Kematian 4 ABK di Kapal Ikan China, Ahli: Masalah Lama yang Sulit Diatasi

Kompas.com - 08/05/2020, 08:02 WIB
Para Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia menceritakan pengalaman mereka selama berada di kapal China. KFEM via BBCPara Anak Buah Kapal (ABK) asal Indonesia menceritakan pengalaman mereka selama berada di kapal China.

KOMPAS.com – Kematian empat orang Anak Buah Kapal (ABK) Indonesia di kapal ikan berbendera China tengah menjadi sorotan pemberitaan media di Korea Selatan.

Dalam video yang diberitakan, tiga orang ABK meninggal dunia di kapal kemudian dilarung ke laut. Sementara itu, satu ABK lainnya meninggal dunia di rumah sakit.

Baca juga: Nelayan Indonesia Masih Menjadi Budak di Tanah Air Sendiri

Dalam video tersebut pula, para ABK mengaku dipekerjakan selama 18 jam dalam sehari. Bahkan mereka bisa berdiri selama 30 jam, dengan enam jam istirahat.

Video itu disebut sebagai bukti pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terhadap ABK Indonesia.

Masalah lama yang sulit diatasi

Peneliti Antropologi Maritim dari Pusat Penelitian Masyarakat dan Budaya LIPI, Dr Dedi Supriadi Adhuri, menyebutkan bahwa kasus seperti ini merupakan masalah lama yang erat kaitannya dengan sektor perikanan.

“Kita (Indonesia) punya masalah serius perihal ini. Tidak hanya di kapal-kapal luar negeri, tapi juga di dalam negeri. Saya sendiri tidak kaget, karena masalah seperti ini dari dulu susah diatasi,” tutur Dedi kepada Kompas.com, Jumat (8/5/2020).

Masalah apa yang dimaksud? Dedi menyebutkan, permasalahan inti kasus tersebut adalah peraturan dan keterlibatan pemerintah dalam mengusahakan perlindungan terhadap pekerja perikanan. Hal itu berlaku baik dalam negeri maupun di luar negeri.

Baca juga: Kisah ABK Indonesia di Kapal China, Tidur Hanya 3 Jam dan Makan Umpan Ikan

Padahal, perlindungan dari pemerintah itu berguna agar perbudakan dalam industri perikanan tidak terjadi.

“Antara lain human trafficking lewat percaloan. Kemudian perlakuan terhadap ABK di kapal, kerja overtime, seringkali tidak dibayar. Fisik yang terkuras dan kurangnya makanan. Semuanya masuk dalam masalah slavery dalam sektor perikanan,” paparnya.

Mengenai pelarungan ABK Indonesia di kapal ikan China, Dedi berpendapat, perlakuan ABK China menunjukkan respect (hormat).

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X