Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 04/03/2021, 08:00 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) Dwi Andreas Santosa mengatakan, program food estate (lumbung pangan) akan berdampak buruk jika dilakukan dengan mengalihfungsikan hutan alam secara besar-besaran.

Menurutnya, food estate tidak menjawab persoalan pangan justru menimbulkan masalah lain yang jauh lebih berbahaya yaitu dampak deforestasi.

“Sejarah implementasi food estate di Tanah Air terbilang buruk. Kegagalan dari food estate yang pernah dijalankan pemerintah Indonesia adalah karena mengingkari kaidah akademis," kata Dwi, dalam keterangan tertulis, Rabu (03/03/2021).

Dwi menilai program food estate yang dijalankan oleh Pemerintah ini banyak mengingkari kaidah akademis yang mestinya menjadi perhatian.

Baca juga: Food Estate Dianggap Potensial Hilangkan Hutan Seluas Tiga Kali Pulau Bali

Kaidah akademis ini mencakup kelayakan tanah dan agroklimat, kelayakan infrastruktur, kelayakan teknologi, dan kelayakan sosial dan ekonomi.

"Tata kelola air menjadi kunci utama dari pengembangan lahan pertanian. Hal ini termasuk ke dalam kelayakan infrastruktur yang berbiaya tinggi. Empat pilar tersebut harus dijamin dapat terpenuhi, jika tidak maka akan gagal food estate tersebut,” urai Dwi.

Hal senada dikatakan Direktur Eksekutif Centre for Climate Risk and Opportunity Management in Southeast Asia and Pacific (CCROM-SEAP) IPB Rizaldi Boer.

Dia mengatakan bahwa food estate akan mengancam kerusakan lingkungan yang masuk dalam dua syarat utama bagi Indonesia untuk dapat memenuhi komitmen global dalam perbaikan iklim Nasionallity Determined Contribution (NDC).

Kedua syarat tersebut adalah penurunan luas deforestasi hutan dan perbaikan pengelolaan lahan gambut.

“NDC Sektor kehutanan itu bebannya sampai 17 persen dan hanya bisa dicapai oleh penurunan deforestasi yang signifikan dan pemulihan gambut," kata dia.

Karenanya, tanpa ada upaya untuk meninjau kembali wilayah target pengembangan, maka food estate dapat menjadi ancaman.

Padahal, dalam pencapaian target NDC, diharapkan wilayah yang masih berhutan alam harus dipertahankan, termasuk mempertahankan hutan alam yang berada di dalam Hutan Tanaman Industri (HTI) dan Hak Guna Usaha (HGU).

"Karena meskipun dengan mempertahankannya, belum tentu juga dapat mencapai target NDC secara keseluruhan,” imbuh Rizaldi.

Rizaldi menambahkan, saat ini masih banyak terdapat lahan tidur dan tidak produktif dengan total luas 30 juta hektar.

Terdiri dari Areal Penggunaan Lain (APL) seluas 11 juta hektar dan kawasan hutan seluas 19 juta hektar yang dapat dimaksimalkan pemanfaatannya, sehingga program food estate tidak menyasar hutan alam yang tersisa saat ini.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+