Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Agus Fitrianto
Dosen Arsitektur dan Praktisi Arsitek

Seorang Arsitek berlisensi dan Pengajar Prodi Arsitektur

Inisiasi Peran Perempuan dalam Perencanaan Perkotaan

Kompas.com - 09/03/2023, 06:15 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

KOTA-kota ini tidak akan berfungsi dengan baik jika perempuan tidak memiliki suara yang setara dalam perencanaan dan pengelolaannya.

Setiap 8 Maret diperingati sebagai Hari Perempuan Internasional, yang memiliki nilai filosofis kesetaraan gender tertanam dalam setiap tujuan pembangunan berkelanjutan.

Namun perempuan dan anak perempuan menghadapi hambatan struktural dan sosial yang sangat besar untuk menjalani kehidupan yang adil, inklusif, dan berkelanjutan.

Ketika wanita melihat kota, apa yang mereka lihat?

Realita saat ini, sebagian besar kota dibangun oleh laki-laki, untuk laki-laki dengan sedikit atau tanpa memikirkan kebutuhan, aspirasi atau keamanan perempuan dan anak perempuan.

Dalam studi urban planning, the body of knowledge perencanaan kota ditujukan untuk semua lapisan masyarakat tidak terkecuali gender.

Peran perempuan dalam menata kota dengan persepsi dan pendekatan mereka tentu berbeda dengan peranan laki-laki yang cenderung mengutamakan faktor kecepatan, ketangguhan, dan aksesibilitas.

Perempuan melihat kota sebagai tempat keras yang mengancam keamanan mereka.

Faktor ketidaksiapan penjagaan, pencahayaan pada malam hari, atau pengawasan yang terus menerus demi keamanan mereka belum dirasakan secara maksimal.

Perencanaan kota yang memperhatikan aksesibilitas perempuan perlu diakomodasi dan disiapkan.

Perempuan menata kota

Beberapa perempuan tangguh yang memberikan sumbangsihnya terhadap perubahan perkotaan dapat kita telusuri dari beberapa akademis yang telah menerbitkan publikasi buku popular, salah satunya Jane Jacob.

Penulis menyadur cerita tokoh ini dari materi pemaparan Prof Edi Purwanto, seorang Guru Besar Arsitektur Universitas Diponegoro.

Beliau menjabarkan buku populer bagi perencana kota yang berjudul The Death and Life Of Great American Cities yang terbit 1961.

Buku ini memberikan gambaran pertumbuhan dan perubahan kota-kota di Amerika, pemikiran Jane Jacob dalam bukunya yang memperhatikan pentingnya trotoar, keselamatan, kontak antarmanusia, asimilasi anak-anak, hingga peran taman dalam keberlanjutan perkotaan.

Sisi feminisme dalam pemikiran perempuan coba dijabarkan agar kota menjadi inklusif terhadap perempuan dan anak perempuan.

Salah satu kota besar di Indonesia yang mendapatkan sentuhan inklusif dari perempuan, yaitu Kota Surabaya.

Penulis pernah berdomisili di Kota Surabaya pada periode 1998 hingga 2000 sehingga bisa merasakan bagaimana kondisi kota saat itu jauh dari kata layak huni dan ramah terhadap perempuan.

Pada periode kepemimpinan Wali Kota Tri Rismaharini yang memiliki latar belakang Pendidikan Arsitektur di Institut Teknologi Sebelas November, Kota Surabaya kemudian berubah dari kesan keras, horor, dan cadas, menjadi kota yang ramah terhadap pejalan kaki, penuh dengan penataan taman yang teduh dan indah. Kesan keras berangsur-angsur luntur.

Kesan ini penulis temui ketika melakukan perjalanan dari Tanjung Perak hingga Bundaran Waru Sidoarjo pada Desember 2022.

Kota Surabaya sudah mendapatkan berbagai macam penghargaan di bidang lingkungan hidup, bahkan penghargaan prestisius Adipura Kencana untuk kategori kota metropolitan.

Ini bisa menjadi bukti penting bahwa sentuhan perempuan dalam menata kota di tangan yang tepat akan melunakkan sebuah kota yang keras menjadi inklusi dan bisa diakses oleh semua gender.

Istilah inklusi mulai popular dalam perencanaan kota-kota di Indonesia. Inklusi memiliki arti semua lapisan masyarakat mampu hidup bersama-sama dengan aman dan yakin, serta mempunyai kesempatan sama untuk berpartisipasi penuh dalam dimensi spasial, sosial dan ekonomi tanpa adanya diskriminasi gender.

Dampak dari filosofi inklusif ini, kota diharapkan mulai memperhatikan penggunanya, tidak selalu gender laki-laki saja, namun mulai memperhatikan aksesibilitas perempuan dan anak perempuan dalam faktor keselamatan dan tata ruang desainnya.

Pendekatan berbasis inklusi ini diyakini akan memberikan peran perempuan lebih aktif dalam perencanaan kota pada masa depan.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com