246 Waduk Belum Cukupi Kebutuhan Air Bersih Masyarakat

Kompas.com - 23/03/2021, 11:00 WIB
Tangkapan layar pemandangan Waduk Tukul atau Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Minggu (14/2/2021) dan rencananya akan dikembangkan menjadi tempat wisata (dok. YouTube Sekretariat Presiden). dok. YouTube Sekretariat PresidenTangkapan layar pemandangan Waduk Tukul atau Bendungan Tukul di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur yang baru diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada Minggu (14/2/2021) dan rencananya akan dikembangkan menjadi tempat wisata (dok. YouTube Sekretariat Presiden).

JAKARTA, KOMPAS.com - Sejumlah 246 waduk atau bendungan yang telah dibangun oleh pemerintah hingga saat ini belum mampu mencukupi kebutuhan air bersih masyarakat.

Staf Khusus Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Bidang Sumber Daya Air (SDA) Firdaus Ali mengatakan persentase daya tampung bendungan yang ada saat ini terhadap potensi ketersediaan air bersih hanya sekitar 5,74 persen atau 1.957.205 meter kubik.

Padahal jika dirinci total 246 waduk itu tersebar di berbagai wilayah di Indonesia dengan daya tampung maksimal yang sangat besar.

Di antaranya yaitu sebanyak 27 bendungan di Pulau Sumatera dengan total kapasitas tampung mencapai 4.349.297.000 meter kubik, 103 bendungan di Pulau Jawa dengan daya tampung 3.173.678.583 meter kubik.

Baca juga: Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, Wilayah yang Sering Alami Krisis Air

Selanjutnya 10 bendungan di Kalimantan dengan kapasitas 1.251.820.000 meter kubik,
92 bendungan di Nusa Tenggara dengan daya tampung 299.274.098 meter kubik,

Kemudian 11 bendungan di Sulawesi dengan daya tampung 317.195.000 meter persegi, dan 3 bendungan di Maluku dengan daya tampung 299.274.089 meter kubik.

Lebih jauh, Firdaus menjelaskan, penyebab utama krisis air bersih di Indonesia adalah adanya ketidakseimbangan antara kebutuhan dengan kemampuan dalam menyediakan air bersih.

Menurutnya populasi di Indonesia terus bertambah dan aktivitas sosial masyarakat juga bertumbuh dan berkembang sehingga tentunya membutuhkan air bersih yang banyak.

"Tapi di lain sisi kemampuan kita menyediakan infrastruktur untuk bisa mencukupi kebutuhan air bersih juga sangat terbatas. Terlebih, kondisi lingkungan saat ini berpengaruh sangat besar terhadap krisis air," ujar Firdaus dalam diskusi virtual, Senin (22/03/2021).

Direktur Eksekutif dan Pendiri Institut Bisnis dan Ekonomi Kerakyatan (IBEKA) Tri Mumpuni mengatakan bahwa penyebab lain krisis air bersih adalah karena banyak orang yang tidak menghargai lingkungannya.

Baca juga: Indonesia Krisis Air, Tingkat Ketersediaan Terendah di Asia Tenggara

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X