Teknologi yang Mengerti Kita di Tengah Wabah Virus Corona

Kompas.com - 26/03/2020, 12:37 WIB
Ilustrasi work from home atau bekerja dari rumah. ShutterstockIlustrasi work from home atau bekerja dari rumah.

Oleh Diah Ayu Candraningrum, ST, MBA, MSi

DUA pekan terakhir, istilah social distancing menjadi kalimat yang akrab di telinga masyarakat.

Ini merupakan kebijakan pemerintah yang mengimbau masyarakat supaya tetap menjalankan interaksi sosial, tetapi dengan jarak tertentu alias berjauhan.

Meski bersifat imbauan, pelaksanaan pembatasan interaksi sosial ini menjadi wajib, terutama di saat jumlah penderita Covid-19 di Indonesia terus melonjak.

Sejak pertama kali pasien pertama di Indonesia diumumkan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Maret 2020, jumlah penderita positif Covid-19 hingga 24 Maret 2020 telah mencapai 686 penderita. Dari jumlah tersebut, diketahui 55 pasien menjadi korban jiwa dan sebanyak 30 pasien sembuh total.

Dengan segala kondisi ini, masyarakat Indonesia diharapkan dapat beraktivitas di rumah saja.

Masalahnya, saat ini masih banyak masyarakat yang justru menganggap program social distancing ini adalah program liburan, yang diisi dengan kegiatan di luar rumah bersama keluarga atau teman.

Media sosial pun meramaikan program ini dengan tagar #DiRumahAjaDulu dan tagar #AmanDiRumah.

Insan media pun menjalankan kampanye edukasi serentak dengan tagar #MediaLawanCovid19 per tanggal 24 Maret 2020.

Sekitar 50 media, termasuk Kompas.com, ikut serta dalam aksi yang bertujuan untuk penyebaran konten edukatif secara masif dalam upaya memerangi penyebaran virus corona di Indonesia (Tirto.id, 24/3/2020).

Kampanye edukatif ini dilakukan di tengah banyaknya informasi di media konvensional maupun media sosial, yang sering membuat masyarakat khawatir dan stres.

Atas dasar itu, berkegiatan di rumah saat ini dianggap sebagai salah satu langkah terbaik yang bisa dilakukan masyarakat.

Manusia sebagai makhluk komunikasi

Masalahnya, tidak semua orang bisa menikmati bekerja dari rumah. Sebagian masyarakat masih sulit mengubah kebiasaan bekerja dan berkegiatan di luar rumah. Sebagian yang lain juga tak bisa tinggal di rumah saja karena dorongan kebutuhan ekonomi.

Bagi kalangan masyarakat tertentu, kebutuhan komunikasi dan bersosialisasi menjadi kebutuhan utama yang tidak bisa mereka tinggalkan.

Sejatinya, komunikasi dengan orang lain merupakan kebutuhan dasar setiap manusia sebagai makhluk sosial.

Menurut Stephen W. Littlejohn, dalam bukunya Theories of Human Communication (Sendjaja, 2014); terdapat tiga pendekatan dalam berkomunikasi antarmanusia, antara lain pendekatan scientific (ilmiah-empiris), pendekatan humanistik (humaniora interpretatif), dan pendekatan social sciences (ilmu sosial).

Dalam aliran pendekatan scientific, umumnya berlaku di kalangan ahli ilmu eksakta seperti fisika, biologi, kedokteran, dan matematika.

Dalam cara pandang ini ditekankan unsur objektivitas dan pemisahan antara known (obyek yang ingin diketahui dan diteliti) serta knower (subyek pelaku atau pengamat).

Pendekatan ini berbeda dengan pendekatan humanistik, yang mengasosiasikan dengan prinsip subyektivitas.

Melalui metode ini, manusia mengamati sikap dan perilaku orang-orang di sekitarnya, membaur dan melibatkan diri secara aktif dalam kehidupan orang-orang di lingkungannya.

Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X