Mengapa Pasien Covid-19 Kerap Menyangkal dan Berbohong?

Kompas.com - 23/04/2020, 17:02 WIB
Ilustrasi virus corona dan gejala terinfeksi virus corona ShutterstockIlustrasi virus corona dan gejala terinfeksi virus corona

KOMPAS.com – Penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus corona jenis SARS-CoV-2 tengah menjadi momok bagi banyak orang. Petugas medis dan pemerintah berusaha untuk melakukan contact tracing dan melangsungkan rapid test agar semua pasien Covid-19 teridentifikasi.

Namun, hal itu diperparah oleh perilaku masyarakat yang tidak kooperatif. Beberapa waktu lalu, sebanyak 46 dokter di RS dr Kariadi Semarang dinyatakan positif Covid-19 karena pasien yang tidak jujur saat dilakukan tes massal dan ditanya mengenai riwayat perjalanan.

Setali tiga uang dengan pasien, pihak keluarga pun kerap mengindahkan pentingnya identifikasi Covid-19. Di RS TNI Ciremai, Cirebon, keluarga pasien Covid-19 berbohong dan berkacak pinggang kepada petugas medis saat ditanyai riwayat perjalanan.

Baca juga: Update Corona 23 April: 2,63 Juta Orang Terinfeksi, 717.759 Sembuh

Tak hanya berbohong, keluarga pasien justru marah ketika ditanyai mengenai riwayat kontak.

Di tengah pentingnya identifikasi pasien dan upaya mencegah penyebaran Covid-19, mengapa banyak orang memilih untuk berbohong atau melakukan penyangkalan?

Masifnya arus informasi dan minimnya literasi

Dosen dan Psikolog Klinis dari Fakultas Psikologi UNAIR, Tri Kurniati Ambarini, M.Psi., mengatakan bahwa salah satu penyebabnya adalah arus informasi mengenai virus corona yang sangat masif.

“Ada informasi negatif, dan ada informasi positif. Informasi negatif di sini mungkin bertujuan untuk mengedukasi masyarakat, namun tidak semua orang bisa menyeimbangkan antara informasi negatif dan positif itu,” tuturnya kepada Kompas.com, Kamis (23/4/2020).

Secara psikologis, lanjut Tri, manusia lebih mudah menyerap informasi negatif dan membuat hal itu menjadi sesuatu yang kita percaya. Hal ini berkaitan erat dengan minimnya literasi mengenai kesehatan, di mana masyarakat tidak dibiasakan berhadapan dengan data yang seimbang.

Baca juga: Teknik Proning Selamatkan Nyawa Pasien Corona, Begini Penjelasannya

“Dalam aspek kesehatan kita memang jarang mendapatkan informasi yang apa adanya. Kita terbiasa oleh doktrinasi sebab-akibat, sakit apa menyebabkan dampak apa. Pola pemikiran seperti itu sulit untuk diubah,” lanjutnya.

Kemampuan menyeimbangkan informasi positif dan negatif serta minimnya literasi kesehatan menimbulkan apa yang disebut sebagai stigma.

Halaman Selanjutnya
Halaman:

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Serba-serbi Hewan: Bagaimana dan Kenapa Kunang-kunang Menyala?

Serba-serbi Hewan: Bagaimana dan Kenapa Kunang-kunang Menyala?

Oh Begitu
Sore Ini Matahari di Atas Kabah, Kenapa Terjadi 2 Kali dalam Setahun?

Sore Ini Matahari di Atas Kabah, Kenapa Terjadi 2 Kali dalam Setahun?

Fenomena
Gempa Hari Ini : M 5,8 Guncang Laut Flores, Terasa Hingga Denpasar

Gempa Hari Ini : M 5,8 Guncang Laut Flores, Terasa Hingga Denpasar

Fenomena
WHO: Banyak Negara Salah Arah dalam Penanganan Covid-19, Ini Dampaknya

WHO: Banyak Negara Salah Arah dalam Penanganan Covid-19, Ini Dampaknya

Oh Begitu
Perilaku Unik Serangga, Capung Betina Pura-pura Mati Hindari Jantan

Perilaku Unik Serangga, Capung Betina Pura-pura Mati Hindari Jantan

Oh Begitu
Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Kebanyakan Dipanen, Viagra Himalaya Terancam Punah

Oh Begitu
3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

3 Misi ke Mars di Bulan Juli, Apa yang akan Dilakukan NASA, China dan Uni Emirat Arab?

Fenomena
Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Antibodi terhadap Covid-19 Menurun, Studi Inggris Ungkap Potensi Infeksi Ulang

Fenomena
Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Uni Emirat Arab Semangat Luncurkan Misi Hope ke Mars, Apa Tujuannya?

Oh Begitu
Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Cuaca Buruk, Peluncuran Misi Hope Milik Uni Emirat Arab ke Mars Ditunda

Fenomena
Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Vaksin Virus Corona, Sudah Sampai Mana Tahap Pengujiannya?

Oh Begitu
Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Covid-19: Kenapa Laki-laki Lebih Jarang Pakai Masker Dibanding Perempuan? Ini Penjelasannya

Fenomena
Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena Langka Komet Neowise Juli 2020, Wilayah Mana Saja Bisa Melihatnya?

Fenomena
BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

BMKG: Wilayah Ini Berpotensi Alami Peningkatan Kekeringan Lapisan Tanah

Fenomena
Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Istilah PDP, ODP, dan OTG Covid-19 Diubah, Ini Beda dengan Sebelumnya

Oh Begitu
komentar
Close Ads X