Kesehatan Mental di Indonesia Selama Pandemi, Hasil Survei Ungkap Mayoritas Masyarakat Merasa Kesepian

Kompas.com - 13/08/2021, 20:45 WIB
Editor Maharani Kusuma Daruwati

Parapuan.co - Sudah satu tahun lebih kita berada di tengah pandemi Covid-19.

Pandemi Covid-19 telah berpengaruh pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, terutama dalam hal kesehatan.

Bukan hanya kesehatan fisik, kesehatan mental atau kesahatan jiwa juga perlu diperhatikan.

Bukan lagi sekedar basa-basi belaka, bertanya "Apa kabar?" menjadi kian bermakna.

Nah, bertepatan dengan Bulan Kesehatan Mental, ertepatan dengan bulan kesehatan mental, Into The Light, sebuah komunitas pencegahan bunuh diri remaja di Indonesia, bekerja sama dengan Change.org Indonesia melakukan survei untuk cari tahu bagaimana kondisi psikologis dan penggunaan layanan kesehatan mental masyarakat Indonesia pada Mei-Juni 2021.

Survei kesehatan mental ini diikuti secara daring oleh 5.211 responden yang mayoritas berdomisili di 6 provinsi di Pulau Jawa.

Latar belakang peserta survei beragam secara demografi, misalnya jenis kelamin, kelompok usia, kondisi disabilitas, ketertarikan seksual dan status HIV.

Baca Juga: Film Penyalin Cahaya, Tekankan Bahaya Alkohol dan Ancaman Kekerasan Seksual Saat Mabuk

Andrian Liem, peneliti pascadoktoral University of Macau sekaligus mitra Into The Light mengatakan, survei ini dilakukan karena di Indonesia karena belum ada hasil evaluasi yang cukup komprehensif atas informasi dan layanan kesehatan mental, maupun literasi kesehatan mental yang dimiliki.

 

Berdasarkan hasil survei, kesepian ini ditemukan merata di seluruh anggota kelompok umur, area domisili, suku, riwayat pendidikan, pekerjaan, agama, jenis kelamin, ketertarikan seksual, status HIV dan disabilitas (95% sampai 100% anggota setiap kelompok merasa kesepian).

Stigma atau pandangan negatif terhadap bunuh diri masih sangat kuat.

Hal ini tercermin dari tidak ada partisipan yang menjawab seluruh pertanyaan tentang fakta dan mitos bunuh diri dengan benar.

“Misalnya saja partisipan menganggap bahwa menanyakan keinginan bunuh diri kepada seseorang akan memicu keinginan bunuh diri sebagai fakta. Padahal ini adalah mitos, justru menanyakan hal tersebut dapat membantu mencegah keinginan orang untuk bunuh diri,” kata Andrian.

Selain itu, ada hasil survei yang cukup mengkhawatirkan.

Sekitar 98% partisipan merasa kesepian dalam sebulan terakhir, dan 40% memiliki pemikiran melukai diri sendiri maupun berpikir untuk bunuh diri dalam dua minggu terakhir.

Lebih banyak partisipan survei meyakini anggota keluarga dan teman dekat berjenis kelamin sama sebagai sosok yang lebih membantu dalam mengatasi masalah kesehatan jiwa dibandingkan dengan tenaga kesehatan jiwa profesional.

Baca Juga: Pernikahan Anak Makin Marak Selama Pandemi, Apa Bahaya Hamil di Usia Remaja?

“Keyakinan ini menunjukkan partisipan membutuhkan dukungan sosial.

"Tetapi perlu diingat bahwa tenaga kesehatan jiwa profesional lebih memiliki keahlian dalam menangani kesehatan mental dan dapat menjaga rahasia klien yang berkonsultasi,” jelas Andrian menanggapi hasil survei tersebut.

Hal ini juga selaras dengan hasil survei yang menemukan bahwa hampir 70% dari total partisipan mengaku tidak pernah mengakses layanan kesehatan mental dalam tiga tahun terakhir.

Alasan yang dominan adalah biaya layanan kesehatan mental dianggap tidak terjangkau.

Walau biaya konsultasi untuk kesehatan jiwa bagi pemilik kartu BPJS dapat ditanggung dengan gratis, hasil survei mengungkap 7 dari 10 partisipan tidak tahu tentang informasi ini.

Hasil temuan lain adalah hampir 70% partisipan yang pernah mengakses layanan kesehatan mental berkonsultasi secara daring (online).

Walau tidak banyak yang mengakses layanan kesehatan jiwa, dr. Jiemi Ardian, Sp.KJ, Psikiatri yang aktif melayani pasien di Siloam Hospitals Bogor mengaku beberapa rumah sakit justru kewalahan untuk melayani pasien.

“Jumlah psikolog dan psikiater perlu terus ditambah untuk memenuhi kebutuhan di sini. Selain itu pemerataan kualitas juga diperlukan, karena bisa saja kualitas layanan berkurang karena beban pekerjaan yang terlalu besar. Perlu ada sistem yang menjaga di sini,” kata dr. Jiemi.

dr. Jiemi menambahkan, jumlah kunjungan poliklinik kesehatan jiwa juga meningkat semasa pandemi, namun sebagian besar dari mereka sudah memiliki keluhan berat.

“Saya berasumsi banyak di antara kita terbiasa menunggu gejala yang benar-benar berat baru mencari pertolongan kepada profesional kesehatan jiwa. Hal ini karena permasalahan kesehatan jiwa masih dianggap tidak seserius permasalahan kesehatan fisik, sehingga cenderung diabaikan,” kata dr. Jiemi.

Menurut dr. Jiemi, layanan kesehatan jiwa juga mungkin akan menyentuh akar rumput lebih baik jika pemerintah dan instansi terkait bisa bekerjasama dengan komunitas-komunitas terdekat agar target audiens lebih tepat.

Baca Juga: Inilah 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui Saat Pandemi yang Wajib Diketahui Ibu dan Nakes

Dengan demikian mungkin bisa memperkecil hambatan untuk mendapat layanan kesehatan jiwa.

“Di masa sulit seperti ini, merasa kehilangan, kesepian, tidak baik-baik saja adalah hal yang wajar dan tidak perlu disembunyikan.

"Jika merasa tidak baik-baik saja, lebih baik mengakses layanan kesehatan jiwa lewat aplikasi daring atau BPJS Kesehatan di pelayanan kesehatan di sekitarmu.

"Jika tidak yakin apakah Puskesmas terdekat dari tempat tinggal kamu menyediakan layanan kesehatan jiwa, datangi langsung dan tanyakan,” tutup Andrian.

Hasil survei bisa diakses di www.change.org/l/id/surveiapakabarmu.

Sebagai informasi tambahan, untuk melihat informasi daftar Puskesmas, Rumah Sakit, dan Biro Psikologi Penyedia Layanan Kesehatan Mental di Indonesia klik di sini.

(*)

 


Video Pilihan

26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tayang Agustus 2022, Intip Fakta Serial Marvel She-Hulk: Attorney At Law

Tayang Agustus 2022, Intip Fakta Serial Marvel She-Hulk: Attorney At Law

PARAPUAN
5 Tips Mengajarkan Anak Berhitung, Kuncinya Lakukan dengan Menyenangkan

5 Tips Mengajarkan Anak Berhitung, Kuncinya Lakukan dengan Menyenangkan

PARAPUAN
Cegah Kekerasan Online Terhadap Perempuan, Simak Tips Berikut

Cegah Kekerasan Online Terhadap Perempuan, Simak Tips Berikut

PARAPUAN
Sering Tertukar, Ini Perbedaan Wedges, Flatform dan Platform Shoes

Sering Tertukar, Ini Perbedaan Wedges, Flatform dan Platform Shoes

PARAPUAN
E-Shape Treatment Diklaim Lebih Baik dari Perawatan V-Shape, Ini Alasannya

E-Shape Treatment Diklaim Lebih Baik dari Perawatan V-Shape, Ini Alasannya

PARAPUAN
Kaya Antioksidan, Teh Chamomile Bisa Cegah Kanker hingga Risiko Penyakit Jantung

Kaya Antioksidan, Teh Chamomile Bisa Cegah Kanker hingga Risiko Penyakit Jantung

PARAPUAN
6 Kesalahan Komunikasi lewat Pesan Ini Bisa Merusak Reputasi di Kantor

6 Kesalahan Komunikasi lewat Pesan Ini Bisa Merusak Reputasi di Kantor

PARAPUAN
Seperti Denim, Ini Cara Mix and Match Outfit Berbahan Chambray yang Anti-Gerah

