Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Kompas.com - 03/04/2020, 16:32 WIB
Ilustrasi: perawatan pasien positif terinfeksi virus corona ShutterstockIlustrasi: perawatan pasien positif terinfeksi virus corona


KOMPAS.com - Sejak virus corona mewabah secara misterius di kota Wuhan di provinsi Hubei, China pada Desember 2019 lalu, hingga kini jumlah korban Covid-19 terus bertambah di seluruh dunia.

Dalam penelitian terbaru, tingkat keparahan dalam beberapa kasus Covid-19, meniru kasus SARS-CoV yang mewabah beberapa tahun lalu di China.

Seperti melansir New England Journal of Medicine (NEJM), Jumat (3/4/2020), para peneliti mencoba menentukan analisis terbaru dari kasus yang ada di seluruh daratan China.

Para peneliti mengekstraksi data dari 1.099 pasien Covid-19 yang dikonfirmasi dari 552 laboratorium rumah sakit di 30 provinsi di China, hingga 29 Januari 2019.

Baca juga: 3 Hal yang Terlewat di Balik Tingginya Presentase Kematian Corona di Indonesia

Penelitian ini dilakukan untuk melihat beberapa hal terkait perawatan intensif bagi pasien Covid-19, tingkat keparahan dan kematian yang disebabkan infeksi virus corona ini.

Analisis ini mungkin dapat membantu mengidentifikasi karakteristik klinis yang menentukan tingkat keparahan penyakit.

"Di sini kami menggambarkan hasil analisis kami tentang karakteristik klinis Covid-19 dalam kelompok pasien yang dipilih di seluruh China," kata para peneliti dalam jurnal makalah di NEJM.

Para peneliti menyeleksi riwayat paparan virus corona terbaru, gejala klinis dan temuan di laboratorium tentang catatan medis elektronik.

Baca juga: CT Scan Pasien Covid-19 Ini Tunjukkan Keparahan akibat Virus Corona

Penilaian radiologis termasuk rontgen dada atau CT Scan dada, serta semua pengujian laboratorium dilakukan sesuai dengan kebutuhan perawatan klinis pasien Covid-19.

Tingkat keparahan Covid-19

Berdasarkan data yang dianalisis, para peneliti mendefinisikan tingkat keparahan Covid-19 dengan menggunakan pedoman American Thoracic Society untuk pneumonia yang diperoleh dari masyarakat.

Para peneliti dalam makalah ini menyimpulkan tingkat keparahan Covid-19 dikategorikan menjadi dua, yakni non-severe (tidak parah) dan parah.

Pasien non-servere ada 926 pasien dan kasus infeksi virus corona dengan tingkat keparahan tinggi ada 173 pasien.

Pasien dengan penyakit parah, sebagian besar berusia lebih tua. Selain itu, sekitar 38,7 persen pasien Covid-19 memiliki penyakit penyerta dengan penyakit parah.

Sedangkan pasien dengan penyakit ringan atau tidak parah ada sekitar 21 persen.

Selama fase awal wabah Covid-19, diagnosis penyakit dipersulit dengan keragaman gejala, hasil pencitraan radiologi serta keparahan penyakit penyerta itu sendiri.

Baca juga: Kematian akibat Corona Tinggi Mungkin karena Badai Sitokin, Kok Bisa?

Demam diidentifikasi pada 43,8 persen pasien pada saat deteksi awal, namun kemudian berkembang menjadi 88,7 persen setelah mereka dirawat di rumah sakit.

Penyakit parah terjadi pada 15,7 persen pasien Covid-19 setelah masuk ke rumah sakit.

Sedangkan pada pemeriksaan awal, sebanyak 2,9 persen pasien dengan penyakit parah dan 17,9 persen pasien dengan penyakit non-severe, tidak menunjukkan adanya kelainan radiologis yang dicatat.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Sumber NEJM
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X