Pembangunan Pangkalan di Bulan, Ilmuwan Akan Gunakan Urine Astronot

Kompas.com - 01/04/2020, 08:03 WIB
Ilustrasi astronot lakukan misi di permukaan Bulan. Ilustrasi astronot lakukan misi di permukaan Bulan.


KOMPAS.com - Ambisi umat manusia untuk tinggal di Bulan semakin kuat. Berbagai upaya dilakukan para astronot untuk dapat membuat manusia bisa hidup di luar Bumi.

Misi Apollo selama ini membuat astronot bisa berada di Bulan, namun hanya dalam jangka waktu yang tidak lama.

Untuk itu, diperlukan tempat yang bisa ditinggali lebih lama, mungkin dengan membangun pangkalan permanen.

Kendalanya, tidak mungkin membawa material bangunan dan logistik yang berat serta dalam jumlah besar ke luar angkasa.

Baca juga: Karena Virus Corona, NASA Tunda Peluncuran Misi Baru Artemis ke Bulan

Para astronom badan antariksa sedang menyelidiki bahan yang dapat ditemukan di Bulan, yang mungkin dapat dijadikan material untuk membangun pangkalan ini.

Lebih spesifik, mereka menyebut urea astronot yang memungkinkan untuk digunakan pada plasticise beton, yang akan digunakan sebagai kerangka struktur pembangunan di Bulan.

Menjadikannya lebih fleksibel, sehingga dapat menghasilkan bangunan yang lebih padat dan keras.

"Untuk membuat beton geopolimer yang akan digunakan di Bulan, idenya adalah dengan menggunakan apa yang ada di sana," ungkap ilmuwan material Ramón Pamies dari Polytechnic University of Cartagena di Spanyol, melansir Science Alert, Selasa (31/3/2020).

Baca juga: Komposisi Oksigen di Bumi dan Bulan Tidak Identik, Ini Kata Ilmuwan

Bahan yang ada di sana, di antaranya seperti regolith yakni material lepas dari permukaan Bulan dan air dari es yang ada di beberapa area.

Pamies mengatakan penelitian ini telah melihat produk limbah, seperti urine dari para astronot yang menempati pangkalan Bulan juga dapat digunakan.

"Dua komponen utama cairan tubuh ini adalah air dan urea, molekul yang memungkinkan mengikat hidrogen agar tidak rusak dan, karenanya, mengurangi viskositas dari banyak campuran berair," jelas Pamies.

Ilmuwan lakukan simulasi material bangunan

Para ilmuwan di Bumi sudah melakukan percobaan untuk menentukan bahan mana yang layak untuk digunakan dalam membangun pangkalan Bulan.

Kendati demikian, ada beberapa masalah yang perlu dipertimbangkan.

Di antaranya temperatur Bulan yang bervariasi, dari 120 derajat Celcius pada siang hari, dan minus 130 derajat Celcius pada malam hari. Bahkan, kondisi temperatur suhu di Bulan bisa lebih dingin dari wilayah kutub.

Oleh karena itu, bahan bangunan yang disiapkan harus dapat mampu menahan panas yang dapat berubah secara signifikan.

Baca juga: NASA Rekrut Astronot untuk Misi ke Bulan dan Mars, Ini Kriterianya

Selain itu, Bulan tidak memiliki lapisan atmosfer, sehingga permukaannya selalu terkena banyak radiasi.

Tentunya, tanpa atmosfer, tidak ada yang bisa membakar meteor yang mungkin bisa menghujani kapan saja.

Diperkirakan sebanyak 44.000 kilogram bahan meteor menghantam Bumi setiap harinya, sehingga ada banyak potensi bombardir meteor yang harus ditahan oleh struktur Bulan.

Urea dapat ditemukan di mana saja. Tim peneliti memutuskan untuk mencoba membangun beberapa struktur kecil dengan mensimulasikan regolith Bulan dan urea.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mengejutkan, Nenek Moyang Dinosaurus Ternyata Seukuran Cangkir Kopi

Mengejutkan, Nenek Moyang Dinosaurus Ternyata Seukuran Cangkir Kopi

Fenomena
Gempa Rangkasbitung Terasa hingga Jakarta, Kenapa Rasanya Bergoyang Naik Turun?

Gempa Rangkasbitung Terasa hingga Jakarta, Kenapa Rasanya Bergoyang Naik Turun?

Oh Begitu
Peringatan dari Alam, Wabah Belalang Serang Afrika

Peringatan dari Alam, Wabah Belalang Serang Afrika

Fenomena
4 Gempa dengan Kekuatan di Atas M 5,0 Guncang Indonesia, Ada Apa?

4 Gempa dengan Kekuatan di Atas M 5,0 Guncang Indonesia, Ada Apa?

Oh Begitu
Kelelawar Meksiko Terancam Punah, Studi DNA Bisa Lindungi Mamalia Terbang Ini

Kelelawar Meksiko Terancam Punah, Studi DNA Bisa Lindungi Mamalia Terbang Ini

Fenomena
Fenomena Langka: Bulan, Jupiter, dan Saturnus Sejajar hingga Malam Ini

Fenomena Langka: Bulan, Jupiter, dan Saturnus Sejajar hingga Malam Ini

Fenomena
Ilmuwan Temukan Dua Planet Melakukan ‘Tarian Gravitasi’

Ilmuwan Temukan Dua Planet Melakukan ‘Tarian Gravitasi’

Fenomena
Gempa Hari Ini: Setelah Banten dan Jakarta, M 5,2 Guncang Laut Bengkulu

Gempa Hari Ini: Setelah Banten dan Jakarta, M 5,2 Guncang Laut Bengkulu

Fenomena
Mirip Penguin Purba, Burung Raksasa Ini Tingginya Lebih dari 2 Meter

Mirip Penguin Purba, Burung Raksasa Ini Tingginya Lebih dari 2 Meter

Fenomena
Gempa Hari Ini: M 5,4 Guncang Rangkasbitung, Terasa hingga Jakarta

Gempa Hari Ini: M 5,4 Guncang Rangkasbitung, Terasa hingga Jakarta

Fenomena
Pakar Tektonik ITB: Gempa Rangkasbitung Bukan Gempa Megathrust

Pakar Tektonik ITB: Gempa Rangkasbitung Bukan Gempa Megathrust

Fenomena
Mengenal Jenis Vaksin Kucing dan Penyakit yang Sering Dialami Si Pus

Mengenal Jenis Vaksin Kucing dan Penyakit yang Sering Dialami Si Pus

Oh Begitu
Wabah Pes Muncul di China, Dulu Sebabkan ‘Black Death’ yang Tewaskan Jutaan Jiwa

Wabah Pes Muncul di China, Dulu Sebabkan ‘Black Death’ yang Tewaskan Jutaan Jiwa

Fenomena
Petir Bunuh 147 Orang India, Bagaimana Udara Panas dan Lembap Memicunya?

Petir Bunuh 147 Orang India, Bagaimana Udara Panas dan Lembap Memicunya?

Oh Begitu
Seri Baru Jadi Ortu: Benarkah Bayi Mewarisi Alergi dari Orangtua?

Seri Baru Jadi Ortu: Benarkah Bayi Mewarisi Alergi dari Orangtua?

Oh Begitu
komentar
Close Ads X