Kompas.com - 16/03/2020, 20:02 WIB
Presiden Joko Widodo tiba untuk menyampaikan keterangan pers terkait penangangan COVID-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2020). Presiden meminta agar masyarakat Indonesia bekerja, belajar dan beribadah di rumah serta tetap tenang, tidak panik, tetap produktif agar penyebaran COVID-19 ini bisa dihambat dan diberhentikan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pras. ANTARAFOTO/SIGID KURNIAWANPresiden Joko Widodo tiba untuk menyampaikan keterangan pers terkait penangangan COVID-19 di Istana Bogor, Jawa Barat, Minggu (15/3/2020). Presiden meminta agar masyarakat Indonesia bekerja, belajar dan beribadah di rumah serta tetap tenang, tidak panik, tetap produktif agar penyebaran COVID-19 ini bisa dihambat dan diberhentikan. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/pras.

Harris mengatakan, tindakan pencegahan penyebaran virus sebaiknya dilakukan dalam minggu-minggu awal ketika ada kasus wabah muncul.

Hal ini agar sistem kesehatan dapat menyesuaikan dan mengakomodasi lebih banyak orang yang sakit dan mungkin membutuhkan perawatan rumah sakit.

"Ketika sistem kesehatan benar-benar dapat mengimbangi kemunculan pandemi, maka yang akan terjadi adalah skenario kurva biru yang lebih landai," kata Harris.

Baca juga: Panduan Mencegah Virus Corona, Pesan WHO untuk Kita Semua

Bukti nyata

Flattening the curve of the pandemic atau meratakan kurva pandemik sudah dilakukan AS ketika pandemi flu di tahun 1918 terjadi.

Penelitian telah menunjukkan bahwa semakin cepat pihak berwenang bergerak untuk menerapkan langkah pencegahan penularan penyakit, semakin banyak nyawa yang bisa diselamatkan.

Sejarah dua kota di AS, Philadelphia dan St. Louis dalam menghadapi wabah benar-benar menggambarkan seberapa besar perbedaan yang terjadi jika pemerintah dengan cepat melakukan tindakan pencegahan dan yang tidak.

Di Philadelphia, Harris mencatat, pemerintah kota mengabaikan peringatan yang diberikan para ahli penyakit menular, di mana wabah flu sudah beredar di Philadelphia.

Pemerintah justru mendukung parade besar yang mendukung ikatan Perang Dunia I, yang membuat ratusan ribu orang berkumpul.

"Hanya dalam waktu 48-72 jam, ribuan orang di seluruh wilayah Philadelphia mulai meninggal. Dalam enam bulan, sekitar 16.000 orang meninggal," kata Harris.

Sebaliknya di St. Louis, pemerintah daerah langsung menanggapi alarm para ahli. Menurut analisis flu 1918 yang terbit tahun 2007, dalam dua hari sejak kasus pertama dilaporkan, kota St. Louis melakukan strategi isolasi sosial.

"Mereka membatasi perjalanan, mengisolasi dan mengobati orang sakit, ornag yang terkena penyakit dikarantina, sekolah ditutup, dan mendorong social distancing. Selain itu juga mendorong membersihkan tangan secara teratur," ungkap Harris.

Upaya pencegahan yang dilakukan St. Louis berbuah manis. Tercatat jumlah kematian akibat flu hanya seperdelapan dibanding yang terjadi di Philadelphia.

Para peneliti menyimpulkan, andai saat itu St. Louis menunda upaya pencegahan selama satu atau dua minggu, mungkin nasibnya akan sama seperti Philadelphia.

Baca juga: Panduan Mencegah Virus Corona dengan Social Distancing, Apa Itu?

Pada saat penelitian 2007 dirilis, Dr. Anthony Fauci, direktur National Institute of Allergy and Infectious Diseases dan seorang penasihat utama dalam tanggapan AS terhadap Covid-19 menyatakan bahwa bukti pandemi 1918 jelas dapat diterapkan untuk virus corona.

Halaman:


Sumber NPR
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X