Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU)

Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) adalah organ departementasi Nahdlatul Ulama yang berfungsi sebagai pelaksana kebijakan–kebijakan Nahdlatul Ulama dalam ranah falakiyah, yaitu ilmu astronomi yang ditujukan bagi pelaksanaan aspek–aspek ibadah Umat Islam. LFNU ada di tingkat pusat (PBNU), propinsi (PWNU) hingga kabupaten / kota (PCNU). Lembaga Falakiyah PBNU berkedudukan di Gedung PBNU lantai 4, Jl. Kramat Raya no. 164 Jakarta Pusat.

Komet SWAN dan Bintang Berekor Dalam Khazanah Ilmu Falak

Kompas.com - 15/05/2020, 19:04 WIB
Wajah komet SWAN (C/2020 F8) dalam dua observasi berbeda. Kiri : Lembang 11 Ramadhan 1441 H (4 Mei 2020) pada waktu eksposur 10 detik. Kanan: Ponorogo 14 Ramadhan 1441 H (7 Mei 2020) pada waktu eksposur lebih lama (3 x 60 detik) sehingga bentuk ekornya terlihat membentang ke arah barat daya. Arah mataangin dinyatakan dalam S (Selatan) dan T (Timur). Setyanto & Junaidi, 2020Wajah komet SWAN (C/2020 F8) dalam dua observasi berbeda. Kiri : Lembang 11 Ramadhan 1441 H (4 Mei 2020) pada waktu eksposur 10 detik. Kanan: Ponorogo 14 Ramadhan 1441 H (7 Mei 2020) pada waktu eksposur lebih lama (3 x 60 detik) sehingga bentuk ekornya terlihat membentang ke arah barat daya. Arah mataangin dinyatakan dalam S (Selatan) dan T (Timur).

Oleh: Hendro Setyanto, Ahmad Junaidi dan Ma’rufin Sudibyo

SEBUAH komet yang relatif terang mengerjap di atas kaki langit timur dalam hari–hari ini. Namanya komet SWAN, dikodekan sebagai C/2020 F8 berdasarkan tatanama provisional dari International Astronomical Union.

Ia baru ditemukan pada 25 Maret 2020 lalu oleh Michael Matiazzo, seorang astronom amatir Australia, berdasarkan citra dari kamera SWAN (Solar Wind Anisotropy) pada wahana antariksa SOHO (Solar and Heliospheric Observatory). SOHO adalah satelit pengamat Matahari produk kerjasama NASA dan ESA yang berpangkalan di luar orbit Bulan dan telah bertugas tanpa henti dalam seperempat abad terakhir.

Komet SWAN adalah komet ke–3.932 yang ditemukan SOHO dan komet ke–12 yang ditemukan melalui kamera SWAN. Komet ini segera menarik perhatian dunia pasca pupusnya harapan pada Komet Atlas (C/2019 Y4). Sebab, komet SWAN diprakirakan akan mulai memasuki ambang batas kemampuan mata manusia mulai awal Mei.

Lembaga Falakiyah PBNU tidak secara resmi menginstruksikan menggelar pengamatan terhadap komet ini. Namun, sebagai lembaga yang beranggotakan para ahli falak yang sebagian di antaranya memiliki kualifikasi setara astronom pada umumnya, muncul inisiatif pengamatan terhadap komet SWAN di sejumlah lokasi.

Misalnya yang dilaksanakan Dr. Ahmad Junaidi di Ponorogo (Jawa Timur) dengan teleskop kreasi pribadi. Demikian halnya yang dilaksanakan Hendro Setyanto melalui observatorium pribadi Imah Noong di Lembang, Jawa Barat.

Dalam kedua observasi yang berbeda lokasi dan waktu itu, komet tampak sebagai bintik cahaya samar yang diselubungi pendar warna kehijauan. Warna hijau diproduksi emisi cahaya molekul sianogen (CN) dan molekul karbon diatomik (C = C).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hanya pada fotografi dengan eksposur yang cukup lama (60 detik atau lebih), maka bentuk ekor komet yang selalu menjauhi posisi Matahari akan terlihat.

