Tak Terbukti Palsukan Akta dan Curi 21 SHGB dan SHM, Liem Kwek Liong Divonis Bebas

Kompas.com - 27/01/2022, 09:30 WIB

MEDAN, KOMPAS.com - Lim Kok Liong Alias David Putra Negoro, terdakwa dalam perkara pemalsuan akta dan penggelapan, divonis bebas dari seluruh dakwaan jaksa penuntut umum (Vrisfrahg) oleh majelis hakim yang diketuai Dominggus Silaban di Pengadilan Negeri (PN) Medan pada 17 Januari 2022 lalu.

Vonis ini menguatkan tuntutan Chandra Priono Naibaho dan Riachad Sihombing pada persidangan di 28 Desember 2021 agar terdakwa dibebaskan atau onslag van recht vervolging.

Kedua penuntut umum dari Kejaksaan Negeri Medan ini beralasan, perbuatan terdakwa bukan tindak pidana karena objek perkara yaitu Akta Kesepakatan Bersama Nomor 8 tanggal 21 Juli 2008 telah memiliki putusan perdata yang berkekuatan hukum tetap.

Menanggapi putusan bebas tersebut, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumatera Utara IBN Wiswantanu melalui Kepala Seksi Penerangan Hukum Yos Arnold Tarigan menyampaikan, selain membebaskan terdakwa dari semua dakwaan, hakim dalam putusannya juga memulihkan hak terdakwa dalam kemampuan kedudukan dan hakekat serta martabatnya.

Baca juga: Terbukti Mencuri 21 SHGB dan SHM tapi Dituntut Bebas, Pengacara: Ini Baru Pertama Kalinya di Sumut

"Mengembalikan barang bukti yang disita khususnya 21 SHM dan HGB kepada terdakwa. Hakim telah mengkaji objek perkara yaitu Akta Kesepakatan Bersama Nomor 8, ternyata diikuti pembuatan akta-akta lain yang tidak berdiri sendiri di rumah Jong Tjin Boen di Jalan Juanda 3 Nomor 30C, Medan dan dihadapan Notaris Fujiyanto Ngariawan," kata Yos dalam pernyataan tertulisnya yang diterima Kompas.com, Rabu (26/1/2022).

Hakim menilai, pembuatan akta disetujui semua pihak yaitu anak-anak Jong Tjin Boen. Hakim berkesimpulan bahwa akta dibuat semasa Jong Tjin Boen masih hidup.

Fakta persidangan, terdakwa tidak menikmati keuntungan materi dari akta kesepakatan bersama dan terdakwa bukan bagian dari para pihak.

Sebaliknya, justru pelapor telah mendapat bagian sesuai dengan persentasi yakni uang deposito, uang dividen dari pabrik minuman Vigour, dari penjualan harta tidak bergerak dan aset apartemen di Singapura.

Jaksa juga menemukan fakta persidangan bahwa setelah meninggalnya Tjong Tjin Boen, terdakwa selaku orang yang mengurus dan pengendali dalam akta sejak November 2008 sampai 2016.

Terdakwa telah membagi-bagikan uang deposito dan dividen dari pabrik minuman dan uang sewa ruko dan rumah secara proporsional dan adil kepada saksi korban yaitu Mimiyanti, Yong Gwek Jan dan ahli waris lainnya secara tunai dan transfer ke rekening pribadi masing-masing.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.