Pendapatan Non-tiket Capai Rp 258 Miliar, Penyelamat Bisnis MRT Jakarta

Kompas.com - 31/07/2021, 19:00 WIB
Warga mendorong sepeda non-lipat di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (25/3/2021). Sepeda non-lipat diperbolehkan masuk MRT pada jam khusus yaitu Senin-Jumat, dengan pengecualian jam sibuk pukul 07.00-09.00 WIB dan pukul 17.00-19.00 WIB. KOMPAS.com / KRISTIANTO PURNOMOWarga mendorong sepeda non-lipat di Stasiun MRT Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (25/3/2021). Sepeda non-lipat diperbolehkan masuk MRT pada jam khusus yaitu Senin-Jumat, dengan pengecualian jam sibuk pukul 07.00-09.00 WIB dan pukul 17.00-19.00 WIB.

JAKARTA, KOMPAS.com - PT MRT Jakarta (Perseroda) telah meraih pendapatan non-farebox (non-tiket) sebesar Rp 258 miliar per Juli 2021.

Direktur Utama MRT Jakarta William Sabandar mengatakan, pendapatan non-tiket merupakan salah satu strategi dalam memperkuat struktur penerimaan perusahaan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Hal ini ditambah dengan perpanjangan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Jawa-Bali yang membuat penerimaan fare-box (tiket) terus tergerus.

"Untuk menutupi farebox, pendapatan non-farebox inilah yang kita pacu," ujar William dalam webinar Forum Junalis, Sabtu (31/07/2021).

Pendapatan non-tiket ini juga harus diiringi dengan efisiensi belanja untuk melakukan penghematan.

William melanjutkan, ini diharapkan supaya operasonalisasi MRT Jakarta bisa berjalan dengan baik.

Baca juga: Anjlok 80 Persen, Penumpang Harian MRT Jakarta Hanya 4.450 Orang Per Juli

Jika dilihat tahun 2019 atau masa awal operasionalisasi MRT Jakarta, perusahaan telah mendapatkan pendapatan non-tiket mencapai 207,6 miliar.

Berlanjut tahun 2020, MRT Jakarta juga berhasil mengalami kenaikan pendapatan non-tiket sebesar 382,67 miliar meski dalam situasi Pandemi Covid-19.

Dia tak memungkiri, pendapatan non-tiket menjadi penyelamat bagi bisnis MRT Jakarta karena ridership (penumpang) juga pada dasarnya menurun.

Tahun lalu, MRT Jakarta menargetkan 100.000 penumpang per hari. Namun, kenyataannya hanya bisa mencapai 27.000 penumpang per hari.

William pun memastikan jika jumlah penumpang MRT Jakarta pada tahun ini bakal lebih menurun dibandingkan tahun lalu.

"Tahun ini kita targetkan 65.000 penumpang, ya nggak mungkin dapat 65.000 penumpang. Karena sepanjang tahun kondisinya nggak naik-naik," lanjutnya.

Oleh karena itu, dia menargetkan pendapatan non-tiket MRT Jakarta pada tahun ini bisa mencapai Rp 450 miliar.

Adapun pendapatan non-tiket MRT Jakarta bersumber dari periklanan, ritel, naming rights atau penamaan stasiun, telekomunikasi, serta pembayaran digital.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.