Kompas.com - 17/11/2021, 14:30 WIB
Warga berusaha menerobos jalan yang terendam banjir di Tanjung Puri, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Minggu (14/11/2021). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebutkan masih ada sebanyak 32.919 warga di tujuh kecamatan yang terdampak banjir masih berada di tempat pengungsian, meskipun ketinggian air mulai menurun. ANTARA FOTO/ABRAHAM MUDITOWarga berusaha menerobos jalan yang terendam banjir di Tanjung Puri, Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat, Minggu (14/11/2021). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat menyebutkan masih ada sebanyak 32.919 warga di tujuh kecamatan yang terdampak banjir masih berada di tempat pengungsian, meskipun ketinggian air mulai menurun.

JAKARTA, KOMPAS.com - Hampir empat pekan banjir melanda Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat (Kalbar) dan sejumlah wilayah di sekitarnya.

Dari pantauan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) hingga saat ini banjir masih menggenangi 12 kecamatan di Sintang Kalimantan Barat.

Akibatnya, 10.381 kepala keluarga atau 33.221 jiwa warga saat ini masih bertahan di lokasi pengungsian yang tersebar di sejumlah titik.

Sementara itu, dari catatan BPBD Sintang hingga Sabtu (13/11/2021), total warga yang terdampak banjir sebanyak 29.623 kepala keluarga atau 88.148 jiwa.

Kawasan yang terdampak tersebut tersebar di 12 kecamatan yaitu Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, Binjai Hulu, Sintang, Sepauk, Tempunak, Ketungau Hilir, Dedai, Serawai, Ambalau, Sei Tebelian dan Kelam Permai.

Untuk wilayah yang paling parah terkena bencana banjir adalah di Kecamatan Kayan Hulu, Kayan Hilir, serta Sintang.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengungkapkan, banjir yang melanda Sintang disebabkan rusaknya catchment area (daerah tangkapan hujan).

Rusaknya daerah tangkapan hujan tersebut kemudian menyebabkan air di Sungai Kapuas meluap.

Baca juga: Tangani Banjir Bandang di Kota Batu, Basuki Minta Alur Sungai Diperlebar

"Iya itu kan memang karena kerusakan daerah tangkapan hujan yang sudah berpuluh-puluh tahun dan itu harus kita hentikan karena memang masalah utamanya ada di situ. Sehingga, Kapuas itu meluber karena daerah tangkapan hujannya rusak, itu yang lagi ingin kita perbaiki,” tutur Jokowi dikutip dari laman Sekretariat Kabinet, Rabu (17/11/2021).

Untuk memperbaiki daerah tangkapan hujan tersebut, Pemerintah akan membangun persemaian atau nursery yang diiringi dengan penghijauan, baik di hulu maupun di daerah-daerah tangkapan hujan itu sendiri.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.