Kompas.com - 24/09/2021, 19:30 WIB
Pemuda 17 tahun asal Portland, Amerika Serikat, Charlie Abrams yang berhasil mengubah sampah plastik menjadi batu bata. Portland TribunePemuda 17 tahun asal Portland, Amerika Serikat, Charlie Abrams yang berhasil mengubah sampah plastik menjadi batu bata.

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemuda 17 tahun asal Portland, Amerika Serikat, Charlie Abrams mewujudkan ambisinya untuk mengurangi limbah plastik dengan mengubahnya menjadi bata bata.

Uniknya, batu bata tersebut akan ia gunakan untuk membangun rumah bagi para tunawisma yang berada di daerah tersebut.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Charlie yang saat ini masih berstatus sebagai siswa SMA Cleveland sudah dikenal sebagai seorang aktivis iklim sejak berada di kelas empat SD.

Ia terlibat banyak kampanye yang meminta pemerintah lebih memperhatikan soal lingkungan.

Baca juga: Makin Banyak Digunakan, Aspal Plastik Lebih Murah dan Tahan Lama

Selama masa pandemi Covid-19 di tahun 2020, Charlie yang banyak menghabiskan waktu di rumah pun memiliki ide untuk membangun hunian dari sampah plastik.

Dia pun merintis organisasi nirlaba tahun lalu bernama Recycled Living untuk membuat batu bata bangunan dari plastik limbah terkompresi untuk membangun rumah kecil bagi para tunawisma.

Untuk membuat bata tersebut, Charlie menggunakan tiga mesin yakni mesin penghancur kertas, pemanas, dan kompresor.

Tidak semua jenis plastik digunakan dalam proyek ini. Plastik PVC tidak digunakan lantaran mengandung bahan kimia berbahaya seperti asam klorida, yang dihasilkan pada suhu tinggi.

Sejauh ini, plastik yang digunakan adalah plastik berbahan polietilen densitas rendah dan beberapa polietilen densitas tinggi (HDPE).

Plastik kemudian dihancurkan menjadi serpihan dan dipanaskan hingga sekitar 110 derajat di ruang pemanas. Campuran lunak inillah yang akan dikompres hingga berbentuk bata.

Baca juga: Chandra Asri dan Sinarmas Gunakan Aspal Plastik di BSD City

Recycled Living mengumpulkan plastik bukan dari hasil sortir masyarakat untuk daur ulang namun lebih ke industri yang lebih besar.

Salah satunya adalah Perusahaan Pasokan Keselamatan Lalu Lintas, yang membuat rambu-rambu jalan. Mereka juga bekerja sama dengan toko kelontong, yang menerima produk dalam kotak plastik.

Saat ini, proyek Recycled Living belum berjalan sepenuhnya karena masih menunggu sumbangan dana dari para donatur.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.