Manusia Termulia, Kisah Teladan di Balik Wafatnya Nabi Muhammad SAW

Kompas.com - 13/05/2021, 12:00 WIB
Seekor burung terbang dengan latar belakang gerhana matahari parsial di Danau Hefner, Oklahoma City, 23 Oktober 2014. AP PHOTO / The Oklahoman, Sarah PhippsSeekor burung terbang dengan latar belakang gerhana matahari parsial di Danau Hefner, Oklahoma City, 23 Oktober 2014.

TATKALA Nabi Muhammad SAW wafat, banyak yang tak percaya. Nabi adalah manusia termulia, utusan Allah, pembawa wahyu untuk seluruh umat manusia.

Umar bin Khattab pun tak percaya. Ia menduga Nabi sedang pingsan. Umar sampai berbicara keluar masjid yang didengar banyak orang. Semua gundah. Semua pilu. Semua kebingungan.

Mereka hidup bersama Nabi, menyaksikan kehidupannya, mendengar tutur katanya yang lembut, menyaksikan kesantuan perilakunya. Para wanita memukul-mukul muka sendiri.

Di luar Umar terus berbicara di depan banyak orang bahwa Nabi hanya pergi kepada Tuhan seperti Nabi Musa yang menghilang dari tengah-tengah umatnya selama 40 hari.

Baca juga: Hikmah Ramadhan: Antara Mudik 2021 dan Prokes di Zaman Nabi Muhammad SAW

Abu Bakar Ash-Shiddiq tiba di rumah Aisyah, di mana Nabi wafat. Abu Bakar memperhatikan Nabi. Diangkatnya kepala Nabi.

“Alangkah sedapnya di waktu engkau hidup, alangkah sedapnya pula di waktu engkau wafat,” kata Abu Bakar setelah memperhatikan paras Nabi, “Maut yang sudah ditentukan Tuhan kepadamu sekarang sudah sampai kaurasakan. Sesudah itu takkan ada lagi maut menimpamu.”

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Abu Bakar meletakkan kembali kepala Nabi di bantal. Ia keluar rumah. Ia mendapati Umar masih terus meyakinkan banyak orang bahwa Nabi tidak meninggal.

“Sabar, sabarlah Umar! Dengarkan!” kata Abu Bakar. Tetapi Umar tak mau diam. Umar yang tegas itu seperti kehilangan tenaga. Ia tak percaya Nabi telah wafat.

Haekal (1984) mengisahkan, Abu Bakar lalu berbicara,”Saudara-saudara!” Orang-orang mulai beralih memperhatikan Abu Bakar, orang yang jujur.

“Barang siapa mau menyembah Muhammad, Muhammad sudah meninggal. Tetapi barangsiapa mau menyembah Tuhan, Tuhan hidup selalu tak pernah mati,” kata Abu Bakar. 

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar