Dianggap Terlalu Seksi hingga Harus Pakai Bikini, Ini Polemik Aturan Pakaian Atlet Perempuan

Kompas.com - 30/07/2021, 18:45 WIB
Editor Citra Narada Putri

Parapuan.co – Olimpiade Tokyo 2020 menjadi momen penuh kebanggaan, terutama bagi perempuan.

Bagaimana tidak, di ajang kompetisi olahraga paling bergengsi di dunia ini, banyak prestasi-prestasi baru yag dilakukan oleh para atlet perempuan. 

 

Mulai dari Momiji Nishiya, atlet perempuan berusia 13 tahun asal Jepang yang mendapatkan emas untuk cabang olahraga (cabor) Skateboard serta Hidilyn Diaz, atlet angkat besi pertama yang raih medali emas Olimpiade untuk Filipina.

Sementara Gresia Polii dan Apriyani Rahayu menciptakan rekor baru sebagai ganda putri Indonesia pertama yang berhasil melaju ke babak semifinal sejak pertama kali cabor bulutangkis dipertandingkan di kancah Olimpiade.

Prestasi-prestasi hebat ini membuat banyak perempuan bertepuk tangan riuh bangga.

Namun, terlepas dari sejumlah terobosan yang banyak dilakukan oleh atlet perempuan, nampaknya ajang ini juga tak bisa lepas dari kontroversi-kontroversi yang juga masih memojokkan kaum hawa.

Baca Juga: Raih Medali Emas di Olimpiade Tokyo 2020, Sunisa Lee Dedikasikan Kemenangannya untuk Sang Ayah

Olivia Breen, juara dunia Paralimpiade dua kali, mengatakan bahwa seorang pejabat Inggris menyebut celana sprint-nya ‘terlalu pendek dan tidak pantas’ ketika ia berkempetisi di Kejuaraan Inggris ujung cabang olahraga lompat jauh.

“Saya telah mengenakan celana gaya yang sama selama bertahun-tahun dan mereka dirancang untuk kompetisi,” ujar Olivia seperti melansir CBS News.

“Ini membuat saya bertanya-tanya apakah atlet laki-laki akan dikritik dengan cara yang sama,” tambahnya.

Di sisi lain, topi renang khusus untuk rambut tebal, keriting dan bervolume yang dikenakan oleh Alice Dearing, perenang kulit hitam pertama Inggris di Olimpiade, dilarang oleh federasi olahraga air internasional (FINA) karena dianggap tidak mengikuti ‘bentuk alami kepala’.

Sementara, topi renang untuk rambut afro umumnya sulit ditemukan dan anggapan ‘bentuk kepala yang normal’ telah menyinggung kaum minoritas, khususnya orang kulit hitam dengan rambut keriting.

Hal ini pun semakin menunjukkan tidak inklusifnya federasi dalam menentukan aturan.

Rupanya, apa yang dialami Olivia Breen dan Alice Dearing juga dialami oleh atlet-atlet perempuan lainnya dari berbagai negara.

Seperti halnya yang dialami tim voli pantai putri asal Norwegia yang harus dikenakan denda 1.500 Euro (sekitar Rp 25 juta) karena mengenakan celana pendek atletik, alih-alih bikini dalam pertandingan perebutan medali perunggu melawan Spanyol di turnamen Beach Handball Euro 2021.

Pakaian tim voli pantai putri asal Norwegia tersebut dianggap ‘pakaian yang tidak pantas’.

Sementara tim voli pantai laki-laki selalu diizinkan untuk mengenakan celana pendek.

Karena kasus ini pula, penyanyi Pink bahkan mengaku bersedia membayarkan denda para atlet voli pantai putri Norwegia, sebagai bentuk dukungan melawan aturan yang sangat seksis.

Baca Juga: Allyson Felix, Sprinter Amerika Serikat yang Ajarkan Anak soal Kerja Keras Lewat Olimpiade

Dari kisah-kisah tersebut mungkin kita langsung bertanya-tanya, mengapa pakaian atlet perempuan selalu dipermasalahkan, sementara tidak pada atlet laki-laki?

Menurut Helen Jefferson Lenskyj, profesor University of Toronto, bahwa industri olahraga masih kerap bias gender.

“Ada olahraga di mana seksualisasi tubuh perempuan sangat penting, seperti senam, voli pantai dan bola tangan pantai termasuk yang teratas,” ujarnya kepada Global News.

Sayangnya, masih menurut Lenskyj, aturan berpakaian perempuan dalam olahraga telah ditentukan oleh tradisi turun temurun yang ketinggalan zaman dan cenderung bias gender.

Sering kali pula, atlet perempuan jadi perhatian sebagai objek seksual daripada prestasinya itu sendiri. Miris!

