Fenomena Solar Minimum, Selamat Datang Siklus Matahari 25

Kompas.com - 18/05/2020, 17:02 WIB
Gambar penampakan benang plasma di atmosfer Matahari yang ditangkap teleskop High-Resolution Coronal Imager (Hi-C). University of Central Lancashire (UCLan)Gambar penampakan benang plasma di atmosfer Matahari yang ditangkap teleskop High-Resolution Coronal Imager (Hi-C).

KOMPAS.com – Para ilmuwan mengatakan saat ini Matahari sedang berada pada periode solar minimum. Hal itu diketahui dari jumlah bintik Matahari (sunspots) yang kini berjumlah nol.

Para ilmuwan NASA mengkhawatirkan akan munculnya solar minimum seperti yang pernah terjadi antara tahun 1790-1830. Beberapa bencana alam dikaitkan dengan fenomena tersebut, termasuk letusan Gunung Tambora pada 1815.

Namun, Peneliti Sains Antariksa LAPAN Bandung Dr Johan Muhammad menampik kekhawatiran tersebut. Menurutnya, fenomena solar minimum masuk ke dalam siklus Matahari (solar cycle) yang memiliki rentang waktu sekitar 11 tahun.

Baca juga: Fenomena Matahari Solar Minimum, LAPAN: Tidak Benar Timbulkan Bencana di Bumi

“Sejauh ini pengaruh solar minimum tidak mengakibatkan bencana besar. Karena solar minimum sudah terjadi sejak dahulu, dan terus berulang setiap sekitar 11 tahun. Seharusnya kita bisa melihat banyak bencana terjadi pada saat solar minimum, tapi kami belum menemukan pola seperti itu,” papar Johan kepada Kompas.com, Senin (18/5/2020).

Bintik Matahari

Dalam jurnal Buletin Cuaca Antariksa keluaran LAPAN, Vol 9 No 2 edisi April – Juni 2020, Johan menuliskan bintik Matahari (sunspots) merupakan salah satu penanda tingkat aktivitas Matahari.

Bintik Matahari adalah bintik hitam di permukaan Matahari yang menandakan adanya konsentrasi medan magnet yang kuat dan suhu yang lebih rendah dibandingkan daerah lain di sekitarnya.

Jika pada suatu periode tidak muncul satu pun bintik Matahari, maka dikatakan tengah terjadi fenomena solar minimum. Sebaliknya, apabila bintik Matahari yang muncul cukup banyak, artinya Matahari sedang dalam keadaan aktif.

Baca juga: Matahari Lebih Pasif Dibanding Bintang Serupa, Kabar Baik untuk Kita

Saat Matahari dalam kondisi aktif, ledakan-ledakan di permukaannya dapat terjadi.

“Kemunculan bintik di Matahari bukan merupakan fenomena acak, melainkan memiliki pola yang teratur. Jumlah dan lokasi kemunculan bintik Matahari mengikuti suatu siklus dengan periode sekitar 11 tahun. Siklus ini dikenal sebagai siklus Matahari,” tutur Johan.

Seiring berjalannya waktu, bintik Matahari akan tampak bermunculan di lintang menengah Matahari dan mencapai puncaknya saat puncak siklus terjadi. Jarak antara dimulainya suatu siklus dan puncak siklus Matahari biasanya sekitar 4-5 tahun.

Baca juga: Fenomena Langit Mei 2020: Hujan Meteor hingga Matahari di Atas Kabah

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X