Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 04/11/2021, 07:30 WIB
Audrey Aulivia Wiranto,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Meningkatnya popularitas lingkungan telah menyebabkan munculnya produk hijau.

Praktik ini tidak luput dari industri cat dan pelapis yang semakin banyak menawarkan produk berbasis “VOC Rendah” atau “Nol VOC”.

Ukuran kandungan kimiawi berbahaya dalam cat disebut volatile organic compounds (VOC).

VOC merupakan komponen kimia yang menguap di udara ketika mengaplikasikan cat atau ketika dalam proses pengeringan.

Baca juga: Tips Menghilangkan Cipratan Cat dari Ubin, Ini Panduannya

Meskipun label ini terdengar positif, penting untuk memahami dengan tepat apa artinya sehingga Anda dapat membuat keputusan yang tepat saat membeli cat atau pelapis untuk fasilitas Anda.

Mengurangi VOC dan Karbon Dioksida untuk meningkatkan produktivitas

Senyawa organik yang mudah menguap (VOC) adalah bahan kimia berbasis karbon yang mudah menguap ke udara pada suhu kamar.

VOC yang berbahaya tidak selalu sangat beracun, tetapi memiliki efek kesehatan jangka panjang yang kompleks.

Bahan ini dapat menyebabkan sakit kepala dan mual, dan bahkan merusak hati, ginjal.

Tingkat VOC yang tinggi di tempat kerja (di atas 500 gram per meter kubik) juga dapat menurunkan produktivitas.

Saat Anda mencium bau "cat baru", Anda menghirup VOC yang dapat mencakup fungisida, formaldehida, etilen glikol, dan benzena.

Baca juga: Bagaimana Membedakan Cat Vinil Matte dan Non-Vinil Matte?

Menghabiskan terlalu banyak waktu di sekitar asap beracun dari cat telah terbukti memperburuk gejala sinusitis dan asma.

Saat terhirup, pelarut menyerang paru-paru dan saluran pernapasan bagian atas. Begitu berada di paru-paru, asap dengan cepat mendapatkan akses ke aliran darah.

Sejumlah besar pelarut dalam darah dapat menyebabkan sesak napas, pusing dan bahkan pingsan

Kadar VOC yang tinggi dalam cat terutama dapat mempengaruhi pasien asma dan sinusitis. VOC juga dapat menyebabkan iritasi parah pada tenggorokan dan mata, serta sensasi terbakar pada selaput hidung.

Halaman:
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com