Rachael Jefferson-Buchanan, dosen studi gerakan manusia di Universitas Charles Sturt, menyoroti bahwa atlet perempuan menghadapi tantangan yang lebih berat karena tubuh mereka diawasi oleh federasi olahraga.

Kode berpakaian para atlet berada di bawah yuridiksi badan internasional yang mengatur untuk setiap olahraga.

Menurut International Olympic Comittee, Komite Olimpiade Nasional memiliki otoritas tunggal dan eksklusif untuk meresepkan dan menentukan pakaian dan seragam yang akan dikenakan, serta peralatan yang digunakan oleh anggota delegasi mereka pada pertandingan Olimpiade.

Sementara Lenskyj mengatakan bahwa aturan berpakaian ditentukan, sebagian besar, oleh uang dan kepentingan komersial.

Ironisnya, aturan itu kebanyakan dibuat oleh laki-laki yang berada di posisi kepemimpinan di federasi internasional.

Baca Juga: Greysia Polii/Apriyani Rahayu Ciptakan Sejarah Baru untuk Bulu Tangkis Indonesia di Ajang Olimpiade Tokyo 2020

Hal ini diawali sejak abad ke-19, ketika perempuan kelas menengah atas diizinkan terlibat dalam permainan seperti tenis rumput.

Melansir dari Time, mereka diharuskan mengenakan pakaian yang feminin, sederhana dan dirancang untuk menarik perhatian calon suami, alih-alih untuk meningkatkan fungsi atletis mereka.

Maka, pada era tersebut, korset dan gaun yang dikenakan oleh para atlet perempuan sangat membatasi kemampuan mereka untuk bergerak lebih bebas selama pertandingan.

Kemudian di pergantian abad ke-20, mulai terjadi reformasi pakaian perempuan untuk aktivitas fisik, yang mana korset mulai ditiadakan yang digantikan dengan gymslip serta tunik.

Kendati terdengar sebagai terobosan baru yang progresif, nyatanya federasi olahraga di era tersebut masih mengharuskan para atlet perempuan untuk menutupi bentuk tubuhnya, dengan dalih ‘menjaga kesopanan’ untuk peran ibu di masa depan dalam masyarakat.

Dapat disimpulkan bahwa olahragawan perempuan, baik dulu hingga kini, masih dihadapi opresi yang sama.

Alih-alih dilihat dari prestasi dan kemampuan berolahraganya, para atlet perempuan masih dinilai dari pakaiannya.

Namun belakangan, para atlet perempuan tak lantas diam dengan tekanan-tekanan aturan yang bias gender.

“Ini membuka jalan bagi lebih banyak olahragawan perempuan untuk menentang aturan berpakaian yang didasarkan pada ide-ide kuno tentang seperti apa seharusnya perempuan, melalui mata laki-laki,” tulisnya dalam The Conversation.

Hal ini dibuktikan oleh apa yang dilakukan oleh pesenam perempuan asal Jerman yang memilih untuk mengenakan setelan seluruh tubuh atau unitard daripada triko standar selama babak kualifikasi.

Hal ini mereka lakukan sebagai sikap melawan seksualisasi dalam olahraga terhadap atlet perempuan.

“Kami ingin menunjukkan bahwa setiap perempuan, semua orang, harus memutuskan apa yang akan dikenakan,” kata Elisabeth Seitz, salah salah pesenam Jerman tersebut.

Apa yang dilakukan oleh mereka pun menjadi penanda sudah saatnya kita harus fokus pada kemampuan berolahraga alih-alih pakaian yang justru menjadikan para atlet perempuan sebagai objek seksual.(*)

Baca Juga: Raih Emas, Tim Estafet Renang Perempuan Tiongkok Pecahkan Rekor di Olimpiade Tokyo 2020


26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Green Consumer Day: iLitterless Gandeng Kafe-Kafe di Malang Untuk Pilah Sampah

Green Consumer Day: iLitterless Gandeng Kafe-Kafe di Malang Untuk Pilah Sampah

PARAPUAN
5 Fashion Item yang Wajib Dibawa Saat Berlibur di Musim Dingin

5 Fashion Item yang Wajib Dibawa Saat Berlibur di Musim Dingin

PARAPUAN
Cukup dengan Soda Kue, Ini Tips Menghilangkan Noda Bercak Darah pada Seprai  dan Karpet

Cukup dengan Soda Kue, Ini Tips Menghilangkan Noda Bercak Darah pada Seprai dan Karpet

PARAPUAN
Sering Dialami di Usia 40an, Ini Cara Mengatasi Midlife Ciris

Sering Dialami di Usia 40an, Ini Cara Mengatasi Midlife Ciris

PARAPUAN
Midlife Crisis, Ini Penyebab dan Gejala Krisis Paruh Baya yang Kerap Dialami Usia 40an

Midlife Crisis, Ini Penyebab dan Gejala Krisis Paruh Baya yang Kerap Dialami Usia 40an

PARAPUAN
Ini 4 Cara Mudah Pakai Foundation seperti yang Viral di TikTok

Ini 4 Cara Mudah Pakai Foundation seperti yang Viral di TikTok

PARAPUAN
Dikenal Idealis dan Introvert, Begini Karakteristik Kepribadian INFP

Dikenal Idealis dan Introvert, Begini Karakteristik Kepribadian INFP

PARAPUAN
5 Tips Tingkatkan Skill Menulis Jika Ingin Berkarier sebagai Penulis

5 Tips Tingkatkan Skill Menulis Jika Ingin Berkarier sebagai Penulis

PARAPUAN
Ini Rekomendasi Boosting Serum yang Bisa Memperkuat Skin Barrier

Ini Rekomendasi Boosting Serum yang Bisa Memperkuat Skin Barrier

PARAPUAN
Sebelum Membeli Jam Tangan, Coba Pertimbangkan 3 Hal Berikut Ini

Sebelum Membeli Jam Tangan, Coba Pertimbangkan 3 Hal Berikut Ini

PARAPUAN
Cocok Ditonton saat Sedih, Ini 4 Rekomendasi Drama Korea Lucu nan Menghibur

Cocok Ditonton saat Sedih, Ini 4 Rekomendasi Drama Korea Lucu nan Menghibur

PARAPUAN
Susah Temukan Busana Pas? Ini Fashion Item Wajib untuk Tubuh Jangkung

Susah Temukan Busana Pas? Ini Fashion Item Wajib untuk Tubuh Jangkung

PARAPUAN
Konsumen Makin Peduli, Ini 7 Ide Bisnis yang Ramah Lingkungan

Konsumen Makin Peduli, Ini 7 Ide Bisnis yang Ramah Lingkungan

PARAPUAN
Ini 7 Fashion Show Terbaik di Milan Fashion Week Spring Summer 2022

Ini 7 Fashion Show Terbaik di Milan Fashion Week Spring Summer 2022

PARAPUAN
Ditanya Soal Kemungkinan Nikah Siri, Begini Jawaban Ria Ricis dan Teuku Ryan

Ditanya Soal Kemungkinan Nikah Siri, Begini Jawaban Ria Ricis dan Teuku Ryan

PARAPUAN
Alami Toxic Productivity, Berikut 4 Cara Efektif Mengatasinya

Alami Toxic Productivity, Berikut 4 Cara Efektif Mengatasinya

PARAPUAN
Punya Banyak Stok Daging Sapi di Rumah? Berikut Tips agar Kualitasnya Tetap Awet dan Segar

Punya Banyak Stok Daging Sapi di Rumah? Berikut Tips agar Kualitasnya Tetap Awet dan Segar

PARAPUAN
WWF Kenalkan Produk Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Acara Ngopi Bareng NOVA

WWF Kenalkan Produk Minyak Kelapa Sawit Berkelanjutan dalam Acara Ngopi Bareng NOVA

PARAPUAN
Perhatikan! Ini Tanda-Tanda Kamu Mengalami Toxic Productivity

Perhatikan! Ini Tanda-Tanda Kamu Mengalami Toxic Productivity

PARAPUAN
Hati-hati, 6 Efek Samping Jahe Jika Dikonsumsi dalam Kondisi Ini

Hati-hati, 6 Efek Samping Jahe Jika Dikonsumsi dalam Kondisi Ini

PARAPUAN
Baik untuk Kesehatan Jantung, Coba Konsumsi 6 Makanan Sehat Ini

Baik untuk Kesehatan Jantung, Coba Konsumsi 6 Makanan Sehat Ini

PARAPUAN
Mengenal Kepribadian ISFJ, Sosok yang Peka dan Berhati Hangat

Mengenal Kepribadian ISFJ, Sosok yang Peka dan Berhati Hangat

PARAPUAN
4 Cara Efektif Mengatasi Overworking Agar Bisa Bekerja Tanpa Lembur

4 Cara Efektif Mengatasi Overworking Agar Bisa Bekerja Tanpa Lembur

PARAPUAN
Sosok Angela Merkel, Kanselir Perempuan Pertama di Jerman yang Tegas

Sosok Angela Merkel, Kanselir Perempuan Pertama di Jerman yang Tegas

PARAPUAN
Terjadi di Usia 20an hingga 30an, Ini 6 Masalah Kesehatan Mental yang Jarang Diketahui

Terjadi di Usia 20an hingga 30an, Ini 6 Masalah Kesehatan Mental yang Jarang Diketahui

PARAPUAN
komentar
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.