Banjir Puncak Bogor, Audit Tata Ruang Jabodetabek-Punjur Diperbarui

Kompas.com - 19/01/2021, 14:57 WIB
Sejumlah warga di Puncak Bogor Jawa Barat terdampak banjir bandang pada Selasa (19/1/2021). Dok IstimewaSejumlah warga di Puncak Bogor Jawa Barat terdampak banjir bandang pada Selasa (19/1/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Bencana banjir bandang menerjang kawasan Puncak Bogor, Jawa Barat, Selasa (19/1/2021) sekitar pukul 09.30 WIB.

Bencana tersebut terjadi tepatnya di Kampung Rawa Dulang, Desa Tugu Selatan, Cisarua, atau di antara kebun teh milik PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero).

Rekaman video tersebut juga viral di media sosial, salah satunya diunggah di akun Instagram @infia_fact.

Dalam video tersebut, terlihat banjir bandang bercampur dengan lumpur mengalir deras dan batang-batang pohon yang melintang pun ikut hanyut.

Akibat peristiwa ini, sebanyak 134 kepala keluarga (KK) dengan jumlah 474 jiwa harus diungsikan tempat aman, termasuk ke masjid.

Atas bencana banjir ini, Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) memperbarui audit tata ruang kawasan Jabodetabek-Punjur.

Baca juga: Hadiah Status Hak Tanah Menanti Pemilik Vila, Ini Syaratnya...

Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian dan Penertiban Tanah dan Ruang Kementerian ATR/BPN Budi Situmorang mengatakan hal itu kepada Kompas.com, Selasa (19/1/2021).

"Proses audit dilakukan sudah cukup lama tahun 2015, sekarang sedang di-update lagi," jelas Budi.

Saat ini, pihaknya tengah menindaklanjuti hasil audit tersebut untuk pengenaan sanksi baik administrasi maupun pidana.

Budi mengatakan, audit dilakukan di kawasan-kawasan yang cepat berkembang seperti di setiap ibu kota provinsi.

Hal ini sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri (Permen) Nomor 17 Tahun 2017 tentang Pedoman Audit Tata Ruang.

Dalam permen itu mencakup soal kesesuaian dengan rencana tata ruang, perizinan, memenuhi syarat-syarat perizinan, serta menutup akses publik.

Budi mengatakan, langkah strategis yang dilakukan adalah melakukan pengembalian ruang resapan air di puncak.

Misalnya, penanaman kembali (reboisasi) dan pengurangan tekanan permukiman yang utamanya berada di kawasan resapan air dan di sepanjang aliran sungai.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar
Close Ads X