Kompas.com - 16/11/2017, 17:00 WIB
Dokter Kesehatan Hewan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memeriksa salah satu dari empat ekor paus yang mati pascaterdampar di Pantai Desa Durung, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (14/11/2017). Sebanyak empat ekor ikan paus mati menjadi tontotan warga meskipun petugas Kesehatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama aparat keamanan setempat telah memasang garis polisi sebagai larangan memasuki lokasi bangkai ikan tersebut karena dikhawatirkan menularkan penyakit berbahaya. Sementara itu enam ikan paus lainnya berhasil diselamatkan ke perairan lepas. ANTARA FOTO/AMPELSADokter Kesehatan Hewan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memeriksa salah satu dari empat ekor paus yang mati pascaterdampar di Pantai Desa Durung, Kecamatan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar, Aceh, Selasa (14/11/2017). Sebanyak empat ekor ikan paus mati menjadi tontotan warga meskipun petugas Kesehatan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) bersama aparat keamanan setempat telah memasang garis polisi sebagai larangan memasuki lokasi bangkai ikan tersebut karena dikhawatirkan menularkan penyakit berbahaya. Sementara itu enam ikan paus lainnya berhasil diselamatkan ke perairan lepas.

KOMPAS.com - Berbagai perbincangan ambergris yang ditemukan di Bengkulu menyedot perhatian publik. Tapi tahukah Anda apa yang membuat benda itu bernilai?

Dihibungi Kompas.com melalui sambungan telepon pada Rabu (15/11/2017), pakar mamalia laut LIPI, Sekar Mira menyebutkan bahwa ambergris adalah hasil sekresi dari saluran pencernaan paus sperma.

Jika dilihat dari fisiknya, ambergris atau yang juga sering disebut "muntahan" paus adalah zat padat, lilin, dan mudah terbakar yang diproduksi di usus ikan paus. Hingga saat ini belum pernah ada yang melihat paus mengeluarkan ambergris secara langsung.

Dikutip dari Livescience, Jumat (1/2/2013), para peneliti pun masih belum benar-benar yakin mengenai bagaimana paus sperma meghasilkan dan mengeluarkan benda ini. Namun dugaan sementara ambergris tidak keluar dari mulut, melainkan dari anus karena baunya.

Baca juga: Kasus Muntahan Paus di Bengkulu, Apa dan Mengapa Perlu Dikhawatirkan?

Biasanya, mereka mengeluarkan zat ini karena "salah makan". Salah makan yang dimaksud adalah ketika paus sperma menelan benda tajam yang sulit dicerna, seperti paruh cumi raksasa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Saat menelan benda semacam itu, mereka akan menciptakan sejenis lapisan lemak yang kemudian dikeluarkan. Biasanya, paus sperma jantan yang melakukan hal ini.

Chirstopher Kemp, penulis buku Floating Gold: the Natural (and Unnatural)History of Ambergris terbitan University of Chicago Press mengatakan bahwa ambergris mahal karena sangat langka.

"Hanya satu persen dari 350.000 paus sperma yang benar-benar dapat membuatnya," kata Kemp.

Hal senada juga disebutkan oleh Sekar Mira.

"Ambergris kan kayak byproduct di pencernaan, jadi sewaktu-waktu akan dikeluarkan. Untuk durasi atau rentang waktu paus sperma mengeluarkan ambergris ini belum ada catatannya hingga saat ini," kata Sekar.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X