Bernardus Djonoputro
Ketua Majelis Kode Etik, Ikatan Ahli Perencanaan Indonesia (IAP)

Bernardus adalah praktisi pembiayaan infrastruktur dan perencanaan kota. Lulusan ITB jurusan Perencanaan Kota dan Wilayah, dan saat ini menjabat Advisor Senior disalah satu firma konsultan terbesar di dunia. Juga duduk sebagai anggota Advisory Board di Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan, Institut Teknologi Bandung ( SAPPK ITB).

Selain itu juga aktif sebagai Vice President EAROPH (Eastern Region Organization for Planning and Human Settlement) lembaga afiliasi PBB bidang perencanaan dan pemukiman, dan Fellow di Salzburg Global, lembaga think-tank globalisasi berbasis di Salzburg Austria. Bernardus adalah Penasehat Bidang Perdagangan di Kedubes New Zealand Trade & Enterprise.

Pakis Hutan, Tradisi Pamali, dan Tahun yang Baru

Kompas.com - 05/01/2022, 06:00 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

HARI pertama tahun 2022, saya habiskan di Cihideung, kawasan dataran tinggi Lembang, Jawa Barat, 1.250 di atas permukaan laut. Berjalan mandi matahari pada tahun yang baru.

Tahun baru ini tidak seperti biasa. Tidak ada kemacetan total. Sepertinya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) terselubung agenda penyelenggara negara cukup efektif. Namun penjaja penganan dan pasar tampak jadi agak kurang berseri.

Awal tahun baru ini para pegiat luar ruang pesta pora, paling tidak kawanan kami. Sepi membuat jalan lengang, segar, bukit-bukit kosong. Trekking nyaman, sampah pun bekurang.

Cihideung ke arah perkebunan teh Sukawarna, ke utara masuk areal kaki gunung Tangkuban Perahu dan Burangrang nan asri adalah bagian dari Kawasan Bandung Utara (KBU), dan surga para pegiat jalan luar ruang.

Sambil menenteng tahu sumedang hangat mengepul, saya berjalan di antara pepohonan pakis (dicksonia squarosa).

Masyarakat di pedusunan sunda menyebutnya pakis tihang, pakis siuer, bagedor, pakis payung, pakis cempor, sijabrig dan lain lain.

Di desa Cihideung ada kang Asep, merunduk-runduk di antara pepohonan pakis. Dia salah satu pebudi daya dengan kemampuan budidaya pakis yang jarang dimiliki orang.

Kesabarannya luar biasa menumbuhkan spora, menunggu tahunan buat pakis merah, hitam putih tumbuh tinggi dan subur.

Pakis khas membawa kita pada alam sub-tropis dan pegunungan dataran tigggi. Pakis saya juga tumbuh di rumah dan kamar mandi.

Menurut feng shui, pakis menetralkan energi negatif di kamar mandi.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.