Komet SWAN dan Bintang Berekor Dalam Khazanah Ilmu Falak

Kompas.com - 15/05/2020, 19:04 WIB
Wajah komet SWAN (C/2020 F8) dalam dua observasi berbeda. Kiri : Lembang 11 Ramadhan 1441 H (4 Mei 2020) pada waktu eksposur 10 detik. Kanan: Ponorogo 14 Ramadhan 1441 H (7 Mei 2020) pada waktu eksposur lebih lama (3 x 60 detik) sehingga bentuk ekornya terlihat membentang ke arah barat daya. Arah mataangin dinyatakan dalam S (Selatan) dan T (Timur). Setyanto & Junaidi, 2020Wajah komet SWAN (C/2020 F8) dalam dua observasi berbeda. Kiri : Lembang 11 Ramadhan 1441 H (4 Mei 2020) pada waktu eksposur 10 detik. Kanan: Ponorogo 14 Ramadhan 1441 H (7 Mei 2020) pada waktu eksposur lebih lama (3 x 60 detik) sehingga bentuk ekornya terlihat membentang ke arah barat daya. Arah mataangin dinyatakan dalam S (Selatan) dan T (Timur).

Oleh: Hendro Setyanto, Ahmad Junaidi dan Ma’rufin Sudibyo

SEBUAH komet yang relatif terang mengerjap di atas kaki langit timur dalam hari–hari ini. Namanya komet SWAN, dikodekan sebagai C/2020 F8 berdasarkan tatanama provisional dari International Astronomical Union.

Ia baru ditemukan pada 25 Maret 2020 lalu oleh Michael Matiazzo, seorang astronom amatir Australia, berdasarkan citra dari kamera SWAN (Solar Wind Anisotropy) pada wahana antariksa SOHO (Solar and Heliospheric Observatory). SOHO adalah satelit pengamat Matahari produk kerjasama NASA dan ESA yang berpangkalan di luar orbit Bulan dan telah bertugas tanpa henti dalam seperempat abad terakhir.

Komet SWAN adalah komet ke–3.932 yang ditemukan SOHO dan komet ke–12 yang ditemukan melalui kamera SWAN. Komet ini segera menarik perhatian dunia pasca pupusnya harapan pada Komet Atlas (C/2019 Y4). Sebab, komet SWAN diprakirakan akan mulai memasuki ambang batas kemampuan mata manusia mulai awal Mei.

Lembaga Falakiyah PBNU tidak secara resmi menginstruksikan menggelar pengamatan terhadap komet ini. Namun, sebagai lembaga yang beranggotakan para ahli falak yang sebagian di antaranya memiliki kualifikasi setara astronom pada umumnya, muncul inisiatif pengamatan terhadap komet SWAN di sejumlah lokasi.

Misalnya yang dilaksanakan Dr. Ahmad Junaidi di Ponorogo (Jawa Timur) dengan teleskop kreasi pribadi. Demikian halnya yang dilaksanakan Hendro Setyanto melalui observatorium pribadi Imah Noong di Lembang, Jawa Barat.

Dalam kedua observasi yang berbeda lokasi dan waktu itu, komet tampak sebagai bintik cahaya samar yang diselubungi pendar warna kehijauan. Warna hijau diproduksi emisi cahaya molekul sianogen (CN) dan molekul karbon diatomik (C = C).

Hanya pada fotografi dengan eksposur yang cukup lama (60 detik atau lebih), maka bentuk ekor komet yang selalu menjauhi posisi Matahari akan terlihat.

Kedua observasi tersebut menegaskan komet SWAN memang ada di orbitnya sesuai yang diperhitungkan. Pada saat diobservasi, komet berada di rasi Cetus dengan ketinggian yang terus menurun dari hari ke hari.

Hingga artikel ini dibuat, posisi komet sudah berada di rasi Aries. Dan komet dalam kondisi sehat, artinya tidak terfragmentasi sebagaimana yang diderita Komet Atlas.

Komet SWAN merupakan komet parabolik, yakni komet yang bergerak menyusuri orbit berbentuk parabola atau hampir mendekati parabola.

Analisis termutakhir terhadap barisenter tata surya, yakni titik pusat massa Matahari dan segenap planet–planet besarnya, menunjukkan orbit komet SWAN adalah demikian lonjong. Sehingga periode orbitnya mencapai puluhan juta tahun.

