Analisis DNA Ungkap Keberadaan Nenek Moyang Misterius di Afrika

Kompas.com - 07/03/2020, 17:04 WIB
Perbandingan tengkorak Homo sapiens dengan Neanderthal WikipediaPerbandingan tengkorak Homo sapiens dengan Neanderthal

Oleh George Busby


SATU penemuan yang mengejutkan muncul dari pengurutan genom DNA manusia purba yaitu semua manusia di luar Afrika memiliki jejak DNA dalam genomnya yang tidak dimiliki oleh spesies kita.

Kira-kira enam miliar orang di Bumi yang leluhurnya bukan berasal dari Afrika mewarisi antara 1% dan 2% genom dari kerabat terdekat mereka yang sekarang telah punah: spesies Neanderthal. Orang-orang di Asia Timur dan Oseania juga mewarisi sejumlah kecil leluhur dari keluarga Denisovan, kerabat dekat dari Homo Sapiens.

Sekarang sebuah studi yang dipublikasikan di Science Advances menunjukkan bahwa manusia purba yang tinggal di Afrika mungkin juga telah mengalami kawin silang dengan para hominin purba. Mereka adalah spesies punah yang masih berkerabat dengan Homo Sapiens.

Perkawinan silang di luar Afrika terjadi setelah nenek moyang kita Homo Sapiens berkembang keluar dari Afrika menuju lingkungan baru. Di sanalah mereka berhubungan seks dengan spesies Neanderthal dan Denisovan.

Ini membawa kita pada penemuan baru. Studi genetik awal orang-orang dari seluruh dunia sebelumnya menunjukkan penyebaran kita saat ini merupakan hasil dari sebuah ekspansi tunggal manusia purba yang keluar dari Afrika sekitar 100.000 tahun lalu.

Namun, identifikasi leluhur Neanderthal dan Denisovan pada orang-orang Eurasia modern merupakan hal yang rumit.

Kami masih berpikir bahwa mayoritas leluhur orang-orang yang tidak tinggal di Afrika saat ini, dengan presentase antara 92 hingga 98,5%, memang berasal dari ekspansi di luar Afrika. Tapi kami mengetahui sekarang bahwa sisanya berasal dari spesies purba yang leluhurnya telah meninggalkan Afrika ratusan atau ribuan tahun sebelumnya.

Apa yang dulu terjadi di Afrika?

Pengetahuan akan perkawinan silang telah didukung oleh ketersediaan genom modern dan kuno yang jauh lebih besar berasal dari luar Afrika. Hal ini karena lingkungan dingin dan kering di Eurasia jauh lebih baik dalam melestarikan DNA dibandingkan dengan lingkungan panas dan tropis Afrika.

Namun pemahaman kami mengenai hubungan antara leluhur manusia purba di Afrika dan koneksi mereka dengan manusia purba lainnya semakin dalam.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Gejala Presimptomatik Muncul Setelah Setelah Diagnosis Positif Corona

Gejala Presimptomatik Muncul Setelah Setelah Diagnosis Positif Corona

Fenomena
Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Perdebatan Waktu Berjemur Paling Sehat, Ini Penelitian di Indonesia

Oh Begitu
Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Anak-anak Bisa Jadi Pembawa Corona Tanpa Gejala, Ini Penjelasannya

Fenomena
Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Infeksi Corona Tanpa Gejala, Studi Temukan di Negara-negara ini

Fenomena
Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Pandemi Corona Bikin Getaran di Muka Bumi Berkurang, Ini Penjelasannya

Fenomena
Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fosil Gigi Ungkap Anjing Laut Tanpa Telinga Pernah Hidup di Australia

Fenomena
Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Syekh Puji Nikahi Bocah 7 Tahun, Ahli Sebut Harus Diperiksa Menyeluruh

Oh Begitu
Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Kajian BMKG-UGM, Cuaca dan Iklim Memang Pengaruhi Wabah Corona, tapi...

Oh Begitu
Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Ahli Peringatkan, Corona Bukan Pandemi Terakhir yang Dihadapi Dunia

Oh Begitu
Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Kebakaran Australia Berakhir, Koala Mulai Dilepas Kembali ke Alam Liar

Oh Begitu
Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Ilmuwan Gunakan Selembar Kertas untuk Temukan Corona dalam Air Limbah

Fenomena
Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Disebut Gejalanya Mirip, Demam Covid-19 Lebih Jarang Dibanding SARS

Oh Begitu
Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Ahli Perkirakan, Ekosistem Laut Dunia Akan Kembali Pulih pada 2050

Oh Begitu
Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Mengenal IPAG60, Teknologi Pengolah Air Gambut Jadi Air Bersih

Oh Begitu
Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Karakter Klinis Covid-19, Tunjukkan Keparahan dan Kematian Corona

Oh Begitu
komentar
Close Ads X