Kompas.com - 08/12/2021, 08:30 WIB
This file photo taken on September 22, 2021 shows a general view of the Evergrande Center building in Shanghai on September 22, 2021. - A state crackdown on China's colossal property market has helped send one of its biggest developers to the brink of collapse, and analysts warn the fallout could lead to the bursting of a bubble that has been building for more than two decades. (Photo by Hector RETAMAL / AFP) AFP/HECTOR RETAMALThis file photo taken on September 22, 2021 shows a general view of the Evergrande Center building in Shanghai on September 22, 2021. - A state crackdown on China's colossal property market has helped send one of its biggest developers to the brink of collapse, and analysts warn the fallout could lead to the bursting of a bubble that has been building for more than two decades. (Photo by Hector RETAMAL / AFP)

JAKARTA, KOMPAS.com - Saham Evergrande Group, perusahaan properti terbesar di China dilaporkan anjlok sebesar 20 persen pada Senin (6/12/2021).

Dilansir dari Reuters, Selasa (7/12/2021), penurunan saham tersebut menunjukkan level terendah yang pernah dialami Evergrande, yaitu menjadi Rp 333.000.

Melalui laporannya pada hari Jumat, raksasa properti itu mengatakan bahwa kreditur telah meminta dana sebesar Rp 3 triliun tetapi mereka tidak dapat menjamin mampu melunasi semua kupon.

Karenanya, pimpinan Evergrande Hui Ka Yan, dipanggil oleh otoritas China. Dalam sebuah analisis dikatakan bahwa upaya bersama dari pihak berwenang mengisyaratkan Evergrande kemungkinan telah memasuki proses restrukturisasi aset utang yang dikelola. 

Baca juga: Evergrande Jual Unit Otomotif ke Perusahaan Inggris

Proses tersebut kemungkinan akan melibatkan koordinasi antara otoritas demi mempertahankan operasi proyek properti serta negosiasi dengan kreditur untuk memastikan pembiayaan serta penyelesaian proyek.

Untuk diketahui, Evergrande hanyalah satu dari sejumlah perusahaan developer yang kekurangan likuiditas.

Terdapat beberapa perusahaan lain, seperti Sunshine 100 China Holdings Ltd, Kaisa Group Holdings Ltd, China Aoyuan Property Group Ltd dan lainnya yang juga mengalami masalah yang sama.

Adapun penyebabnya adalah karena diberlakukannya pembatasan peraturan pada pinjaman yang akhirnya mendorong default utang luar negeri, penurunan peringkat kredit dan penjualan saham serta obligasi developer.

Oleh karena itu, sejak bulan Oktober, regulator telah mendesak bank untuk melonggarkan pinjaman demi kebutuhan pembiayaan normal dan memungkinkan lebih banyak perusahaan properti menjual obligasi domestik.

Akan tetapi, pemerintah tetap harus secara signifikan meningkatkan langkah-langkah pelonggaran kebijakan untuk mencegah penurunan tajam di sektor properti karena tekanan pembayaran yang meningkat.

 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Reuters
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.