Tanggapi Spekulasi Bossman Mardigu soal Corona, Pakar: Silakan Buktikan

Kompas.com - 22/05/2020, 09:04 WIB
Gambar mikroskop elektron pemindai ini menunjukkan virus corona Wuhan atau Covid-19 (kuning) di antara sel manusia (merah). Sampel virus diambil dari seorang pasien AS yang terinfeksi. Para ahli menambahkan gambar agar lebih tampak. Gambar mikroskop elektron pemindai ini menunjukkan virus corona Wuhan atau Covid-19 (kuning) di antara sel manusia (merah). Sampel virus diambil dari seorang pasien AS yang terinfeksi. Para ahli menambahkan gambar agar lebih tampak.

Dia menyampaikan, apa yang disampaikan Mardigu di YouTube tersebut hanyalah spekulasi. Salah satunya terkait perlawanan di bidang farmasi AS.

Ahmad yang juga pernah tinggal di AS selama 17 tahun melihat bahwa secara umum memang masyarakat AS terbelah, dibagi menjadi beberapa kelompok. Ada masyarakat yang sangat kaya, ada juga kelompok masyarakat dengan perekonomian biasa saja.

"Kenapa Obama Care sempat diperjuangkan, karena 30 juta warga Amerika itu enggak punya asuransi. Cuma masalahnya, asuransi yang model Obama Care itu mahal banget. Sehingga, Partai Republik yang intinya enggak mau dipajakin lebih mahal lagi, mereka menolak," kata Ahmad.

"Jadi ini intinya masalah klasik di bidang kesehatan (AS) dan enggak ada hubungannya sama virus. Itu jauh banget," imbuhnya.

Selain itu, Ahmad juga mengatakan tidak ada hubungannya dunia farmasi dengan virus, seperti yang disampaikan Mardigu.

"Di satu sisi farmasi memang besar, banyak profitnya, terlepas dari Covid-19 ya. Tapi, itu juga karena masalah sistem kapitalisme yang memungkinkan itu," katanya.

Baca juga: Bukan Penyebar Corona, Trenggiling Justru Bisa jadi Kunci Pengobatan Covid-19

Kembali ke obrolan Mardigu dan Deddy, pengusaha itu sempat menyinggung sebuah penelitian dari Cambridge University.

"Berbicara tentang virus corona ada banyak versi, tetapi saya lebih senang pakai data science aja. Jadi Cambridge University mengadakan research yang cukup panjang, kebetulan salah satu Profesor di sana, doktor ya, itu adalah sahabat saya orang Malaysia. Jadi sejak Februari, dia sering WA-an (WhatsApp-an), dia bilang waktu bulan Februari kok behavior-nya ini (virus) kayak AIDS ya dan itu ngambil imunitas," kata Mardigu.

Ahmad mengingatkan, peneliti pun dapat salah.

Pada akhir Januari 2020, China merilis sekuens genom lengkap dari SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Namun, saat itu mekanisme penularan awal virus corona masih belum jelas.

Sekuens genom SARS-CoV-2 ini pun dapat dilihat oleh semua orang dan para peneliti di seluruh dunia dapat melakukan penelitian lebih lanjut dari data tersebut.

"Kemudian di awal Februari, itu ada paper dari India. Jadi mereka menganalisa sekuens lengkap itu dan menemukan ada inversi (susunan) sekitar empat atau lima asam amino yang seperti inversi di virus HIV. Artikelnya ini baru preprint belum yang peer-review," kata Ahmad.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X