Kompas.com - 28/03/2020, 11:04 WIB
Petugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menunjukkan hasil tes cepat (rapid test) pendektesian COVID-19 kepada orang dalam pengawasan (ODP) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/3/2020). Tes tersebut diperuntukan bagi peserta Seminar Anti Riba yang berlangsung di Babakan Madang Kabupaten Bogor pada 25-28 Februari 2020, dimana dua orang peserta seminar tersebut meninggal dunia di Solo Jawa Tengah akibat COVID-19. ANTARA FOTO/YULIUS SATRIA WIJAYAPetugas Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor menunjukkan hasil tes cepat (rapid test) pendektesian COVID-19 kepada orang dalam pengawasan (ODP) di Bogor, Jawa Barat, Minggu (22/3/2020). Tes tersebut diperuntukan bagi peserta Seminar Anti Riba yang berlangsung di Babakan Madang Kabupaten Bogor pada 25-28 Februari 2020, dimana dua orang peserta seminar tersebut meninggal dunia di Solo Jawa Tengah akibat COVID-19.

Hal ini karena ketika ada infeksi di tubuh, maka yang naik terlebih dahulu adalah IgM. Ketika tubuh mulai membaik, barulah IgG ikut naik.

Lantas, ketika IgM dan IgG sama-sama positif, artinya pasien telah berada pada fase infeksi aktif.

Sementara itu, hasil IgM negatif dan IgG positif menunjukkan fase akhir infeksi atau adanya kemungkinan riwayat bahwa orang tersebut sudah pernah terinfeksi SARS-CoV-2 dan sembuh.

Baca juga: Tes PCR untuk Virus Corona, Benarkah Lebih Efektif Deteksi Covid-19?

Soal rapid test yang dijual online

Terkait maraknya penjualan rapid test secara online, Ari memperingatkan untuk melihat spesifikasi dan sensitivitasnya.

"Kita mesti hati-hati. Pertama, kita harus lihat spesifitasnya itu bagaimana?" ujarnya.

Disampaikan oleh Ari, pada saat ini ada 60-an rapid test yang dijual di pasaran internasional dengan spesifikasi dan sensitivitas yang berbeda-beda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Masalahnya, ketika alat yang digunakan tidak valid dan timbul hasil false negative (negatif palsu) di mana pasien sebenarnya positif tetapi hasil rapid test menunjukkan negatif, hal ini bisa jadi sangat berbahaya.

Orang yang menerima hasil false negative mungkin akan merasa tidak terinfeksi sehingga tidak melakukan pencegahan penyebaran virus corona.

"Saya tidak merekomendasi rapid test yang tidak jelas," ujar Ari.

Dia pun menambahkan bahwa hingga saat ini, belum ada satu pun rapid test yang diizinkan oleh Pemerintah Indonesia untuk diperjualbelikan.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.