Viral Ajakan Hindari Temulawak dan Kunyit, Ketua Umum Dokter Herbal Membantah

Kompas.com - 20/03/2020, 16:30 WIB
Secangkir teh Kunyit dengan lemon dan jahe. Manfaat untuk mengurangi peradangan dan detoks hati. SHUTTERSTOCK/CozineSecangkir teh Kunyit dengan lemon dan jahe. Manfaat untuk mengurangi peradangan dan detoks hati.

KOMPAS.com – Kunyit, jahe dan temulawak kerap diborong masyarakat usai wabah corona positif menjangkiti Indonesia.

Namun, baru-baru ini beredar kabar bahwa kita harus menghindari kunyit dan temulawak untuk sementara waktu, karena kandungan curcumin yang disebut meningkatkan ekspresi enzim ACE2 yang merupakan reseptor Covid-19.

Dr Inggrid Tania, M.Si., selaku Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisonal dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) menyebutkan bahwa jamu yang mengandung temulawak dan kunyit sudah dikonsumsi masyarakat Indonesia selama berabad-abad.

Baca juga: Simpang Siur Curcumin pada Jahe dan Kunyit Terkait Corona, Apa Manfaat Sebenarnya?

Berdasarkan empirical experiental evidence, scientific evidence, dan clinical evidence jamu tersebut terbukti aman dan bermanfaat terhadap kesehatan.

“Di antaranya memelihara kesehatan, kebugaran dan vitalitas, bahkan memelihara kesehatan liver dan pencernaan,” tutur Inggrid dalam keterangan tertulis kepada Kompas.com, Jumat (20/3/2020).

Baik temulawak maupun kunyit mengandung ratusan senyawa aktif, salah satunya adalah curcumin. Berbagai penelitian terutama in vitro dan praklinis di dunia terhadap curcumin menunjukkan bahwa curcumin bersifat antiperadangan, antivirus, antibakteri, antijamur, dan antioksidan.

Baca juga: Simpang Siur Klorokuin dan Kina untuk Obati Corona, Ini yang Harus Anda Tahu

“Salah satu manfaat curcumin yang terungkap melalui berbagai penelitian dan uji klinis adalah meningkatkan sistem imunitas tubuh atau berperan sebagai imunomodulator,” jelasnya.

Penelitian terakhir terhadap virus SARS-CoV-2 adalah enzim yang bernama ACE2 (Angiotensin Converting Enzyme-2) yang terdapat pada sel inang (terutama sel alveolus dalam paru).

“Namun, pintu masuk virus corona tidak hanya bergantung pada ikatan protein spike virus dengan reseptor pada sel inang (ACE2), tapi bergantung pda ikatan protein spike virus oleh protease sel inang (TMPRSS2),” papar ia.

Ilustrasi curcumin, senyawa yang terkandung dalam jahe, kunyit, temulawak, dan sereh.SHUTTERSTOCK/kwanchai.c Ilustrasi curcumin, senyawa yang terkandung dalam jahe, kunyit, temulawak, dan sereh.

Secara fungsional, lanjut Inggrid, ada dua bentuk ACE2 yaitu bentuk fixed (menempel pada permukaan sel) dan soluble (bentuk bebas dalam darah).

ACE2 bentuk soluble diproyeksikan menjadi salah satu kandidat antivirus corona melalui mekanisme interseptor kompetitif yang mencegah ikatan antara partikel virus dengan ACE2 pada permukaan sel inang.

“Penelitian bio-informatika yang dipublikasikan pada Maret 2020 dan kepustakaan terbaru telah menyebutkan curcumin sebagai salah satu kandidat antivirus SARS-CoV-2. Maka diharapkan curcumin mampu meningkatkan ekspresi ACE2 dalam bentuk soluble yang dapat menghambat terjadinya ikatan antara protein virus dengan ACE2 bentuk fixed yang terdapat pada permukaan sel inang,” jelasnya.

Baca juga: WHO Umumkan Uji Klinis 4 Obat untuk Virus Corona di 10 Negara

Oleh karena itu, menurut Inggrid, belum ada satu pun penelitian yang mengonfirmasi dampak buruk temulawak, kunyit, maupun curcumin terhadap Covid-19.

“Kepustakaan jurnal yang dijadikan acuan oleh para penulis pesan singkat dengan Xue-Fen Pang sebagai peneliti utama, menyimpulkan curcumin meningkatkan ekspresi ACE2 pada sel miokardium hewan tikus (ACE2 bentuk fixed pada sel otot jantung tikus),” jelasnya.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Oh Begitu
Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Fenomena
Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Fenomena
Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Fenomena
Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fenomena
Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Oh Begitu
Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Oh Begitu
Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Oh Begitu
Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Oh Begitu
Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Fenomena
Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Oh Begitu
Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Oh Begitu
Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Oh Begitu
Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Oh Begitu
Bocah 7 Tahun Diduga Dinikahi Syekh Puji, Seperti Apa Dampak Psikologisnya?

Bocah 7 Tahun Diduga Dinikahi Syekh Puji, Seperti Apa Dampak Psikologisnya?

Oh Begitu
komentar
Close Ads X