Soal Penolakan Jenazah Corona, Ahli Sebut Perlu Edukasi Hilangkan Stigma

Kompas.com - 09/04/2020, 18:03 WIB
Petugas pemakaman menurunkan peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto per Senin (30/3/2020) pukul 12.00 WIB menyatakan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.414  kasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 75 orang, sementara kasus kematian bertambah delapan orang dari sebelumnya 114 orang menjadi 122 orang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAPetugas pemakaman menurunkan peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto per Senin (30/3/2020) pukul 12.00 WIB menyatakan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.414 kasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 75 orang, sementara kasus kematian bertambah delapan orang dari sebelumnya 114 orang menjadi 122 orang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.

KOMPAS.com - Penolakan jenazah pasien Covid-19 untuk dikubur di pemakaman lingkungan warga asal pasien acapkali terjadi. Polemik ini dikatakan sebagai permasalahan stigma di masyarakat.

Lantas, bagaimana persoalan stigmatisasi dalam polemik jenazah pasien Covid-19 ini?

Menurut Dosen Departemen Ilmu Kesehatan Masyarakat dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Dr Panji Hadisoemarto MPH, penolakan pemakaman jenazah di lingkungan asal ini menunjukkan masih adanya stigma di masyarakat.

"Penyebab dasarnya menurut saya adalah stigma," kata Panji kepada Kompas.com, Rabu (8/2020).

Baca juga: Jangan Tolak Jenazah Pasien Covid-19, Corona Tidak Menyebar di Tanah

Stigma ini, kata dia, tidak hanya ditujukan kepada jenazah orang yang terkena Covid-19 saja, melainkan juga berlaku terhadap orang-orang yang sakit ataupun yang dianggap membawa risiko menularkan Covid-19, termasuk tenaga kesehatan.

Beberapa waktu lalu, selain viral video penolakan jenazah pasien Covid-19, juga ada kabar tenaga medis yang diusir dari kost karena menangani corona. Hal yang sama juga dialami oleh beberapa orang berstatus Orang Dalam Pemantauan (ODP).

Keluarga dari pasien positif Covid-19, dan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) juga tidak sedikit yang kemudian dijauhi oleh warga di sekitar mereka.

Alasannya, bukan karena sedang menjaga jarak aman atau physical distancing, tetapi ketakutan dan kekhawatiran orang-orang itu dapat merugikan masyarakat karena berpotensi menularkan virus.

Baca juga: Update Corona 9 April: 1,51 Juta Orang Terinfeksi, 330.589 Sembuh

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X