Kompas.com - 15/09/2022, 16:30 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah menangani 49 titik perlintasan sebidang jalur kereta api di jalan nasional dari total 199 titik dengan membangun flyover dan underpass.

Direktur Jenderla (Dirjen) Bina Marga Kementerian PUPR Hedy Rahadian menerangkan, ini artinya terdapat sekitar 150 titik yang belum ditangani.

"Apabila kita estimasikan, biaya satu underpass atau flyover di jalan nasional sebesar Rp 150 miliar kita perkirakan kebutuhan biayanya Rp 22,50 triliun,” ungkap Hedy saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPR RI, Rabu (14/9/2022).

Hedy mengakui, tantangan utama dalam penanganan perlintasan sebidang rel kereta dengan jalan melalui pembangunan flyover/underpass yaitu membutuhkan biaya yang besar, termasuk pembebasan lahan.

Apabila dihitung biaya pembangunan infrastruktur flyover/underpass secara nasional pada perlintasan sebidang kereta yang resmi tetapi tidak dijaga, ini akan membutuhkan biaya sebesar Rp 300 triliun.

Hal ini mengacu data PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI tahun 2022, dimana angka kecelakaan di perlintasan sebidang jalur kereta api sebesar 89 persen terjadi di perlintasan tidak dijaga.

Baca juga: Tahun 2022: Pemerintah Akan Tutup 208 Titik Perlintasan Sebidang

Sementara berdasarkan data KAI Semester I tahun 2022, jumlah perlintasan sebidang yang resmi tidak dijaga sebanyak 3.132 titik atau sebesar 60 persen dari total 5.051 perlintasan sebidang di Jawa dan Sumatera, baik di jalan nasional maupun non-nasional.

Selain biaya besar, pembangunan flyover/underpass juga membutuhkan waktu cukup lama, sehingga juga berdampak pada munculnya titik kemacetan baru pada saat pembangunan.

Untuk itu, Hedy mengusulkan beberapa solusi dalam penanganan perlintasan sebidang kereta api.

Contohnya, kebijakan dalam pembangunan jalan baru yang melewati perlintasan kereta harus tidak sebidang seperti yang sudah dilakukan Kementerian PUPR pada jalan nasional bypass atau jalan lingkar.

“Kedua, kita harus mengubah jalan yang sebidang menjadi tidak sebidang, tetapi karena terdapat kendala biaya tadi bias dilakukan secara bertahap,” tambah dia.

Selanjutnya, bagaimana dapat memastikan lintasan kereta api harus dijaga, termasuk dengan menerapkan teknologi early warning system (sistem peringatan dini) yang tidak membutuhkan petugas jaga.

Kemudian, juga pemasangan rambu-rambu pada perlintasan kereta tetapi harus diikuti dengan displin pengguna jalan (edukasi).

 

 

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.