Panutan dan Kepatuhan, Kisah Panglima Khalid bin Walid Dicopot Khalifah Umar

Kompas.com - 12/05/2021, 17:00 WIB
Ilustrasi gurun pasir di Irak Unsplash/Frederik LowerIlustrasi gurun pasir di Irak

KHALID bin Walid (592-642) adalah panglima perang. Ia jenderal di lapangan pertempuran. Sebagai komandan militer, namanya menggetarkan lawan-lawannya.

Dia adalah otak di balik kemenangan pasukannya mengalahkan pasukan Muslim dalam Perang Uhud tahun 625. Kala itu Khalid masih berada di barisan pasukan kafir Quraisy.

Setelah memeluk Islam, ia menjadi pembela terdepan. Sampai Nabi Muhammad SAW memberi julukan “Syaifullah” (pedang Allah). Ia pun menjadi komandan perang di barisan Muslim yang memenangi berbagai pertempuran.

Tugasnya di medan pertempuran terus berlanjut. Sewaktu Abu Bakar Ash-Shiddiq menjadi khalifah periode 632-634, Khalid termasuk komandan (dari 11 komandan pasukan) yang dikirim untuk memerangi pemberontakan kaum kafir dan mereka yang murtad, serta munculnya nabi-nabi palsu.

Baca juga: Hikmah Ramadhan: Piramid, Tempat Firaun Melihat Tuhan?

Fase selanjutnya Khalid menjadi komandan yang berhasil menaklukkan Irak dan Persia. Kala itu kaum Muslim menghadapi dua imperium besar, Persia dan Romawi Timur (Byzantium).

Baru saja menaklukkan Irak dan Persia, panggilan dari Khalifah Abu Bakar diterimanya, “Cepatlah kepada saudara-saudaramu di Syam!”.

Terima kasih telah membaca Kompas.com.
Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Khalid diperintahkan bergeser dari wilayah timur (Irak) menuju wilayah barat (Syam) yang merupakan wilayah kekuasaan Romawi Timur. Sejumlah negeri pun sudah direbut dari tangan Romawi Timur.

Pertempuran terhebat terjadi di Sungai Yarmuk (Suriah) sekitar tahun 636 (dinamankanlah Perang Yarmuk). Pasukan Muslim yang dipimpin Khalid bin Walid membuat pasukan Romawi Timur kucar-kacir.

Kemenangan itu membuka jalan penaklukan wilayah Syam. Reputasi Khalid sebagai panglima perang bergaung ke mana-mana. Namanya terus berkibar. Ia dielu-elukan oleh pasukannya. Di pihak lain, ia ditakuti musuh-musuhnya.

Di tengah kemasyhurannya, Khalid diterpa badai. Sejumlah isu ditujukan kepadanya, antara lain kebijakan Khalid memberi infaq 10.000 dirham kepada orang yang dianggap kuat, yaitu Al-Asy’ats bin Qais.

Baca juga: Hikmah Ramadhan: Antara Mudik 2021 dan Prokes di Zaman Nabi Muhammad SAW

Halaman:

25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar