YLKI Ungkap Banyak Transportasi Publik Langgar Kapasitas Penumpang Selama Pandemi

Kompas.com - 21/12/2020, 14:01 WIB
Antrean penumpang pesawat yang hendak melakukan Rapid Tes Antigen di Shelter Kalayang Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (21/12/2020). Kompas.COM/MUHAMMAD NAUFALAntrean penumpang pesawat yang hendak melakukan Rapid Tes Antigen di Shelter Kalayang Terminal 2 Bandara Soekarno-Hatta, Senin (21/12/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Kosumen Indonesia Tulus Abadi mengungkapkan, selama masa pandemi Covid-19 banyak penyelenggara transportasi publik yang melanggar aturan pembatasan maksimal jumlah penumpang.

Pelanggaran tersebut dilakukan hampir pada seluruh jenis transportasi publik darat dan udara seperti bus, kereta hingga maskapai penerbangan.

"Kami menemukan adanya pelanggaran kapasitas jumlah penumpang 100 persen yang dilakukan oleh maskapai tertentu," kata Tulus dalam diskusi virtual MTI bertajuk Mudik Natal dan Tahun Baru di masa Pandemi Covid-19, Jakarta, Senin (21/12/2020).

Menurutnya, kapasitas yang mesti diterapkan oleh maskapai pesawat hanya 70 persen saja. Namun, faktanya maskapai pesawat tertentu justru menerapkan kapasitas penumpang 100 persen.

Baca juga: Surat Edaran Pembatasan Transportasi Selama Pandemi Dinilai Tak Efektif

Sementara Garuda Indonesia, menurut Tulus, masih mematuhi pembatasan penumpang hingga maksimal 62 persen.

Tulus menjelaskan, YLKI juga menerima laporan serupa dari konsumen penumpang kereta api.

Menurut laporan tersebut, penyelenggara perjalanan kereta api melanggar atau tidak mematuhi batasan aturan maksimal jumlah penumpang dalam satu gerbongnya.

"Saya dapat pengaduan dari konsumen adanya rangkaian tertentu yang isinya 100 persen," ucap dia.

Karenanya, Tulus meminta pemerintah sigap dan ketat mengawal penerapan batasan jumlah penumpang transportasi publik jelang libur Natal 2020 dan Tahun Baru 2021 (Nataru).

Tujuannya agar penularan Covid-19 dapat dikendalikan dan transportasi publik tidak menjadi kluster baru.

Meski demikian Tulus mengaku dalam hal penerapan protokol kesehatan seperti rapid rest, penggunaan masker, pencuci tangan, di seluruh jenis transportasi publik hingga kini berjalan sangat baik.

"Sektor transportasi udara jauh lebih paten dalam mengimplementasikan protokol kesehatan mulai di bandara seperti keberangkatan kedatangan di pesawat, ternausk kereta api dan bis juga sudah baik," tambahnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar
Close Ads X