Wakatobi Terapkan Sistem Buka Tutup Kawasan Gurita, Hasil Tangkapan Berlimpah

Kompas.com - 01/04/2020, 07:02 WIB
Gurita purba punya cangkang. Gurita modern tak punya itu karena akan membuatnya tidak gesit. ShutterstockGurita purba punya cangkang. Gurita modern tak punya itu karena akan membuatnya tidak gesit.

KOMPAS.com - Taman Nasional Wakatobi merupakan sebuah Kabupaten di Provinsi Sulawesi Tenggara yang terdiri dari empat pulau yaitu Wangi-wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko.

Kekayaan alam bawah laut di kawasan wisata sekaligus Taman Nasional Wakatobi tak sebatas terumbu karang. Tapi juga fauna laut seperti ikan dan gurita, sumber pangan sekaligus sumber ekonomi utama masyarakat setempat.

Setiap pulau di Wakatobi memiliki keistimewaannya masing-masing dalam menjaga kelestarian dan kebermanfaatan alam.

Baca juga: Bank Ikan Jaga Laut Wakatobi hingga Dapat Penghargaan dari New York

Pulau Kaledupa contohnya, selain menjadi pulau yang dipagari oleh bakau alami, ternyata mereka juga memiliki cara kelola yang baik untuk memanfaatkan hasil panen berupa gurita.

Tepatnya di Desa Darawa. Masyarakatnya memberlakukan sistem buka-tutup kawasan tangkap gurita, yang disebut "Program Gurita Wakatobi".

Anggota Forum Kahedupa Toudani (Forkani), Mursiati menjelaskan bahwa program khusus untuk mengelola sistem tangkap gurita ini sudah dilakukan sejak lama. Pada tahun 2016 dengan bantuan dampingan dari lembaga konservasi internasional bernama Blu Ventures.

Kenapa dibuat program gurita Wakatobi?

Sistem kelola kawasan tangkap gurita ini berawal dari kegelisahan dan keluhan masyarakat karena hasil tangkapan mereka mengalami penurunan.

Mulai dari hasil gurita yang ukurannya kecil, jumlah tangkapan yang sedikit, dan juga hasil penjualan juga rendah. Sedangkan, gurita menjadi salah satu sumber penjualan hasil laut utama di Darawa.

Berangkat dari persoalan ini, Nusi sapaan akrab Mursiati menjelaskan bahwa Forkani mengajak berdiskusi dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang program tersebut.

Baca juga: Cegah Penyebaran Corona, Pakar Desak Pemerintah Terapkan Karantina Pulau

Masyarakat akan didampingi untuk membantu sistem ini berjalan dengan baik, sesuai dengan aturan adat.

"Kita pakainya aturan adat karena itu wilayah laut. Aturan tertulis itu tidak ada, cuma aturan bersama untuk saling menjaga," kata Nusi saat acara kunjungan media trip oleh Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) di Wakatobi, Minggu (1/3/2020).

Jadi, masyarakat akan saling menjaga dan mengawasi siapa saja yang melakukan penangkapan sebelum waktunya, dan berikan sanksi sesuai kesepakatan dari musyawarah bersama.

Para diver atau penyelam sedang menikmati keindahan bawah laut di perairan WakatobiDok. Humas Kementerian Pariwisata Para diver atau penyelam sedang menikmati keindahan bawah laut di perairan Wakatobi

Periode penutupan kawasan gurita

Mekanisme yang diberlakukan dalam sistem kelola gurita dilakukan dengan periode penutupan menangkap gurita selama tiga bulan.

Periode Juli hingga September, nelayan tidak diperkenankan menangkap gurita di kawasan yang telah ditentukan.

Di Wakatobi, ada 14 titik kawasan gurita di laut lepas yang telah ditentukan sebagai kawasan gurita, termasuk di Desa Darawa.

Baca juga: Misool Timur Terapkan Sistem Sasi Adat untuk Kelola Teripang

"Bukan pelarangan tapi sistem kelola saja. Ini biar masyarakat sistemnya menabung guritanya," kata Nusi.

Selama tiga bulan itulah adalah masa gurita akan berkembangbiak dan diharapkan sudah berukuran besar saat masanya nelayan diperbolehkan melaut.

Akan tetapi, bukan hanya gurita yang tidak boleh ditangkap selama masa penutupan tiga bulan itu. Seluruh biota laut tidak diperkenankan untuk ditangkap dengan alasan apapun.

