Kompas.com - 20/08/2021, 12:30 WIB
Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memastikan sebanyak 915 rumah tidak layak huni telah selesai dibedah untuk mendukung ajang MotoGP serta dapat digunakan sebagai homestay untuk menunjang pariwisata di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). PUPRKementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) memastikan sebanyak 915 rumah tidak layak huni telah selesai dibedah untuk mendukung ajang MotoGP serta dapat digunakan sebagai homestay untuk menunjang pariwisata di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

JAKARTA, KOMPAS.com - Peningkatkan kualitas 915 unit homestay (pondok wisata) di Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Mandalika, Nusa Tenggara Barat (NTB), tuntas dikerjakan.

Direktur Rumah Swadaya Direktorat Jenderal (Ditjen) Perumahan Kementerian PUPR KM Arsyad mengatakan, pondok wisata dibangun karena keterbatasan hotel untuk menyambut perhelatan World Superbike (WSBK) di The Mandalika.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sebagai contoh, kami sudah membangun di Mandalika, NTB yang akan menjadi salah satu penginapan gelaran superbike," kata Arsyad dalam webinar Hari Perumahan Nasional (Hapernas) 2021, Jumat (20/08/2021).

Arsyad melanjutkan, dengan adanya pondok wisata tersebut, akan membantu setiap acara yang bersifat internasional.

Ini juga bertujuan agar masyarakat mendapatkan dampak ekonomis dari pelaksanaan kegiatan pembangunan tersebut.

Baca juga: Sambut World Superbike, Konstruksi Jalan Kawasan The Mandalika Dipercepat

Selain bisa digunakan sebagai pondok wisata, penataan kualitas rumah swadaya juga bisa diperuntukkan untuk usaha kuliner, toko, workshop atau produksi, maupun usaha atau jasa lainnya.

Penataan pondok wisata di KSPN Mandalika tepatnya dilakukan di titik wisata Mandalika dan Tiga Gili dengan berpedoman pada arsitektur khas Lombok dan disertai penataan lanskap.

Kualitas rumah swadaya untuk pondok wisata dilaksanakan dengan memperhatikan beberapa kriteria delienasi lokasi.

Contohnya, kemudahan akses, ketertarikan daya tarik wisata, ketersediaan amenitas, kesesuaian tata ruang zonasi, serta ketersediaan klaster perumahan.

Sejatinya, pembangunan pondok wisata dilaksanakan sama halnya dengan program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yaitu melibatkan masyarakat sebagi subyek.

"Jadi, mereka ikut sejak pembangunan, pelaksanan, pengawasan, sampai ke pemanfaatan. Kita hanya memberikan pendampingan saja," lanjut dia.

Sementara perbedaan BSPS dengan peningkatan kualitas pondok wisata terletak pada fungsinya.

Arsyad menjelaskan, BSPS untuk peningkatan rumah layak huni, sedangkan pondok wisata dilaksanakan untuk membantu penginapan di kawasan KSPN.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.