JAKARTA, KOMPAS.com - Mural dan grafiti merupakan seni jalanan atau street art yang telah ada sejak lama.
Awalnya, kedua karya seni ini dianggap sebelah mata dan hanya dinilai sebatas corat-coret yang mengotori wajah perkotaan.
Padahal, seni jalanan punya berfungsi ganda. Selain sebagai karya seni, mural dan grafiti juga sering menjadi wadah seseorang dalam mengepresikan kritik dan pendapatnya terhadap pemerintah.
Seiring perkembangannya, mural dan grafiti mengalami perubahan penilaian dan pandangan. Sebagai karya seni, keduanya punya peran tak kalah penting.
Baca juga: Mural Mirip Presiden Jokowi Dihapus, Ini Tanggapan Pengamat Perkotaan
Terutama memberikan nuansa keindahan pada fasad bangunan kosong dan tua, sekalius menjadikannya sebagai produk kesenian yang dapat dinikmati dan menarik banyak wisatawan.
Arsitek dan Ahli Tata Kota Bambang Eryudhawan mengatakan, pada awalnya mural dan grafiti tidak ada sangkut pautnya dengan arsitektur.
Hal itu karena arsitektur hanya diartikan sebagai seni dan ilmu dalam merancang ruang yang berkaitan dengan aspek teknis di bidang konstruksi dan bangunan.
"Jadi awalnya memang tidak ada hubungannya dengan arsitektur," kata Yudha kepada Kompas.com, Minggu (15/08/2021).
Namun, hal itu berubah seiring dinamika, mural dan grafiti kemudian sangat terkait erat dengan dunia arsitektur.
Banyak arsitek yang lantas mengembangkan mural dan grafiti sebagai bagian dari rancang atau desain tata kota.
Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.