Insentif PPN Tak Berdampak Signifikan, REI Minta Perpanjang hingga Akhir 2021

Kompas.com - 06/06/2021, 21:00 WIB
Ilustrasi rumah. Dok. Pusat Pengelolaan Dana Pembiayaan Perumahan Kementerian PUPRIlustrasi rumah.

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Paulus Totok Lusida menilai, insentif Pajak Pertambahan Nilai (PPN) untuk sektor properti tidak memberikan dampak signifikan.

Hal ini karena dua bulan sejak insentif tersebut diberikan, atau kurun April-Mei 2021, kenaikan penjualan properti rata-rata hanya mencapai 15 persen dibanding kuartal I-2021.

Itu pun hanya terjadi di wilayah Jadebotabek yang notabene stoknya terbatas, sementara di daerah lain yang terjadi justru sebaliknya.

Rumah tapak merupakan produk yang paling banyak terjual dengan harga berkisar antara Rp 200 juta hingga Rp 1 miliar.

Baca juga: Harga Terbaru Rumah Tipe 45/90 di Depok, Bekasi, Bogor, dan Karawang

Karena rumah yang terjual mayoritas di Jabodetabek, REI meminta insentif PPN diperpanjang hingga akhir Tahun 2021.

 

"Kita minta kalau bisa insentif itu diperpanjang hingga Desember 2021, biar multiplier effect-nya keliatan. Kebijakan yang ada saat ini kan hanya sampai Agustus, nah saya sudah minta sudah rapat," kata Totok saat dihubungi Kompas.com, Minggu (06/06/2021).

"Termasuk yang diperpanjang itu biar yang di daerah juga terasa dampaknya. Saat ini kan penjualan di daerah lesu, tingginya penjualan masih di kota-kota besar seperti Jakarta," lanjutnya.

Totok menjelaskan, meski tidak signifikan namun harus diakui insentif PPN ini berdampak positif terhadap tren penjualan properti.

Untuk diketahui, insentif PPN atas rumah tapak dan rumah susun diberlakukan selama enam bulan yaitu sejak Maret hingga Agustus 2021.

Properti yang seluruh PPN-nya Ditanggung Pemerintah (DTP) merupakan rumah tapak dan rusun dengan harga jual maksimal Rp 2 miliar.

Baca juga: Harga Baru Apartemen Tipe Studio di Jakarta, Tangerang, dan Bogor

Sementara untuk rumah dengan harga di atas Rp 2 miliar hingga maksimal Rp 5 miliar, PPN DTP yang terutang atas penyerahan rumah tapak atau rusun diberikan hanya 50 persen.

Insentif PPN diterbitkan seiring dengan kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam merelaksasi loan to value/financing to value (LTV/FTV) untuk kredit pembiayaan properti maksimal 100 persen mulai 1 Maret silam.

Relaksasi LTV/FTV ini akan berakhir pada 31 Desember 2021 dan dievaluasi kembali satu kali dalam setahun.

Dengan relaksasi tersebut, para calon konsumen bisa membeli properti tanpa membayar uang muka alias down payment (DP) 0 persen.

Seluruh pembiayaan properti yang dibeli konsumen dengan memanfaatkan fasilitas kredit pemilikan rumah dan apartemen (KPR/KPA) ditanggung oleh perbankan.

Pelonggaran LTV/FTV ini diberlakukan untuk semua jenis properti termasuk rumah tapak, rusun, rumah toko (ruko) maupun rumah kantor atau rukan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.