Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Kompas.com - 04/04/2020, 16:30 WIB
Ilustrasi Unsplash/NASAIlustrasi

Namun, Lecocq kini menilai bahwa untuk saat ini, stasiun seismik Brussel hampir sama baiknya dengan stasiun yang menggunakan pipa bawah tanah.

Efek ini juga dirasakan oleh pakar seismologi Paula Koelemijer di London, Inggris, Celeste Labedz di Los Angeles, Amerika Serikat dan BMKG di Indonesia.

Baca juga: Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruh pada Wabah Corona, tapi...

Diwawancarai oleh Kompas.com via pesan singkat, Sabtu (4/4/2020); Daryono berkata bahwa seismik yang bersumber dari aktivitas manusia memang didapati berkurang karena banyak kota besar yang penduduknya mengurangi aktvitas.

Hal ini memang tidak memengaruhi seismik yang bersumber dari gempa atau sumber-sumber Bumi lainnya (endogen), karena gempa masih terjadi di indonesia puluhan kali dalam sehari dalam berbagai variasi magnitudo dan kedalaman.

Akan tetapi, berkurangnya kebisingan seismik membantu para pakar di BMKG dalam membaca gelombang gempa. Sebab, gelombang, khususnya yang bersumber dekat kota, menjadi relatif lebih jelas.

"Kita makin jelas baca gelombang gempanya karena noise-nya berkurang," ujarnya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X