Kompas.com - 23/08/2021, 20:30 WIB
Warga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Minggu (28/7/2019). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, persentase penduduk miskin DKI Jakarta pada Maret 2019 adalah 3,47 persen atau sebesar 365,55 ribu orang. Saat ini pemerintah DKI Jakarta melakukan pilot project di beberapa wilayah dengan mengutamakan program KJP, Kesehatan, dan Pendidikan yang ditargetkan dapat mengurangi kemiskinan. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGWarga beraktivitas di pemukiman padat penduduk di bantaran Sungai Ciliwung, Manggarai, Jakarta, Minggu (28/7/2019). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta, persentase penduduk miskin DKI Jakarta pada Maret 2019 adalah 3,47 persen atau sebesar 365,55 ribu orang. Saat ini pemerintah DKI Jakarta melakukan pilot project di beberapa wilayah dengan mengutamakan program KJP, Kesehatan, dan Pendidikan yang ditargetkan dapat mengurangi kemiskinan.

JAKARTA, KOMPAS.com - Jakarta, Ibu Kota Negara Indonesia, telah berusia 494 tahun. Menjadi jantung dari aktivitas negara, tentu sarat dengan pembangunan fisik.

Gedung-gedung tinggi nan-megah, jalan-jalan bertingkat, serta kerlap-kerlip lampu pada malam hari telah menyulap  Jakarta sebagai kota metropolitan yang menawan sekaligus membius.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Jakarta adalah impian banyak warga desa untuk mencari peruntungan. Migrasi urban pun bukan lagi ritual tahunan pasca-Lebaran, melainkan setiap hari.

Belum lagi para pelaju yang bergegas memburu mimpi sejak subuh hingga mentari bersemayam. Mereka berasal dan bermukim di Bekasi, Bogor, Tangerang, dan Depok.

Baca juga: Kalah dari Singapura dan Malaysia, Indeks Keamanan Jakarta di Posisi 43

Hingga kini, populasi yang memadati kota dengan nama lain Batavia, ini mencapai 10 juta jiwa pada malam hari, dan lebih dari 12 juta jiwa pada siang hari.

Padatnya Jakarta, menimbulkan masalah. Polusi, kemacetan, banjir, hingga pemukiman kumuh dan sesak pun tak terelakkan.

Pekan lalu, 50 lapak pemulung di Jalan Kemang Utara Raya RT 011 RW 004, tepatnya dekat Pasar Kambing, Jakarta Selatan, ludes terbakar. Ini adalah pemukiman kumuh padat penduduk. 

Belum lagi masalah banjir yang sudah menjadi makanan tahunan warga Jakarta. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari naiknya air laut hingga meluapnya kali Ciliwung.

Alhasil, sebagian warga mempersepsikan Jakarta sebagai kota yang tidak nyaman ditinggali. 

Berdasarkan Indonesia Most Livable City Index 2017 keluaran Ikatan Ahli Perencanaan (IAP) di 26 kota, Jakarta menempati peringkat ke-15 dan masuk dalam kategori rata-rata livability city dengan nilai 62,6 persen.

Baca juga: Biden Sebut Jakarta Tenggelam 10 Tahun Lagi, Apa Solusi Pemerintah?

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.