Kedua observasi tersebut menegaskan komet SWAN memang ada di orbitnya sesuai yang diperhitungkan. Pada saat diobservasi, komet berada di rasi Cetus dengan ketinggian yang terus menurun dari hari ke hari.

Hingga artikel ini dibuat, posisi komet sudah berada di rasi Aries. Dan komet dalam kondisi sehat, artinya tidak terfragmentasi sebagaimana yang diderita Komet Atlas.

Komet SWAN merupakan komet parabolik, yakni komet yang bergerak menyusuri orbit berbentuk parabola atau hampir mendekati parabola.

Analisis termutakhir terhadap barisenter tata surya, yakni titik pusat massa Matahari dan segenap planet–planet besarnya, menunjukkan orbit komet SWAN adalah demikian lonjong. Sehingga periode orbitnya mencapai puluhan juta tahun.

Dengan kata lain, saat ini mungkin menjadi kesempatan pertama bagi sang komet untuk mengunjungi tata surya bagian dalam sebelum kembali melata jauh ke tepian, menyusuri tempat–tempat yang dingin membekukan.

Komet dalam ilmu falak

Tugas utama ilmu falak memang mengelaborasi kedudukan Matahari dan Bulan yang kemudian diderivasikan sebagai penanda waktu dan arah bagi kepentingan ibadah Umat Islam. Turunan tersebut meliputi penentuan waktu shalat, penentuan arah kiblat dan penentuan waktu ibadah terkait kalender Hijriyyah seperti bulan Ramadhan ini.

Namun bukan berarti kajian dan observasi akan benda–benda langit lainnya tak masuk radar. Seperti komet, misalnya, tetap menjadi bahan pengamatan sebagai bagian dari kekaguman Umat Islam terhadap Allah SWT sang pencipta semesta raya beserta segala isinya.

Dalam literatur falakiyah klasik, komet disebut sebagai najm dhu dhu’aba atau kawkab dhu dhu’aba. Atau dalam bentuk pendeknya dhu’aib atau dhanab. Semua memiliki arti sebagai bintang yang memiliki rambut atau bintang yang memiliki ekor.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ada Varian Baru Omricon, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Ada Varian Baru Omricon, Akankah Gelombang 3 Pandemi Terjadi Akhir Tahun Ini?

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

[POPULER SAINS] Apa Itu Pneumonia yang Dialami Ameer Azzikra | Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Kenapa Komodo Hanya Hidup di Indonesia?

Oh Begitu
Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Apa Itu Sarkoma Jantung, Kanker yang Diidap Virgil Abloh Sebelum Meninggal Dunia?

Oh Begitu
Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Varian Baru Omicron 500 Persen Lebih Menular, Perhatikan 6 Hal Ini Sebelum Bepergian Saat Nataru

Oh Begitu
Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Akibat Es Laut Arktik Mencair, Beruang Kutub Kejar dan Mangsa Rusa

Fenomena
Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Ameer Azzikra Meninggal karena Pneumonia, Begini Kaitan Pneumonia dan Infeksi Ginjal

Oh Begitu
Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Jejak Dinosaurus di Texas Tampak Aneh, Peneliti Menduga Jejak Kaki Depan Sauropoda

Fenomena
5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

5 Minuman yang Baik untuk Asam Lambung

Kita
Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Ikan Nila Mengandung Mikroplastik, Ikan di Pulau Jawa Tak Layak Dikonsumsi

Fenomena
5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

5 Manfaat Yodium untuk Kesehatan, Penting untuk Wanita Hamil

Kita
Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Ikan di 3 Sungai Besar di Pulau Jawa Terkontaminasi Mikroplastik, Studi Jelaskan

Fenomena
Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Fakta-fakta Tikus Mondok Hidung Bintang, Pemangsa Tercepat di Dunia

Oh Begitu
12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

12 Negara Laporkan Kasus Varian Omicron, dari Italia hingga Australia

Oh Begitu
Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Gunung Kilauea, Gunung Berapi Paling Aktif yang Meletus Setiap Tahun

Oh Begitu
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.