Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Sepanjang 2020 Konflik Agraria 241 Kasus, Tertinggi Sektor Perkebunan

Kompas.com - 06/01/2021, 16:00 WIB
Ardiansyah Fadli,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekretaris Jenderal Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika mengungkapkan total 241 kasus konflik agraria terjadi sepanjang Tahun 2020.

Total kasus tersebut terjadi di 359 daerah di Indonesia dengan korban terdampaknya sebanyak 135.332 kepala keluarga (KK).

"Konflik agraria tertinggi terjadi pada sektor perkebunan yaitu sebanyak 122 kasus. Jumlah ini naik 28 persen dibandingkan pada 2019 yaitu sebanyak 87 kasus," kata Dewi dalam acara diskusi virtual peluncuran laporan kasus konflik agraria 2020 di Jakarta, Rabu (06/01/2021).

Baca juga: Sengketa Tanah April-September Surplus, Anomali di Tengah Pandemi

Selanjutnya tertinggi kedua konflik agraria terjadi pada sektor kehutanan yaitu sebanyak 41 kasus. Angka ini bahkan meroket 100 persen dari 2019 yang berjumlah sebanyak 20 kasus.

Konflik agraria lainnya terjadi di sektor infrastruktur sebanyak 30 kasus, properti 20 kasus, pertambangan 12 kasus, fasilitas militer 11 kasus, pesisir kelautan 3 kasus dan agribisnis 2 kasus.

"Secara angka, konflik agraria dapat disebut menurun 14 persen, namun penurunan tersebut tidak signifikan dan tidak sebanding dengan minusnya pertumbuhan ekonomi yang turun 200 persen," tambah Dewi.

Dia menyebut mestinya di tengah krisis ekonomi yang terjadi akibat pandemi Covid-19 ini jumlah kasus konflik agraria menurun drastis.

Adapun total luas tanah yang terdampak konflik agraria sepanjang Tahun 2020 adalah seluas 624.272 hektar.

Baca juga: KPA Sebut Krisis Ekonomi Dorong Perampasan Tanah Masyarakat

Secara rinci dampak terluasnya terjadi di sektor kehutanan 312.158 hektar. Terluas kedua, sektor perkebunan 230.887 hektar.

Selanjutnya infrastruktur 57.185 hektar, properti 6.019 hektar, pertambangan 12.797 hektar, fasilitas militer 4.741 hektar, pesisir kelautan 243 hektar dan agribisnis 3.915 hektar.

"Potret konflik agraria seperti ini tentu mengingatkan kembali bahwa sistem dan praktik-praktik perkebunan skala besar di Indonesia mengandung banyak masalah struktural yang akut dan sistematis," ujar dia.

Hal ini tidak hanya terjadi pada tahun 2020, bahkan dalam lima tahun terakhir pun sektor perkebunan selalu menjadi penyebab penyumbang konflik agraria tertinggi.

"Selain itu, situasi 2020 juga memperlihatkan bahwa dua sektor klasik yaitu perkebunan dan perhutanan kembali menuai konflik tertinggi 69 persen kenaikannya," tutup Dewi.

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com