Baca juga: Misool Timur di Raja Ampat Terapkan Deklarasi Adat untuk Kelola Perairan

Namun, dalam masa penutupan kawasan gurita yang telah disepakati itu, masyarakat masih diperbolehkan menangkap gurita ataupun biota lainnya di wilayah luar dari itu.

Periode buka kawasan gurita

"Kalau pas dibuka (kawasan gurita), nelayan baru boleh tangkap gurita di kawasan itu tadi," ujar Nusi.

Dulu, setelah pembukaan kawasan gurita jadi kawasan tangkap. Maka selama tujuh hari pertama hanya nelayan laki-laki yang diperkenankan untuk menangkap ikan di kawasan gurita itu terlebih dahulu. Barulah nelayan perempuan diperbolehkan paska tujuh hari pertama.

Lantas hal ini kembali menjadi polemik di sana. Para nelayan perempuan protes karena hasil tangkapan mereka lebih sedikit dibandingkan laki-laki, akibat sudah banyak diambil nelayan laki-laki pada tujuh hari pertama kawasan gurita itu dibuka.

Baca juga: Kamasutra Satwa: Gurita Jantan Tancapkan Penis pada Hidung Pasangannya

Untuk diketahui, di Wakatobi termasuk Desa Darawa terdapat banyak nelayan perempuan. Sebab, tidak semua keluarga yang masih memiliki laki-laki sebagai tulang punggung keluarga ataupun kepala keluarga.

"Nelayan perempuan banyak yang protes, tangkapan mereka sedikit hasilnya. Jadilah kami musyawarah lagi dengan masyarakat di sana, dan hasilnya kawasannya kami pisah. Ada yang untuk nelayan laki-laki dan nelayan perempuan," ujar dia.

Pantai Liya Togo, di sisi selatan Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara menjadi salah satu obyek wisata pariwisata yang dikelola masyarakat setempat.KOMPAS.com/BUDI BASKORO Pantai Liya Togo, di sisi selatan Pulau Wangi-Wangi, Wakatobi, Sulawesi Tenggara menjadi salah satu obyek wisata pariwisata yang dikelola masyarakat setempat.

Kawasan gurita untuk kaum nelayan laki-laki memiliki area program mencapai 50,3 hektare, sedangkan nelayan perempuan 23 hektare.

Baca juga: Perubahan Iklim Bikin Gurita dan Kepiting Jadi Buta

Sementara itu, pembagian kawasan itu ditandai dengan bendera berwarna merah dan biru. Biru sebagai kawasan gurita nelayan laki-laki, dan merah untuk nelayan perempuan.

Nusi mengatakan, meski masih dalam periode penutupan kawasan gurita yang sama yaitu tiga bulan mulai Juli hingga September, nelayan perempuan juga bisa mengambil hasil alam di kawasan gurita sejak kawasan tersebut dibuka kembali.

Bahkan, nelayan perempuan di Desa Darawa saat ini mendapatkan keuntungan lebih sebab nelayan perempuan tetap diperbolehkan untuk menangkap gurita di kawasan laki-laki. Tetapi tidak sebaliknya, nelayan laki-laki tetap tidak boleh menangkap di kawasan tangkap nelayan perempuan.

"Ini enaknya nelayan perempuan. Bisa tangkap di tempat nelayan laki-laki. Tapi nelayan laki-laki tidak boleh tangkap di kawasan perempuan. Tapi ini tidak jadi masalah di sana," jelas Nusi.

Hasil tangkapan berlimpah

Dengan adanya sistem buka dan tutup kawasan tangkap gurita ini, masyarakat merasakan manfaat dan hasil ekonomis untuk kesejahteraan mereka.

Untuk Pulau Wangi-wangi satu orang pengepul bisa mengumpulkan sekitar 11 ton gurita dalam seminggu.

Sementara di Desa Darawa, dengan 76 nelayan saja, bisa menghasilkan satu ton lebih gurita segar siap jual selama satu bulan. Hasil panen ini tidak termasuk dengan hasil tangkapan dari Suku Bajo yang juga mendiami wilayah tersebut.

Baca juga: Sempat Dikira Jantan, Gurita Ini Diam-diam Melahirkan 10.000 Anak

Gurita hasil tangkapan nelayan di Desa Darawa sendiri sebelum dijual, akan dipilah berdasarkan ukuran atau bobotnya.

Data pada tahun 2017, kata dia, dalam satu bulan setidaknya yang paling banyak sekitar 670 kilogram adalah gurita kategori C dengan bobot antara 0,5 hingga 0,9 kilogram, harga jualnya Rp 10.000 per kg.

