian tersebut, peneliti menyebut pandemi dapat dikendalikan.

"Kombinasi pembatasan yang ketat dan periode yang relatif longgar ini memungkinkan populasi dan ekonomi untuk 'bernapas'," kata Rajiv Chowdhury, ahli epidemiologi kesehatan global University of Cambrige, Inggris.

Warga maupun rohaniwan berbaris rapi mengikuti aturan pembatasan sosial untuk memasuki Basilika Santo Petrus di Vatikan pada 18 Mei 2020. Basilika tersebut ditutup lebih dari dua bulan untuk mencegah penyebaran virus corona.AFP/VINCENZO PINTO Warga maupun rohaniwan berbaris rapi mengikuti aturan pembatasan sosial untuk memasuki Basilika Santo Petrus di Vatikan pada 18 Mei 2020. Basilika tersebut ditutup lebih dari dua bulan untuk mencegah penyebaran virus corona.

Baca juga: Pandemi Corona Belum Usai, Emisi Karbon Berpotensi Jadi Pandemi Baru

Para peneliti menggunakan model matematika untuk mensimulasikan kurva Covid-19 di 16 negara yang mewakili negara berpenghasilan tinggi, menengah, dan rendah.

Selanjutnya peneliti membuat beberapa model skenario berganti-ganti, antara pelonggaran dan pembatasan yang ketat.

Di studi mereka, peneliti mempertimbangkan dua jenis pembatasan sosial. Pertama yang disebut sebagai langkah-langkah mitigasi, mencakup seperti penutupan sekolah dan pembatasan acara publik.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X