Polusi Udara Lebih Mengancam Dunia Dibanding Corona, Ini Alasannya

Kompas.com - 04/03/2020, 11:04 WIB
Ilustrasi polusi udara dalam ruangan SHUTTERSTOCKIlustrasi polusi udara dalam ruangan

KOMPAS.com - Kabar dua orang WNI terinfeksi virus corona Wuhan alias Covid-19 membuat panik masyarakat Indonesia.

Namun perlu diketahui, polusi udara sebenarnya jauh lebih mematikan dibanding Covid-19. Apalagi saat ini Jakarta, Indonesia menjadi kota paling terpolusi di dunia.

"Sementara coronavirus baru sekarang mendominasi berita utama internasional, polusi udara telah menjadi pembunuh senyap yang menyebabkan hampir 7 Juta kematian per tahunnya," kata Frank Hammes, selaku CEO IQAir, dalam keterangan tertulisnya.

Menurut dia, dengan mengumpulkan dan memvisualisaikan data dari ribuan stasiun pemantauan kualitas udara, 2019 World Air Quality Report, memberikan konteks baru mengenai ancaman kesehatan lingkungan utama di dunia.

Baca juga: Survei: Pelajar Indonesia Anggap Polusi Isu Global yang Mendesak

Dari dahulu hingga saat ini, polusi udara menjadi ancaman terbesar bagi kesehatan manusia.

Temuan terbaru menunjukkan bahwa 90 persen populasi global saat ini menghirup udara yang tidak aman.

Data yang dikumpulkan IQAir, yang diterbitkan dalam 2019 World Air Quality Report mengungkapkan peringkat kota-kota di dunia yang paling tercemar, serta membeberkan perubahan konsentrasi partikulat PM 2.5 di seluruh dunia sepanjang 2019.

Hammes juga mengatakan bahwa meningkatnya konsentrasi partikulat tingkat polusi udara sepanjang tahun 2019 tersebut, dinyatakan sebagai akibat beberapa hal berikut:

1. Kebakaran Hutan

Kebakaran hutan dan praktik pembakaran lahan terbuka memiliki dampak besar pad kualitas udara kota-kota dan negara-negara di seluruh dunia.

Di antaranya adalah Singapura, Australia, Indonesia, Brasil, Kuala Lumpur, Bangkok, Chiang Mai, dan Los Angeles.

2. Badai Pasir

Penggurunan dan badai pasir mempunyai peran besar dalam kualitas udara yang buruk di Timur Tengah dan wilayah China barat.

3. Populasi meningkat (urbanisasi)

Populasi yang kian meningkat dan membesar di seluruh dunia saat ini, kata Hammes, tidak diikuti dengan kemudahan mendapatkan akses mengenai data polusi udara dalam real-time, khususnya di Afrika dan Timur Tengah.

Polusi akibat urbanisasi kota yang sangat cepat layaknya juga terjadi di wilayah Asia Tenggara.

Namun, dengan meningkatnya jumlah warga dunia dan LSM membuat terjadinya penyebaran sensor kualitas udara yang murah untuk mengisi kesenjangan data di kawasan tersebut.

Upaya itu berdampak positif karena data kualitas udara publik kini tersedia untuk pertama kalinya di Angola, Bahama, Kamboja, Kongo, Mesir, Ghana, Latvia, Nigeria dan Suriah.

4. Perubahan iklim

Data kualitas udara 2019 menunjukkan indikasi yang jelas bahwa perubahan iklim dapat secara langsung meningkatkan risiko paparan polusi udara, melalui peningkatan frekuensi dan intensitas kebakaran hutan dan badai pasir.

Demikian pula yang terjadi di banyak wilayah ketika peningkatan polutan PM2.5 dan gas rumah kaca yang terkait dengan perubahan iklim beberapa di antaranya disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil, seperti batubara.

Baca juga: Apa Saja yang Harus Diketahui Ibu Hamil Soal Virus Corona?

Aksi cepat atasi persoalan polusi

Meskipun telah ada beberapa inovasi infrastruktur dalam pemantauan kualitas udara secara global, akan tetapi di sisi lain masih ada jurang yang besar dalam akses tentang data polusi udara di seluruh dunia.

Dikatakan Hammes, diperlukan aksi yang cepat untuk mengatasi sumber-sumber emisi ini, serta untuk melindungi kesehatan masyarakat dan ekosistem.

"Sementara pemantauan kualitas udara meningkat, kurangnya data kualitas udara di sebagian besar dunia menimbulkan masalah serius, karena apa yang tidak diukur tidak dapat dikelola," ujar dia.

Hammes juga menambahkan, daerah-daerah yang kekurangan informasi kualitas udara diperkirakan menjadi daerah dengan polusi udara paling parah di dunia, yang artinya dapat menempatkan populasi besar di satu wilayah dalam keadaan berbahaya.

Seperti Afrika, benua dengan 1,3 miliar orang tersebut, saat ini hanya memiliki kurang dari 100 stasiun pemantauan yang membuat data PM 2.5 bisa diakses publik dalam waktu nyata.

“Lebih banyak data kualitas udara dalam waktu nyata dapat memicu warga dan pemerintah membuat keputusan yang lebih baik, yang nantinya mampu meningkatkan kehidupan jutaan orang hingga beberapa dekade ke depan,” tutur Hammes.

Baca tentang
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X