Menkeu Ajak Stakeholder Perumahan Dukung Sekuritisasi KPR di Indonesia

Kompas.com - 07/07/2022, 12:20 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Keuangan (Menkeu), Sri Mulyani Indrawati mengajak seluruh pemangku kepentingan (stakeholder) untuk mendorong pengembangan sekuritisasi Kredit Kepemilikan Rumah (KPR) di Indonesia.

Menurutnya salah satu stakeholder yakni Bank Indonesia dapat mendorong sekuritisasi melalui kebijakan makroprudential yaitu menurunkan risiko Aset Tertimbang Menurut Risiko (ATMR) sektor perumahan dan melonggarkan loan to value.

“Tujuannya adalah agar lebih banyak yang berani mendanai sektor perumahan karena risiko di dalam prudential frame- nya diturunkan oleh bank sentral,” ungkap Menkeu saat membuka acara “Unlocking Securitization Role in Developing Sustainable Finance” yang digelar oleh Direktorat Jederal Kekayaan Negara dan PT Sarana Multigriya Fiansial (SMF), pada Rabu (7/6/2022 ) di Hotel Borobudur Jakarta.

Baca juga: Kata Sri Mulyani, Sekuritisasi KPR Bisa Jadi Upaya Atasi Backlog Rumah

Menkeu menjelaskan adanya kerja sama yang erat dengan bank sentral melalui makroprudensial, OJK melalui mikroprudensial, dan Kementerian Keuangan dari sisi instrumen keuangan negaram serta kehadiran industri dan investor menjadi sangat penting.

Dikatakan, Indonesia dapat belajar dari kegagalan asset backed security milik Amerika Serikat pada tahun 2008-2009.

“Saat itu, mereka nggak tahu lagi apa aset yang ada di dalam security tersebut bahkan mereka tidak bisa mengetahui berapa risiko dari aset tersebut. Ini ekstrem yaitu excessive securitization dengan risk framework yang sangat mungkin tinggi,” jelasnya.

Sri Mulyani menuturkan bahwa sekuritisasi adalah bagaimana sebuah aset KPR yang jangka panjang 15 tahun akan dicicil oleh pemiliknya.

Aset tersebut akan menjadi underlying asset berupa surat berharga baru yang disebut Efek Beragun Aset berbentuk Surat Partisipasi (EBA-SP). Aset ini bisa dijual di secondary market.

“Aset di sini yaitu mortgage bukan rumahnya, namun cicilan tiap bulannya itu yang kemudian bisa dipackage dan dibentuk dalam bentuk security baru surat berharga baru yang kemudian bisa dibeli oleh investor,” lanjutnya.

Baca juga: Transaksi Sekuritisasi KPR di Indonesia Masih Minim

Investor kemudian bisa meng-assess beberapa risiko dan rate of return sehingga menciptakan likuiditas baru bagi penerbit EBA-SP yang kemudian dia bisa mencipakan mortgate baru lagi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.