Dengan kata lain, saat ini mungkin menjadi kesempatan pertama bagi sang komet untuk mengunjungi tata surya bagian dalam sebelum kembali melata jauh ke tepian, menyusuri tempat–tempat yang dingin membekukan.

Komet dalam ilmu falak

Tugas utama ilmu falak memang mengelaborasi kedudukan Matahari dan Bulan yang kemudian diderivasikan sebagai penanda waktu dan arah bagi kepentingan ibadah Umat Islam. Turunan tersebut meliputi penentuan waktu shalat, penentuan arah kiblat dan penentuan waktu ibadah terkait kalender Hijriyyah seperti bulan Ramadhan ini.

Namun bukan berarti kajian dan observasi akan benda–benda langit lainnya tak masuk radar. Seperti komet, misalnya, tetap menjadi bahan pengamatan sebagai bagian dari kekaguman Umat Islam terhadap Allah SWT sang pencipta semesta raya beserta segala isinya.

Dalam literatur falakiyah klasik, komet disebut sebagai najm dhu dhu’aba atau kawkab dhu dhu’aba. Atau dalam bentuk pendeknya dhu’aib atau dhanab. Semua memiliki arti sebagai bintang yang memiliki rambut atau bintang yang memiliki ekor.

Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

NASA Juno Ungkap Hujan Es Kaya Amonia, Petunjuk Baru Cuaca Planet Jupiter

NASA Juno Ungkap Hujan Es Kaya Amonia, Petunjuk Baru Cuaca Planet Jupiter

Fenomena
AI Disebut Revolusi dalam Kajian Luar Angkasa, Kok Bisa?

AI Disebut Revolusi dalam Kajian Luar Angkasa, Kok Bisa?

Oh Begitu
Kekuatan Kotoran, Ungkap Keberadaan Koloni Penguin Kaisar yang Tersembunyi

Kekuatan Kotoran, Ungkap Keberadaan Koloni Penguin Kaisar yang Tersembunyi

Fenomena
Ilmuwan Temukan Bukti Bagian dari Sistem Kekebalan dapat Memperparah Covid-19

Ilmuwan Temukan Bukti Bagian dari Sistem Kekebalan dapat Memperparah Covid-19

Fenomena
Susah Cari Pasangan, Anglerfish Rela Bucin Seumur Hidup

Susah Cari Pasangan, Anglerfish Rela Bucin Seumur Hidup

Oh Begitu
BMKG: Sejumlah Wilayah Masih Harus Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Besok

BMKG: Sejumlah Wilayah Masih Harus Waspada Cuaca Ekstrem Hingga Besok

Kita
Benarkah WHO Tak Sarankan Masker Universal Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Benarkah WHO Tak Sarankan Masker Universal Cegah Covid-19? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Ledakan di Lebanon, Seberapa Besar Energinya Dibandingkan Bom Nuklir?

Ledakan di Lebanon, Seberapa Besar Energinya Dibandingkan Bom Nuklir?

Oh Begitu
Apa Itu Gonore, Infeksi Menular Seksual Pilek pada Alat Kelamin?

Apa Itu Gonore, Infeksi Menular Seksual Pilek pada Alat Kelamin?

Kita
Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

Kekurangan Vitamin D, Anak Berisiko Asma hingga Dermatitis Atopik, Kok Bisa?

Oh Begitu
Ledakan Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat dan Kenapa Sangat Berbahaya?

Ledakan Lebanon, Apa Itu Amonium Nitrat dan Kenapa Sangat Berbahaya?

Oh Begitu
Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Hoaks Covid-19 dan Infodemik, Tantangan Ilmuwan Indonesia Sikapi Konstruksi Anti-Sains

Fenomena
Astronot NASA Ungkap Pengalamannya Tunggangi Crew Dragon SpaceX

Astronot NASA Ungkap Pengalamannya Tunggangi Crew Dragon SpaceX

Oh Begitu
Mammoth Berbulu Berusia 10.000 Tahun Ditemukan, Masih Dilapisi Kulit dan Kotoran

Mammoth Berbulu Berusia 10.000 Tahun Ditemukan, Masih Dilapisi Kulit dan Kotoran

Fenomena
Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

Teknologi AI Semakin Canggih, Ghost Work Bisa Ancam Pekerja Manusia

Fenomena
komentar
Close Ads X