"Bank Ikan" Jaga Laut Wakatobi hingga Dapat Penghargaan dari New York

Kompas.com - 30/03/2020, 10:00 WIB
Cara mengajarkan peduli lingkungan di SD Negeri Kulati, Wakatobi KOMPAS.com/Ellyvon PranitaCara mengajarkan peduli lingkungan di SD Negeri Kulati, Wakatobi

"Bank Ikan ini sekaligus akuarium alami. Segala macam jenis ikan ada, jadi seperti di kaca akuarium. Tidak ada pembatas, Bank Ikan itu di laut bebas dipagar dengan kesadaran," kata kakek pembuat oleh-oleh kue karasi khas Desa Kulati itu.

Kawasan Bank Ikan yang dipilih oleh masyarakat setempat diyakini menjadi rumah bagi beragam ikan di sana.

Mereka melihat, kejadian penangkapan ikan memakai alat-alat yang mengancam seperti bom ikan itu, sebagian ikan tidak ikut langsung mati di situ, melainkan hanya pergi dan akan kembali ke kawasan itu lagi saat keadaan membaik.

Adapun, jika ada orang yang melanggar umumnya bukanlah warga Desa Kulati, melainkan warga dari wilayah lain. Orang Sulawesi sendiri dikatakan tidak ada lagi yang melakukan perusakan ekosistem laut di wilayah itu.

"Sebelumnya mereka (orang Sulawesi) sendiri dengan sembarangan melakukan pemancingan dan penangkapan ikan. Setelah ada Bank Ikan itu dijaga bersama," tutur dia.

Di Pulau Tomia sendiri hingga saat terdapat lima Bank Ikan yang dikelola masyarakat dengan rincian tiga titik di Kelurahan Waha, satu titik di Kelurahan Usuku dan satu lagi berada di Desa Kulati.

Oleh sebab itu, dengan Bank Ikan ini kebutuhan pangan masyarakat selama musim angin timur yang sulit ikan, masih tetap dapat terpenuhi.

Baca juga: Pulau Kaledupa Wakatobi Jaga Mangrove Alami dengan Kearifan Lokal

Bank Ikan menangkan penghargaan di New York

Konservasi, pengelolaan, pemanfaatan dan sekaligus menjaga kelestarian alam dengan konsep kearifan lokal, dalam sistem Bank Ikan ini mendapatkan penghargaan dari Equator Prize.

Penghargaan itu diberikan kepada Komunto pada tahun 2010, dan perwakilannya diundang ke New York untuk menerima penghargaan internasional bergengsi itu.

Sementara itu, di dalam negeri sendiri konsep konservasi berbasis kearifan lokal ini juga mendapat apresiasi dari dua Non-Governmental Organization di Indonesia yaitu The Nature Conservation (TNC) dan WWF Indonesia.

Menurut Bapak Tua, penghargaan dan apresiasi yang diberikan itu bukanlah poin utama yang ingin dicapai oleh masyarakat dalam membuat konsep Bank Ikan sedari awal.

Melainkan, tujuan utama atau prinsip dasar dari konsep Bank Ikan adalah menjaga keutuhan kekayaan yang alam sekitar mereka miliki, supaya dapat tetap bertahan dan dirasakan manfaatnya untuk generasi penerus di masa yang akan datang.

Untuk diketahui, di Desa Kulati sendiri saat ini sudah ada komunitas desa bernama Poassa Nuhada yang menjadi central dan wadah masyarakat berdiskusi dan mengembangkan diri serta potensi wilayah mereka. Bapak Tua juga terlibat di Poassa Nuhada.

Dibantu dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), selain menjaga konsep Bank Ikan, masyarakat Desa Kulati juga melakukan berbagai upaya-upaya pelestarian alam yang dapat diambil manfaatnya, selaras dengan kearifan lokal, dan ramah lingkungan atau tidak merusak alam.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X