Seperti Denim, Ini Cara Mix and Match Outfit Berbahan Chambray yang Anti-Gerah

PARAPUAN
Jika Kamu Berhenti Melakukan Hubungan Seksual, 3 Hal Ini akan Terjadi

Jika Kamu Berhenti Melakukan Hubungan Seksual, 3 Hal Ini akan Terjadi

PARAPUAN
Tersebar di Eropa hingga Asia, Ini 10 Museum Terbesar di Dunia

Tersebar di Eropa hingga Asia, Ini 10 Museum Terbesar di Dunia

PARAPUAN
Jadi Karakter Ganga di Film Gangubai Kathiawadi, Ini Sosok Alia Bhatt

Jadi Karakter Ganga di Film Gangubai Kathiawadi, Ini Sosok Alia Bhatt

PARAPUAN
9 Film Horor Indonesia yang akan Segera Tayang, Ada Pengabdi Setan 2

9 Film Horor Indonesia yang akan Segera Tayang, Ada Pengabdi Setan 2

PARAPUAN
Tips Dapatkan Kulit Cerah ala Sherina, Kuncinya Perawatan Luar Dalam

Tips Dapatkan Kulit Cerah ala Sherina, Kuncinya Perawatan Luar Dalam

PARAPUAN
Jelang Ultah ke-15, SNSD Bakal Rilis Album dengan Formasi Lengkap

Jelang Ultah ke-15, SNSD Bakal Rilis Album dengan Formasi Lengkap

PARAPUAN
Baca Buku Bareng Pasangan Bisa Tingkatkan Kualitas Hubungan, Mengapa?

Baca Buku Bareng Pasangan Bisa Tingkatkan Kualitas Hubungan, Mengapa?

PARAPUAN
Bingung Ingin Curhat ke Siapa? Ketahui Cara Menentukan Orang yang Tepat di Puan Talks

Bingung Ingin Curhat ke Siapa? Ketahui Cara Menentukan Orang yang Tepat di Puan Talks

PARAPUAN
Ada Dress Merah Menyala, Ini 5 Gaun Terbaik Billboard Music Awards 2022

Ada Dress Merah Menyala, Ini 5 Gaun Terbaik Billboard Music Awards 2022

PARAPUAN
Hari Buku Nasional, Noice Ajak Generasi Muda Tingkatkan Literasi Lewat Audiobook

Hari Buku Nasional, Noice Ajak Generasi Muda Tingkatkan Literasi Lewat Audiobook

PARAPUAN
Cuaca Panas Bisa Sebabkan 4 Penyakit Ini, Waspadai Ini Gejalanya

Cuaca Panas Bisa Sebabkan 4 Penyakit Ini, Waspadai Ini Gejalanya

PARAPUAN
Bisa Dilakukan Sore Hari, Ini Manfaat Olahraga Brisk Walking untuk Kesehatan

Bisa Dilakukan Sore Hari, Ini Manfaat Olahraga Brisk Walking untuk Kesehatan

PARAPUAN
5 Rekomendasi Buku Best Seller Gramedia, dari You Do You hingga Home Sweet Loan

5 Rekomendasi Buku Best Seller Gramedia, dari You Do You hingga Home Sweet Loan

PARAPUAN
Hari Buku Sedunia, Yuk Kenali Peluang Kerja Profesi Penulis!

Hari Buku Sedunia, Yuk Kenali Peluang Kerja Profesi Penulis!

PARAPUAN
Catat! Ini 5 Cara Menjadi Perempuan Mandiri secara Finansial Pasca Pandemi

Catat! Ini 5 Cara Menjadi Perempuan Mandiri secara Finansial Pasca Pandemi

PARAPUAN
Waspadai Penyebab dan Gejala Kanker Paru Seperti yang Dialami Kiki Fatmala

Waspadai Penyebab dan Gejala Kanker Paru Seperti yang Dialami Kiki Fatmala

PARAPUAN
CEO Lunch Actually Violet Lim Ungkap 5 Tips Meraih Work Life Balance

CEO Lunch Actually Violet Lim Ungkap 5 Tips Meraih Work Life Balance

PARAPUAN
komentar
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.