Salah satu sudut Desa Kulati di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.KOMPAS/INGKI RINALDI Salah satu sudut Desa Kulati di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.

Sementara, gurita kategori B dengan bobot satu hingga 1,4 kilogram dijual seharga Rp 17.000 per kilogram. Gurita yang memiliki bobot 1,5 kilogram bahkan lebih bisa dihargai Rp 23.000 per kilogram.

"Kalau dulu sebelum ada kawasan buka-tutup untuk gurita ini, mereka (nelayan) hanya mendapatkan 200 kilogram yang ditangkap. Itu mereka merugi 89 juta," jelas Nusi.

Baca juga: Jarang Muncul, Pergerakan Langka Gurita Dumbo Terekam Kamera

Umumnya, gurita yang dihasilkan dari Wakatobi akan dikirimkan ke Kendari. Kendati pun harga jualnya terbilang tinggi, tetapi Kendari sendiri saat ini juga sudah mendapatkan pasokan gurita dari daerah lain.

Hingga saat ini, sistem buka-tutup kawasan gurita di Desa Darawa, Pulau Kaledupa, Wakatobi masih dilakukan. Penangkapan ramah lingkungan dilakukan sebagai bentuk kepedulian dan menjaga kelestarian alam.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Luar Angkasa Banyak Sampah, ESA Lakukan Misi Bersih-Bersih

Luar Angkasa Banyak Sampah, ESA Lakukan Misi Bersih-Bersih

Fenomena
Dicap Predator Buas, Hiu Raksasa Megalodon Rawat Anak Hingga Mandiri

Dicap Predator Buas, Hiu Raksasa Megalodon Rawat Anak Hingga Mandiri

Fenomena
Hati-hati, Memasak dengan Kayu Bakar bisa Sebabkan Kerusakan Paru-paru

Hati-hati, Memasak dengan Kayu Bakar bisa Sebabkan Kerusakan Paru-paru

Oh Begitu
Meninggalnya Bupati Situbondo, Benarkah Ada Jenis Virus Corona Ganas?

Meninggalnya Bupati Situbondo, Benarkah Ada Jenis Virus Corona Ganas?

Oh Begitu
Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Setelah Sinovac, Mungkinkah Vaksin Covid-19 AstraZeneca dan Pfizer Digunakan Juga di Indonesia?

Oh Begitu
Remaja Wajib Tahu, Kehamilan Usia Dini Berisiko Biologis hingga Psikologis

Remaja Wajib Tahu, Kehamilan Usia Dini Berisiko Biologis hingga Psikologis

Kita
Polemik Lobster, Bagaimana Potensi Benih Lobster Alam di Laut Indonesia?

Polemik Lobster, Bagaimana Potensi Benih Lobster Alam di Laut Indonesia?

Oh Begitu
Jutaan Rumput Laut Menginvasi Samudra Atlantik, Ini Dampaknya

Jutaan Rumput Laut Menginvasi Samudra Atlantik, Ini Dampaknya

Fenomena
Kapan Vaksin Covid-19 Tersedia di Negara-negara Asia? Ini Perkiraannya

Kapan Vaksin Covid-19 Tersedia di Negara-negara Asia? Ini Perkiraannya

Oh Begitu
Rahasia Alam Semesta: Bagaimana Aurora Si Cahaya Warni-warni Menari Terjadi?

Rahasia Alam Semesta: Bagaimana Aurora Si Cahaya Warni-warni Menari Terjadi?

Oh Begitu
4 Mitos Seputar Imunisasi, Sebabkan Demam hingga Autisme

4 Mitos Seputar Imunisasi, Sebabkan Demam hingga Autisme

Kita
Hingga Besok, Wilayah Ini Berpotensi Alami Gelombang Tinggi 4 Meter

Hingga Besok, Wilayah Ini Berpotensi Alami Gelombang Tinggi 4 Meter

Fenomena
Mengenal Penyakit Paru Obstruksi Kronik, dari Gejala hingga Faktor Risiko

Mengenal Penyakit Paru Obstruksi Kronik, dari Gejala hingga Faktor Risiko

Kita
Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Bumi Awal Dulu Punya Atmosfer yang Beracun, Ditutupi Lautan Magma

Fenomena
Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Mengenal 2 Ilmuwan Peraih L'Oreal-UNESCO for Women in Science 2020

Kita
komentar
Close Ads X