Kompas.com - 27/11/2019, 08:33 WIB
Tarsius niemitzi dok. LIPITarsius niemitzi

KOMPAS.com- Tarsius togean atau tarsius niemitzi telah dinyatakan sebagai spesies baru tarsius. Ini membuatnya menjadi tarsius endemik ke-12 di pulau Sulawesi, Indonesia.

Peneliti Pusat Penelitian Zoologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Ibnu Maryanto, mengatakan bahwa penamaan Tarsius niemitzi diambil dari nama Carsten Niemitz.

Carsten Niemitz adalah seorang tokoh biologi yang mendapat julukan bapak Tarsius, karena memiliki kontribusi signifikan saat pertama kali menemukan dan mempelajari tarsius secara sistematis di Sulawesi bersama muridnya Alexandra Nietsch.

Meskipun demikian, tarsius sendiri sudah memiliki nama lokal, yaitu tangkasi, bunsing atau prodi.

Baca juga: Seri Hewan Indonesia: Myzomela Prawiradilagae, Burung Endemik Pulau Alor

Proses identifikasi tarsius togean

Dituturkan oleh Ibnu, penelitian Tarsius togean telah dilakukan sejak tahun 2000.

Identifikasinya merupakan kolaborasi penelitian antara LIPI, Western Washington University, PT Hatfield Indonesia, Australian National University, Global Wildlife Conservation Austin, dan University of California.

Para ahli membandingkan tarsius togean dengan spesimen fisik tarsius jantan yang ditemukan pada tahun 2009 di Kecamatan Togean, Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah, dan disimpan di Museum Zoologicum Bogoriense (Museum Zoo Bogor). Ternyata, ada perbedaan morfologi dari tarsius togean ini.

"Morfologinya sangat banyak yang berbeda, ya mulai dari tengkorak, rambut pada ekornya dan juga rambut pada tubuhnya memiliki proporsi yang berbeda dengan lainnya," ujarnya.

Baca juga: Mengenal Tikus Ompong, Hewan Endemik Sulawesi Hanya 3 Ekor di Dunia

Ciri tarsius togean

dok. LIPI Tarsius niemitzi

Secara fisik, primata kecil ini memiliki ekor berpigmen gelap dan bulu wajah abu-abu gelap, khususnya pada tarsius dewasa. Hal ini dianggap tak lazim untuk spesies tarsius endemik Sulawesi dan pulau sekitarnya.

Lalu, Tarsius niemitzi jantan memiliki panjang ekor sekitar 262 milimeter dengan bagian yang ditumbuhi rambut berkisar 47-50 persen dari panjang total ekor, diukur dari bagian ujungnya.

Seumur hidupnya, satwa nokturnal togean ini hanya memiliki satu pasangan. Dia juga memiliki perbedaan secara taksonomi berdasarkan vokalisasinya.

"Secara akustik, warna suara tarsius togean memiliki duet yang sederhana, bahkan mungkin yang paling sederhana dari semua duet tarsius yang dikenal," tutur Ibnu.

Menurut darftar merah Uni Internasional untuk Konservasi Alam (IUCN) 2000, status konservasi Tarsius niemitzi atau togean ini masuk dalam kategori risiko rendah (least concern), yang kemudian berpotensi menjadi endangered (terancam kritis).

Untuk diketahui, Tarsius Togean ini menambah daftar ke-12 spesies tarsius yang endemik di Sulawesi.

Sementara di Indonesia sendiri, sudah diidentifikasi 13 jenis spesies tarsius dengan satu spesies bisa ditemukan di Sumatera dan Kalimantan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.